Gus Amang (sedang angkat tangan).

JOMBANG | duta.co – Di tengah sejuknya udara pagi Kota Santri, berita tentang dugaan korupsi di Perusahaan Daerah (Perumda) Perkebunan Panglungan terus bergulir. Masyarakat Jombang yang dikenal religius dan santun, kini kembali disadarkan bahwa bahkan di tanah lahirnya para ulama seperti Mbah Wahab, Mbah Hasyim dan Gus Dur pun, korupsi bisa tumbuh jika tidak diawasi.

Sudah berbulan-bulan isu ini menjadi perbincangan hangat di warung kopi, majelis ta’lim, hingga ruang-ruang keluarga. Tjahja Fadjari, mantan Direktur Perumda, kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negri Jombang dengan kerugian negara Rp.1,5 Mikiar. Namun, banyak warga merasa keadilan belum benar-benar ditegakkan.

Di tengah kegelisahan itu, suara jernih datang dari seorang tokoh muda Kader NU yang dikenal tegas tapi teduh, KH. Sholahuddin Fathurrohman, atau yang biasa disapa Gus Amang. Ia bukan hanya kiai, tetapi juga panutan bagi anak muda Jombang yang mendambakan perubahan.

“Asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung tinggi,” ujar Gus Amang. “Namun hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Kalau ada yang ikut bermain, siapapun dia, harus diproses. Ini bukan soal pribadi, ini soal masa depan Jombang.” Selasa (17/6).

Ucapannya mengalir bukan dari amarah, tapi dari cinta pada kota santri yang telah melahirkan begitu banyak tokoh besar. Baginya, membenahi Jombang dari dalam adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar.

“Masyarakat berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Semua ini bukan untuk menjatuhkan siapa-siapa, tapi agar Jombang bisa tumbuh dengan sehat,” lanjutnya, dengan nada penuh harap.

Di balik sorot matanya, tampak kesedihan. Seperti banyak warga lainnya, ia kecewa bukan karena satu orang jadi tersangka, tapi karena nilai-nilai kejujuran yang selama ini dijaga dalam pesantren, mulai luntur di ranah birokrasi.

Gus Amang tidak sendiri. Banyak tokoh lain, dari kalangan pemuda, akademisi, hingga ulama, mulai bicara. Bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan untuk mengingatkan bahwa negeri kecil bernama Jombang ini harus terus dijaga bukan hanya dengan doa, tapi juga keberanian berkata benar.

Kini harapan rakyat Jombang hanya satu: semoga penegak hukum tidak berhenti pada nama yang sudah ditetapkan. Karena keadilan bukan soal menghukum satu orang—tetapi membersihkan sistem yang sudah lama dibiarkan keruh. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry