TIM Relawan Unesa foto bersama rektor dan para wakil rektor sebelum diberangkatkan menuju daerah bencana di Pandeglang, Banten, 1 Februari 2019.

TIM Relawan Unesa foto bersama rektor dan para wakil rektor sebelum diberangkatkan menuju daerah bencana di Pandeglang, Banten, 1 Februari 2019.

SURABAYA | duta.co – Pada tahun 2018 beberapa daerah di Indonesia ditimpa bencana alam yang cukup dahsyat. Bencana-bencana tersebut mungkin berlangsung dalam hitungan jam atau hari, tetapi efek yang ditimbulkan justru memakan waktu yang lebih lama. Persoalan-persoalan pas­cabencana, seperti persoalan logistik, pendidikan, sosial dan ekonomi membutuhkan penanganan yang komprehensif dan kadang-kadang tidak bisa diselesaikan secara cepat.
Pemerintah sudah berusaha keras untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, tetapi kadang-kadang kompleksitas masalah di daerah bencana sulit untuk diurai. Oleh sebab itu pemerintah sangat membutuhkan peran banyak pihak, terma­suk perguruan tinggi. Sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki sumber daya yang memadai, maka Unesa merasa terpanggil untuk membantu pemerintah menangani permasalahan pascabencana di Lombok, Palu dan Pandeglang.
Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan MKes mewakili pergu­ruan tinggi negeri yang dipimpinnya mengatakan bahwa sedikit peran dalam penanggulangan bencana sangat berarti bagi para korban di wilayah bencana.
“Kami sadar, peran Unesa belum mampu menuntaskan seluruh permasalahan di daerah bencana. Tetapi kami berharap, peran Unesa di daerah bencana bisa memberi harapan baru dan bermanfaat bagi masyarakat,” ung­kapnya.
Pada 1 Februari 2019 Rektor Unesa  pun melepas keberangkatan re­la­wan Unesa menuju Kabupaten Pandeglang Banten. Sebagian besar relawan Unesa yang diberangkatkan pernah melakukan kegiatan tanggap bencana di Lombok dan Palu. Selain memberikan bantuan sembako, seragam sekolah dan alat tulis, relawan Unesa juga melakukan ke­giatan pendirian tenda sebagai hunian darurat, pengobaran sumur dan pem­buatan instalasi air bersih, pelayanan kesehatan dan pelatihan mitigasi bencana.
Sebagaimana kita ketahui, Pada tanggal 22 Desember 2018 terjadi bencana tsunami di Selat Sunda yang dipicu oleh fenomena alam yang terjadi di Gunung Anak Krakatau. Akibatnya banyak korban jiwa berjatuhan. Wilayah-wilayah yang berada di pesisir pantai Pandeglang Provinsi Banten dan Lampung Selatan menjadi daerah yang terdampak.
Salah satu wilayah di Kabupaten Pandeglang yang terdampak sangat parah adalah Kampung Kalapa Koneng, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis. Kampung Kalapa Koneng me­mang tidak banyak dikenal orang sebagaimana wilayah Kawasan Eko­no­mi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Orang mengenal Tanjung Lesung karena korban jiwa akibat bencana tsunami banyak ditemukan di sana. Bantuan dari pemerintah dan swasta sudah banyak yang masuk ke Tanjung Lesung dan sekitarnya. Oleh sebab itu Rektor Unesa, Prof Nurhasan, meng­instruksikan tim relawan Unesa untuk masuk ke daerah selain Tanjung Lesung.
 
Sumur Bor dan Instalasi Air Bersih
Relawan Unesa bersama warga membahas sumur bor dan instalasi air.

Persoalan air kadang menjadi masalah yang pelik bagi korban bencana. Air yang tadinya mudah diperoleh tiba-tiba menjadi langka. Padahal air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup. Oleh sebab itu, tim relawan Unesa yang ditugaskan ke daerah bencana selalu memprioritaskan ketersediaan air bersih.
Di Kampung Kalapa Koneng yang terletak di pinggir pantai tim relawan Unesa yang dipimpin Dr. Agus Wiyono membuat sumur bor. “Biasanya masyarakat sini lebih senang sumur konvensional daripada sumur bor. Tapi saat tsunami terjadi, air laut masuk ke dalam sumur dan mencemari air sumur, sehingga air tidak bisa dikonsumsi. Oleh sebab itu kami buatkan sumur bor yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujar Agus.
Dari titik sumur ini dibuatkan instalasi air yang terhubung ke  tandon di sisi utara masjid. Selanjutnya air dari tandon dapat dialirkan ke tempat wudhu dan kamar mandi Masjid Kampung Kalapa Koneng. Selain itu, pihak madrasah diniyyah dan warga sekitar juga bisa memanfaatkan air dari sumur bor tersebut. “Instalasi air kami buat“di beberapa titik supaya masyarakat mudah mengaksesnya,” kata Abdul Hafidz, koordinator instalasi air.
Selain membuat sumur bor dan instalasi air bersih di Kampung Kalapa Koneng, relawan Unesa juga membuat sumur bor dan instalasi air bersih di Kampung Pematang Laban. Kampung ini masih berada di Desa Banyuasih dan berjarak sekitar 1.500 meter dari Kampung Kalapa Koneng.
Kampung Pematang Laban merupakan kampung relokasi bagi beberapa korban bencana tsunami di Kampung Kalapa Koneng. Setidaknya ada 7 kepala keluarga yang bersedia pindah ke Kampung Pematang Laban. Sebelumnya di Kampung ini sudah tinggal beberapa kepala keluarga.
Relawan Unesa bersama tokoh masyarakat Kampung Kalapa Koneng di depan instalasi air.

Secara geografis letak Kampung Pematang Laban berada di ketinggian atau di punggung bukit. Untuk mencapai kampung ini tidaklah mudah. Jalan menuju kampung masih berupa jalan makadam.
“Karena berada di ketinggian, maka proses pengeboran tidak mudah. Beberapa kali pengeboran mengalami kegagalan,” kata Agus Wiyono.  Hal ini disebabkan tidak ditemukannya sumber air atau kadangkala debit air sangat kecil. Sumber air yang layak baru ditemukan setelah dilakukan upaya pengeboran yang kelima. Sumber ini dianggap layak oleh warga karena debit air cukup besar dan bisa mencukupi kebutuhan air warga yang baru saja direlokasi.
Menurut Abdul Hafidz, air bersih di Pematang Laban tidak hanya dimanfaatkan oleh warga yang tinggal di tempat relokasi yang baru, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh warga yang lebih dulu tinggal di situ.
 
Layanan Kesehatan dan Bantuan Obat-Obatan
Layanan kesehatan yang pernah dilakukan oleh tim relawan Unesa di Palu kembali dilakukan di Pandeglang Banten. Bentuk layanannya adalah pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan kepada warga Kampung Kalapa Koneng Desa Banyuasih. Layanan kesehatan yang dipimpin oleh dr. Ananda Perwira Bakti ini memberikan bantuan kesehatan di SDN Banyuasih 3 mulai  pagi hingga sore hari.
dr. Ananda memeriksa kesehatan warga Kampung Kalapa Koneng .

Kehadiran layanan kesehatan tim relawan Unesa ini sangat penting bagi masyarakat Kampung Kalapa Koneng. Di kampung yang termasuk daerah terpencil ini tidak ada fasilitas kesehatan. Untuk menuju Puskesmas terdekat diperlukan waktu yang tidak sebentar.
 
Relawan Unesa Latih Siswa SD Hadapi Bencana
Di desa Banyuasih ada satu sekolah dasar yang terdampak langsung bencana tsunami. Sekolah dasar tersebut adalah SDN Banyuasih 3. Letak SD ini hanya beberapa meter dari bibir pantai. Untungnya tsunami menerjang sekolah ini ketika pembelajaran sudah usai.
Siswa SDN Banyuasih 3 diajak mengenali lingkungan dan potensi bencananya.

