SURABAYA | duta.co – Ada dua kebohongan besar Prof Yusril Ihza Mahendra menurut Habib Rizieq Syihab (HRS). Pertama, dia telah berbohong dengan mengatakan sering telpon-telponan dengan dirinya. Kedua, Yusril juga berbohong menyebut ‘Islam Prabowo Tidak Jelas’ dengan mengatasnamakan dirinya (Habib Rizieq Syihab).

“Jadi kalau Pak Yusril mengatakan sering telpon saya, sering komunikasi dengan saya, itu bohong, tidak benar,” jelas Habib Rizieq Syihab dalam wawancara khusus dengan Ustad Mawardi (FRONT TV) yang diunggah 1 April 2019 di laman Youtube terbaca duta.co Selasa (2/4/2019).

Apalagi, lanjutnya, “Kalau Pak Yusril bercerita Habib Rizeq mengatakan, bahwa, Islam Prabowo itu tidak jelas, kemudian dalam rekaman itu ada curhat menyindir-nyindir ijtima’ ulama, seolah-olah (diatur) oleh Prabowo dan sebagainya, itu semua cukup saya jawab dengan kata BOHONG. Sekali lagi, apa yang disampaikan Pak Yusril dalam rekaman tersebut adalah Kebohongan,” tambahnya serius.

Rekaman FRONT TV itu terus beredar. Wawancara Ustad Mawardi ini sengaja untuk mengkonfirmasi wawancara Yusril yang beredar di medsos. Tabayun itu isinya: Benarkah bahwa Yusril sering telpon dengan antum (HRS)? Dan benarkah HRS mengatakan Prabowo itu, Islamnya tidak jelas?

“Mengenai rekaman Pak Yusril yang sudah viral di mana-mana, beliau mengatakan katanya sering kontak-kontakan dengan ana (saya). Kemudian juga, katanya ana mengatakan Islamnya Pak Prabowo itu, tidak jelas, maka, di sini saya sampaikan, bahwa itu adalah BONHONG. Jadi tidak benar,” jelas HRS.

“Perlu saya sampaikan, selama 2 tahun saya hijrah ke tanah suci ini, saya hanya pernah berkomunikasi lewat telpon dengan Pak Yusril Ihza Mahendra hanya satu kali. Itu pun bukan dalam konteks Prabowo. Karena komunikasi ini terjadi dua tahun yang lalu. Artinya belum ada saat itu soal pencapres dan, belum ada koalisi, belum ribut-ribut soal pilpres.”

Menurut HRS, saat itu Yusril mengutus salah seorang kawannya yang bernama Agusrin, datang ke Saudi Arabia in, untuk bertemu dengannya dan meyampaikan pesan. Bahwa Pak Yusril sekitar  bulan Ramadhan, dua Ramadhan yang lalu, waktu itu, HRS masih baru 1 bulan hijrah ke tanah suci.

“Intinya disampaikan bahwa Pak Yusril diundang presiden ke Istana dan membicarakan beberapa agenda penting. Kemudian Pak Yusril menyampaikan bahwa dia akan diundang kembali oleh Bapak Presiden. Sehingga beliau perlu masukan-masukan, kira-kira saya ini , apa yang mau saya sampaikan kepada bapak presiden melalui Pak Yusril,” jelasnya.

Nah, saat itulah, tambah HRS, terjadi komunikasi. “Pak Yusril telpon saya, dia cerita pertemuannya dengan presiden, bla…, bla…, bla.., tetapi tidak saya perlukan isi ceritanya. Yang jelas Pak Yusril bertanya: Habib punya pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada Pak Presiden, karena saya akan jumpa lagi. Dan ini 2 tahun yang lalu, tidak ada hubungannya dengan Prabowo,” tambah HRS.

Nah, jelas HRS, saat itu saya masih ingat betul, saya sampaikan kepada Pak Yusril. Kalau anda ketemu dengan Bapak Presiden, berkaitan dengan kriminalisasi ulama dan aktivis, saya pikir anda sebagai ahli hukum perlu menyarankan kepada Pak Presiden soal abolisi (Penghapusan terhadap seluruh akibat penjatuhan putusan pengadilan pidana kepada seseorang red).

“Kalau memang beliau ingin menghentikan kegaduhan nasional, stop kriminalisa ulama, stop kriminalisai aktivis 212, dan itu bisa dilakukan dengan cara abolisi,” sarannya.

Kemudianm jelas HRS,  ada hal lain yang didiskusikan dengan Yusril saat melalui telpon, saat itu juga melalui utusannya yang bernama Agusrin tadi. “Bahwa, kalau Pak Yusril betemu dengan Bapak Presiden, sampaikan tiga amanat saya. Artinya satu amanat dengan tiga syarat,” begitu opermintaan HRS.

Kalau Presiden punya iktikad baik, meyetop segala kegaduhan, punya iktikad baik untuk berangkulan dengan umat Islam, “Ketika itu, saya punya tiga syarat. Syarat pertama, jangan biarkan penyerangan terhadap agama apa pun. Karena kita punya UU Antipenodaan agama. Kita punya Perpres, kita juga punya KUHP Pasal 156 huruf a. Artinya agama apa pun di Indonesia tidak boleh diserang, dinodai dinistakan. Saya minta siapapun yang menistakan agama, apapun, harus diproses melalui jalur hukum,” tegasnya.

Syarat kedua, ujar HRS, agar Pak Presiden menegakkan amanah, Tap MPRS nomor XXV Tahun 1966 tentang larangan komunis. Sehingga kita minta sesuai dengan amanat KUHP juga, bahwa para pengusung ideologi PKI atau yang melakukan berbagai kegiatan untuk memasarkan kembali ideologi PKI, ini harus ditindak secara hukum.

“Jadi buku-buku cetakan yang menyebarluaskan paham PKI harus dilarang, kegiatan yang mengupas untuk mengusung ideologi PKI harus dilarang. Ini sesuai undang-undang,” jelasnya.

Ketiga, kita minta agar  Bapak Presiden, tidak menjual aset negara kepada asing mau pun aseng, dan kita minta pada saat yang sama, pribumi diberikan kesempatan untuk bersaing secara sehat dengan asing maupun aseng.

“Jangan pribumi dimarginalkan. Jadi, kita tidak minta pribumi diprioritaskan, diistimewakan, tetapi diberi kesempatan yang sama, didorong dan dibantu agar pribumi bisa menjadi tuan di negeri sendiri,” urainya.

Ini tiga perkara penting, yang menurut HRS, ketiganya sudah disampaikan melalui Yusril maupun Agusrin untuk disampaikan ke presiden.

Cukup Saya Jawab Bohong

Lalu? Mereka tanya, bagaimana kalau tiga ini diterima oleh presiden? Apa imbalannya atau kompensasinya dari saya (HRS red.)? “Saya katakan terus terang, kalau tiga ini diterima dipenuhi oleh Pak Presiden, saya tidak akan ikut campur dalam urusan politik, saya tidak mau tahu dalam urusan Pilpres, Pilkada. Bahkan kita katakan dengan bahasa ekstremnya, kalau Jokowi mau jadi presiden sumur hidup sekali pun, kita tidak ikut campur. Yang penting islam jangan diganggu. Islam jangan diserang.”

“Jangan belum apa-apa Islam dihina, Islam dimarginalkan, pengajian di mana-mana dibatalkan. Ini serangan terhadap agama. Jadi kalau Islam tidak dihina, agama lain juga dihargai, jangan sampai dinistakan, kemudian PKI tidak dibiarkan untuk berkembang, begitu juga pribaumi diberi kesempatan untuk menjadi tuan di negeri sendiri, maka, saya mau kembali ke pesantren, saya mengajar santri dengan tenang, saya tidak mau ikut campur urusan politik.”

“Itu sudah kita sampaikan. Tetapi saya tidak paham, apakah Pak Yusril menyampaikan ke presiden atau tidak, kita tidak tahu. Itu urusan Pak Yusril. Yang penting, hanya itulah komunikasi saya dengan Pak Yusril, selama dua tahun saya ada di tanah suci,” tegasnya.

Jadi? “Jadi kalau Pak Yusril mengatakan sering telpon saya, sering komunikasi dengan saya, itu bohong, tidak benar. Apalagi kalau Pak Yusril bercerita Habib Rizieq mengatakan Prabowo itu islamnya tidak jelas, kemudian dalam rekaman itu ada curhat menyindir-nyindir ijtimak ulama seolah-olah diatur oleh Prabowo dan sebagainya, semuanya cukup saya jawab dengan kata BOHONG. Sekali lagi apa yang disampaikan Pak Yusril dalam rekaman tersebut adalah kebohongan,” tegasnya.  (FTtv)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.