
MOJOKERTO | duta.co — Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto genap berusia 27 tahun. Memasuki usia tersebut, UNIM tidak ingin menjadikan Dies Natalis sekadar seremoni hari jadi kampus. Momentum ini justru diarahkan untuk memperkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi, membumikan ilmu, meningkatkan inovasi, serta mempertegas keberpihakan kepada masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Dies Natalis ke-27 Universitas Islam Majapahit, Kamis (3/9/2026). Tahun ini UNIM mengusung tema “UNIM Berkarya untuk Negeri: Unggul, Berbudaya, Inovatif, Rahmatan lil ‘Alamin.”
Pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri Ketua Pembina Yayasan, jajaran pimpinan universitas, para dekan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa serta seluruh sivitas akademika UNIM.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selanjutnya sambutan Ketua Panitia Dies Natalis, Rektor Universitas Islam Majapahit dan Ketua Pembina Yayasan. Pemotongan tumpeng kemudian menjadi simbol dimulainya seluruh rangkaian Dies Natalis ke-27 UNIM.
Ketua Panitia Dies Natalis ke-27, Dr. Ahmad Hasan Afandi, mengatakan, rangkaian kegiatan tahun ini dirancang bukan hanya untuk memperingati perjalanan UNIM, tetapi juga menjadi ruang memperkuat sinergi akademik, pengabdian kepada masyarakat, inovasi dan pengembangan karakter mahasiswa.
“Dengan mengusung tema UNIM Berkarya untuk Negeri, kami ingin menghadirkan Dies Natalis bukan sekadar perayaan hari jadi universitas, tetapi sebagai ruang kolaborasi, penguatan nilai-nilai akademik, inovasi, kepedulian sosial, serta pengabdian nyata kepada masyarakat,” ujarnya.
Sebulan Penuh, UNIM Gelar Beragam Kegiatan
Berbagai kegiatan telah disiapkan sepanjang September 2026. Agenda tersebut melibatkan sivitas akademika sekaligus membuka ruang partisipasi bagi alumni, pelajar dan masyarakat.
Pada 3 September digelar pembukaan Dies Natalis ke-27. Kemudian 9 September dilaksanakan ziarah, doa dan tahlil di makam pendiri UNIM, Prof. Dr. Mahmud Zain.
Lomba Konten Kreatif “Ayo Kuliah di UNIM” berlangsung sepanjang 1-30 September. Selanjutnya bakti sosial pada 12 September dan Pemilihan Duta Kampus UNIM pada 14-15 September.
Pada 17 September, UNIM menggelar Podcast dan Sinergi Mahasiswa bersama Alumni. Kemudian Seminar Nasional P2M UNIM pada 22 September.
Tanggal 24 September diisi Lomba Mewarnai tingkat TK dan SD se-Mojokerto Raya. Pada tanggal yang sama hingga 25 September, digelar E-Sport Championship tingkat SMA, SMK dan MA.
Agenda berikutnya adalah UNIM Education and Innovation Festival pada 26 September. Sedangkan seluruh rangkaian Dies Natalis ke-27 UNIM akan ditutup dengan Jalan Sehat pada 30 September 2026.
Menurut Ahmad, rangkaian kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat eksistensi Universitas Islam Majapahit sebagai perguruan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada nilai religius dan budaya bangsa.
Rektor UNIM: Satukan Energi, Lipatgandakan Gotong Royong
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Majapahit, Dr. Mohammad Noor, mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan Dies Natalis sebagai momentum mempererat persatuan dan memperkuat kolaborasi.
“Melalui momentum yang luar biasa ini, saya selaku Rektor mengajak seluruh komponen sivitas akademika Universitas Islam Majapahit untuk menyatukan energi dan melipatgandakan semangat gotong royong,” katanya.
Ia meminta seluruh agenda Dies Natalis dilaksanakan dengan menjunjung tinggi sportivitas, kebersamaan dan profesionalisme.
Dengan memohon ridha Allah SWT, Bismillahirrahmanirrahim, seluruh rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-27 Universitas Islam Majapahit dengan tema “UNIM Berkarya untuk Negeri” secara resmi dinyatakan dibuka.
Rektor berharap seluruh agenda yang telah disusun tidak berhenti sebagai kegiatan internal kampus, tetapi mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi media penguatan kualitas pendidikan tinggi.
“Semoga Allah SWT senantiasa meridhai niat tulus dan langkah kita dalam memajukan pendidikan di tanah air. Selamat Dies Natalis ke-27 Universitas Islam Majapahit,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan dan antusiasme seluruh sivitas akademika yang hadir.
Ketua Pembina Yayasan: UNIM Harus Memuliakan Manusia
Pesan reflektif mengenai masa depan Universitas Islam Majapahit disampaikan Ketua Pembina Yayasan, Bakri Adnan Zain, sekaligus Wakil Wali Kota Mojokerto Dr. Rachman Sidarta Arisandi.
Menurutnya, UNIM harus tetap menjaga identitas sebagai kampus yang memuliakan manusia, termasuk mereka yang selama ini mungkin tidak memperoleh ruang dan perhatian.
“UNIM memuliakan manusia, termasuk mereka yang selama ini mungkin tidak pernah diperhitungkan. Karena itu, jati diri kita adalah kampus yang Cultural Religius, sebagaimana slogan yang selama ini kita pegang bersama,” ungkapnya.
Cak Sandi menegaskan, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di UNIM Mojokerto harus benar-benar membumi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“UNIM harus menjadi kampus yang ilmunya membumi, turun ke tengah rakyat.”
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh kehilangan arah dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya.
“Jangan sampai kita kehilangan arah sehingga tidak lagi memahami untuk siapa kita bekerja. Rasa syukur dan keikhlasan harus menjadi cara kerja kita dalam membangun universitas ini,” tegasnya.
Lahir 1999, UNIM Diminta Tetap Merawat Semangat Reformasi
Cak Sandi juga mengingatkan bahwa Universitas Islam Majapahit lahir pada 1999, bertepatan dengan era Reformasi.
Karena itu, semangat keberanian, perubahan dan keberpihakan kepada masyarakat yang lemah, menurutnya, harus tetap dirawat sebagai bagian dari karakter UNIM.
“Semoga kita tidak berhenti menjadi anak Reformasi yang terus merawat keberanian untuk berpihak kepada mereka yang lemah,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai tersebut menjadi refleksi perjalanan UNIM ke depan dengan menjadikan Rahmatan lil ‘Alamin sebagai kunci dalam setiap langkah pengabdian.
Memasuki usia ke-27, UNIM dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang mencetak lulusan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan manfaat di tengah masyarakat.
Karena itu, semangat “UNIM Berkarya untuk Negeri” menjadi penegasan bahwa keunggulan akademik, budaya, inovasi dan nilai religius harus berjalan beriringan.
Pada akhirnya, perjalanan Dies Natalis ke-27 Universitas Islam Majapahit bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah perguruan tinggi. Lebih dari itu, menjadi momentum untuk menjawab satu pertanyaan penting: seberapa jauh ilmu, karya dan keberadaan UNIM mampu memberi manfaat serta memuliakan manusia. (din)



































