LAUNCHING GENUS : Rektor Unusa, Prof Dr Ir Achmad Jazidie memukul gong pertanda dibukanya pusat tau kantor urusan internasional disaksikan jajaran rektorat di Auditorium Unusa, Jumat (22/11). DUTA/endang

GLOBAL Engagement of Nahdlatul Ulama  University of Surabaya (Genus) menjadi gerbang bagi Unusa untuk bisa menuju dunia internasional. Dengan adanya Genus nantinya akan banyak kerjasama dengan kampus luar negeri. Mulai level Asean, Asia hingga banyak benua di dunia. Genus pun diresmikan, Jumat (22/11) oleh Rektor Prof Dr Ir Achmad Jazidie, M.Eng.

Prof Achmad Jazidie menegaskan Genus ini lebih tepatnya adalah kantor urusan internasional. Di situ akan mengurusi segala hal yang berkaitan dengan segala hal yang berkaitan dengan kerjasama internasional, pertukaran pelajar, dosen dan banyak lainnya.

Dibukanya Genus ini dengan tujuan agar ke depan Unusa bisa memainkan peran yang lebih aktif lagi untuk program-program internasional. “Sejak dua tahun terakhir kita sudah melakukan  banyak kerjasama internasional. Dengan banyak kampus di luar negeri,” ujar Prof Jazidie.

Diakui Prof Jazidie, mahasiswa, dosen dan sivitas akademika Unusa sudah mulai aktif untuk mendukung program ini. “Kita harapkan ke depan akan bisa lebih intens lagi,” tandasnya.

Wakil Rektor I Unusa Prof Kacung Marijan Drs MA PhD mengatakan Genus merupakan institusi Unusa yang akan menjadi frontline untuk kerja sama internasional. Unusa tak ingin hanya jago kandang saja.

Ke depannya ingin membangun kerja sama networking dengan beberapa universitas yang bagus di luar negeri. “Dan sejak tahun lalu kita sudah melakukannya dengan beberapa universitas di LN. Keberadaan GENUS ini, kita harapkan kerja sama semakin bagus dan erat,” kata Prof Kacung.

Prof Kacung berharap apa yang dilaksanakan bukan sekadar MoU saja, namun sebuah kerja sama yang riil untuk dilaksanakan sehari-hari. Seperti pertukaran dosen atau mahasiswa, kerja sama dalam penelitian atau pun publikasi. Kerja sama yang sudah dirintis di antaranya dengan negara Taiwan, Malaysia, Philipina, Australia, dan rencananya dengan China.

“Setelah masuk dalam 100 besar universitas di Indonesia, Unusa ingin menjadi salah satu universitas penting di tingkat Asean. Dan itu tentu membutuhkan waktu untuk merealisasikan target di tahun 2026 berada di kelas level Asean,” kata Prof Kacung.

Direktur Genus, Wiwik Afridah mengatakan Genus sudah ada sejak awal tahun. Namun baru dilaunching kali ini karena bertepatan dengan agenda tersebut  sekaligus penetapan sebagai English Day.

“Dengan resmi dilaunching, GENUS diharapkan bisa meningkatkan gairah internasionalisasi di level perguruan tinggi. Suasana internasionalisasi di Unusa bakal semakin baik,” katanya.

Wiwik yang juga Kaprodi S1 Kesehatan Masyarakat ini mengatakan setiap universitas harus memiliki Kantor Urusan Internasional (KUI).

Keberadaan KUI untuk membantu mahasiswa asing yang akan sekolah di Unusa . Atau sebaliknya dosen dan mahasiswa kita bisa menuntut ilmu ke LN, bisa dalam bentuk pertukaran pelajar, workshop atau short course (kursus singkat).

“Sejak 2017 penilaian perguruan tingga tidak hanya dinilai dari kegiatan akademik yang semata hanya dilakukan di LN tapi sekaligus kerja sama internasional PT,” katanya.

Selama ini kegiatan yang sudah dilakukan antara lain implementasi kerja sama dengan SEAMEO dalam bentuk sea teacher. Unusa mulai mengikuti program sea teacher batch 7 tahun lalu dan batch 8 tahun ini. “Alhamdulillah mahasiswa Unusa prodi S1 PGSD meraih prestasi The Best Blog of 8th batch sea teacher pada Oktber 2019,” kata Wiwik.

Ia mengatakan setiap tahun program sea teacher mengirimkan  mahasiswa dari FKIP Unusa. Kehadiran GENUS  diharapkan  semakin banyak kegiatan bersifat internasionalisasi, selain program sea teacher.

“Rencana strategis yang dimiliki Unusa bahwa di periode tahun kedua setidakya Unusa dikenal di tingkat asean. Nanti periode ketiga Unusa dikenal di level internasional. Harapannya kita sudah siap untuk itu,” katanya.

Tiap PT memiilki rencana strategis lima tahunan. Unusa yang lahir sejak 2013 hingga 2018  bisa disebut sebagai jago kandang.

Periode berikutnya 2018-2022 Unusa mulai melaksanakan kegiatan internasionalisasi. Periode kedua ini Unusa mulai keluar halaman dengan menjalin kerja sama internasional di kalangan negara Asean.

“Pada 2022 hingga 2026 Unusa siap go internasional. Nah pada tahun 2026 Unusa bisa kokoh dan mempersembahkan kepada NU sebagai tahun emas. Artinya Unusa siap menyongsong dunia,” katanya.

Kerjasama yang sudah dilakukan Genus yakni kerja sama dengan negara lain seperti Australia, Philipina, Malaysia.

“Saat ini delegasi Unusa atas nama Prodi K3 dan Fakultas Kesehatan berkunjung ke universitas Malaysia untuk menindaklanjuti kerjasama student exchange yang sudah diinisiasi.  Sedangkan dua dosen Unusa juga sedang dikirim ke Taiwan untuk mengikuti program kerja sama,” pungkasnya.

Ajak Mahasiswa Berpikir Kreatif

Para pembicara yang hadir dalam talkshow cross culture for digital generation salah satunya adalah Akhyari Hananto selaku founder dari Good News from Indonesia. DUTA/endang

Dalam kesempatan itu, Unusa juga menggelar talkshow Cross Culture for Digital Generation. Dalam hal ini Unusa mengundang banyak perwakilan mahasiswa dari seluruh dunia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai kampus di Surabaya.

Dalam talkshow ini menghadirkan Akhyari Hananto selaku founder dari Good News from Indonesia untuk berbagi cerita tentang pengalamannya di dunia digital. Dikatakan Akhyari, Indonesia adalah pengguna internet aktif terbesar di dunia. Jumlahnya 171 juta.

Sayang dengan jumlah pengguna internet yang besar itu tidak diimbangi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan tentu saja negara.

“Kita contoh Korea Selatan. Mereka memanfaatkan cross culture innovation untuk mendongkrak perekonomian dari sektor pariwisata. Itu bisa dilakukan Korsel di era digital, kalau tidak mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Korea bisa mengeksplor budayanya mulai music, film hingga ke produk unggulannya. Bahkan, di setiap tayangan film dan drama Korea selalu menggunakan produk dalam negerinya.

“Semua by desain. Indonesia punya seperti itu. Kita punya Didi Kempot, Via Vallen yang biasa menyanyikan lagu Jawa tapi disukai banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dunia,” jelasnya.

Tidak hanya seni, tapi kuliner juga harus dieksplor. Dalam hal ini, Indonesia bisa menyontoh Thailand yang mana kulinernya selalu tersedia di seluruh restoran di Amerika. Padahal Indonesia juga kaya akan makanan tradisional. “Karena kita harus memadukan culture dengan creativity,” tukasnya. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry