
MOJOKERTO | duta.co – Mahasiswa semester 6 program studi D-IV Analis Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melaksanakan program terpadu yang menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas). Kegiatan dilakukandi Dusun Pekingan, Desa Sumbersono, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini menjadi sarana penerapan langsung ilmu pengetahuan dan keterampilan laboratorium medis yang telah diperoleh selama perkuliahan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat secara nyata.
Pelaksanaan kegiatan di lapangan dipimpin tiga mahasiswa, yaitu Vania Nur Ramadani, Imraatul Mukarramah, dan Winda Melindah, dengan pendampingan akademik dari dosen pembimbing lapangan, Prof Suprapto Maat dan Endah Prayekti.
Tema yang diangkat pada program ini adalah “Peningkatan Kesehatan Warga dan Lingkungan Melalui Pemeriksaan Rheumatoid dan Edukasi Cemaran Jamur Patogen pada Lingkungan.”
Pemilihan tema ini bertujuan untuk mengangkat dua isu kesehatan utama yang memiliki keterkaitan erat. Pertama, adanya risiko penyakit rheumatoid arthritis yang sering kali menyerang kelompok usia lanjut dan dapat berdampak pada kualitas hidup jika tidak terdeteksi sejak dini.
Kedua, keberadaan jamur patogen di lingkungan yang berpotensi menjadi sumber penyakit melalui udara, debu, atau kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi.
Sasaran kegiatan difokuskan pada warga Dusun Pekingan dengan prioritas utama kelompok lanjut usia (lansia) yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan sendi akibat faktor penuaan, penurunan imunitas, serta kebiasaan hidup yang belum sepenuhnya memperhatikan kesehatan sendi.
Selain itu, warga dewasa yang beraktivitas di lingkungan dengan potensi cemaran jamur, seperti petani, peternak, dan ibu rumah tangga, juga termasuk dalam kelompok sasaran.
Pemilihan sasaran ini dilakukan melalui observasi awal lapangan dan diskusi bersama perangkat desa, sehingga kegiatan dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat yang maksimal.
Kegiatan diawali dengan penyuluhan kesehatan yang menghadirkan narasumber Endah Prayekti. Materi disampaikan secara menarik dan interaktif, membahas berbagai jenis jamur patogen yang umum ditemukan di lingkungan, mekanisme penularannya, gejala awal infeksi, serta potensi risiko terhadap kesehatan.
Peserta juga memperoleh informasi mengenai langkah pencegahan yang mudah diterapkan, seperti menjaga kebersihan rumah, memastikan sirkulasi udara lancar, menghindari kelembapan berlebih, dan menggunakan pelindung sederhana saat berada di area berisiko. Penyampaian materi diperkuat dengan gambar, contoh kasus, dan sesi tanya jawab, sehingga suasana kegiatan berlangsung hidup dan partisipatif.
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) yang dilaksanakan di Balai Dusun Pekingan. Proses diawali dengan registrasi peserta dan pengecekan identitas, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah vena oleh mahasiswa KKN dengan pendampingan dosen pembimbing lapangan dan bidan desa.
Seluruh prosedur pemeriksaan mematuhi standar operasional, mulai dari penggunaan jarum steril sekali pakai, penerapan teknik aseptik, hingga pembuangan limbah medis secara aman. Sampel darah yang telah diambil kemudian dikemas dan dibawa ke Laboratorium Imunologi dan Kimia Klinik Unusa.
Di laboratorium, pemeriksaan RF dilakukan menggunakan peralatan yang sesuai standar diagnostik, dengan proses analisis yang teliti untuk memastikan keakuratan hasil. Data hasil pemeriksaan nantinya digunakan untuk memberikan umpan balik kepada warga, sekaligus menjadi bahan evaluasi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.
Respon masyarakat terhadap kegiatan ini sangat positif. Banyak warga yang hadir lebih awal sebelum acara dimulai, menunjukkan antusiasme mereka. Selama penyuluhan, peserta aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman pribadi, dan berdiskusi terkait pencegahan penyakit. Bagi sebagian warga, pemeriksaan ini menjadi pengalaman pertama mereka melakukan tes RF.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pemeriksaan, tetapi juga menjadi langkah awal bagi warga untuk lebih sadar akan kesehatan mereka, terutama dalam mencegah penyakit sejak dini melalui perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan lingkungan dari cemaran jamur patogen,” ujar Endah Prayekti.
Dengan menggabungkan pendekatan promotif melalui edukasi dan preventif melalui pemeriksaan laboratorium, program ini diharapkan dapat membentuk pola hidup sehat dan kesadaran kolektif di masyarakat.
Langkah sederhana yang dilakukan di tingkat desa ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang, menjadikan Dusun Pekingan sebagai contoh desa yang peduli terhadap kesehatan warganya sekaligus mampu memelihara lingkungan yang bersih dan bebas dari sumber penyakit. ril/hms





