Posisi SDN Banyuasih 3 yang berada di bibir pantai dan tak jauh dari Gunung Anak Krakatau rawan terkena dampak bencana, seperti gempa, gelombang pasang dan tsunami. Oleh sebab itu Lutfi Saksono dan kawan-kawan melakukan edukasi mitigasi bencana kepada guru dan siswa SDN Banyuasih 3. “Edukasi yang dilakukan menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan memanfaatkan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah,” jelas Lutfi.
Hal pertama yang dilakukan di SDN Banyuasih 3 oleh tim relawan Unesa adalah orientasi lingkungan. Siswa dan guru diajak untuk melakukan identifikasi jenis bencana yang kira-kira bisa terjadi di lingkungan sekitar sekolah mereka. Jika bencana terjadi sewaktu-waktu, pemahaman yang baik terhadap lingkungan di sekitar mereka akan membantu mereka untuk melakukan penyelamatan. Mereka juga tak lagi panik, sebab mereka sudah paham yang harus mereka lakukan.
Edukasi mitigasi bencana juga perlu dilakukan di kelas. Siswa dan guru dapat mengidentifikasi benda-benda yang dapat mencelakakan mereka atau benda-benda yang dapat mereka gunakan untuk penyelamatan. Contohnya pemanfaatan kolong meja untuk berlindung sementara, jika gempa terjadi.
Mitigasi dilakukan tidak hanya untuk mengantisipasi bencana di lingkungan sekolah, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk menyikapi bencana yang terjadi di tempat lain. Tidak selamanya guru dan siswa berada di lingkungan sekolah. Kadang-kadang mereka berada di tempat lain yang jauh dari rumah mereka.
Latihan mitigasi secara rutin merupakan pembiasaan yang baik, apalagi untuk siswa sekolah dasar. Salah satu cara yang efektif untuk mengenalkan mitigasi bencana kepada siswa adalah melalui kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu materi mitigasi sudah terintegrasi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru. Edukasi mitigasi yang dilakukan oleh Unesa di Pandeglang Banten merupakan bentuk pengejawantahan dari instruksi Menristekdikti yang meminta perguruan tinggi untuk aktif melakukan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana kepada masyrakat.
 
Bantuan Tenda sebagai Hunian Sementara
BANTUAN: Tim relawan Unesa saat menyerahkan bantuan untuk warga terdampak tsunami di Banten diterima Kepala Sekolah SDN Banyuasin 3.

Di Kampung Kalapa Koneng tim relawan Unesa memberikan bantuan tenda kepada masyarakat. Tenda yang berukuran 4m x 6m ini  bisa ditempati 5-6 orang. Koordinator bantuan tenda, Edy Sulistiyo, menjelaskan, ada 7 tenda yang disumbangkan oleh tim relawan Unesa dan langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Kalapa Koneng dan sekitarnya.
SENANG: Penyerahan bantuan tenda dan alas tidur berupa kasur lipat yang disambut senang oleh para korban bencana tsunami pandeglang.

Selain tenda tim relawan Unesa juga menyerahkan 21 kasur lipat dan kipas angin kepada masyarakat. Kipas angin sangat dibutuhkan oleh pengungsi yang tinggal di tenda, karena pada siang hari suhu di dalam tenda panas dan membuat penghuninya tidak merasa nyaman berada di dalam tenda. Kasur lipat tidak hanya dimanfaatkan oleh warga yang mendiami tenda, tetapi juga diberikan kepada warga yang tinggal di rumah semi permanen yang dibangun oleh beberapa donatur lain. Warga sangat membutuhkan alas tidur, karena alas tidur yang terkena tsunami tidak bisa dimanfaatkan lagi.    adv

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry