SURABAYA | duta.co – Mahasiswa dari 65 organisasi di Surabaya akan menggelar demo, hari ini Kamis (26/9/2019).

Mahasiswa dari Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabayq juga tak ketinggalan turut serta turun ke jalan.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo memastikan Unair tidak melarang mahasiswa ikut serta untuk turun ke jalan.

“Kita kita juga tidak menginstruksikan untuk ikut. Itu meruoakan ekspresi personal mahasiswa, bukan lembaga,” ujar Suko.

Yang penting kata Suko, mahasiswa Unair yang ikut demo tidak boleh melanggar aturan hukum, tidak boleh merusak fasilitas dan tidak menganggu ketertiban umum.

Sementara ITS, melalui surat edaran (SE) yang ditandatangani Rektor Mohammad Ashari berisi tiga poin penting. Pertama secara institusi ITS tidak terlibat dalam aksi itu.

Juga pada hari di mana aksi demo digelar yakni 26 September 2019, kegiatan akademik tetap berjalan seperti biasa alias tidak libur. Sehingga mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Ketiga adalah partisipasi dalam aksi demo ini diminta tidak melibatkan ITS dalam bentuk apapun. Segala hal dalam aksi ini menjadi tanggung jawab pribadi.

Kebuntuan Komunikasi Politik

Suko Widodo yang juga pakar omunikasi politik Unair mengaku prihatin dengan aksi demo ini. Dia menilai ada kebuntuan komunikasi politik.

“Jika ini tak segera teratasi akan menjadi preseden tak bagus bagi perkembangan demokrasi,” ujarnya.

Harusnya memang ada ruang komunikasi yang tepat.  Yang memungkinkan ekspresi mahasiswa ditampung dan dikanalisasi dengan baik.

Para politisi hendaknya legowo untuk bisa mengakomodasi keinginan mahasiswa. Sementara,  mahasiswa juga jangan terlalu eforia. Sampaikan misinya dengan argumentasi yang rasional.

“Saya juga kasihan aparat yang terpaksa harus berbenturan dengan mahasiswa,” ungkapnya.

Dalam kebuntuan ini, diperlukan kehadiran Dewan Masyarakat. Yakni sebuah forum yang menyertakan multi pihak.

Mulai guru, akademisi, budayawan, rohaniawan, industriawan, buruh, petani nelayan, politisi, aparat, pemerintah dan sebagainya. “Dan dari hati ke hati saling membuka diri,” tukas Suko.

“Kita butuh dan perlu segera berkomunikasi. Sebagai ruang ekspresi dan menguraikan persoalan bersama,” kata Suko yang saat ini sedang berada di London, Inggris.  end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry