“Trump bersama komunitas ultransionalis kini dinilai justru ancaman terbesar Amerika. Akan membalik dari negara kampiun demokrasi menjadi negara neofasisme. Dari negara humanisme menjadi kapitalisme total yang serakah,”

Oleh Anwar Hudijono*

“AMERIKA sedang dalam proses menuju kehancuran oleh media sosial,” begitu pejabat inteljen Rusia.

Pernyataan itu memang hanya ternukil dalam film Red Sparrow. Sebuah film tentang operasi  inteljen Rusia. Tetapi film itu sendiri buatan Amerika tahun 2018 dengan sutradara Francis Lawrence. Diangkat dari novel yang ditulis oleh Justin Haythe pada tahun 2013.

Melalui Red Sparrow, Haythe sebenarnya memberikan warning (peringatan) kepada masyarakat Amerika tentang bahaya yang sedang mengancam negaranya layaknya pedang damocles yang sudah di dekat leher dan siap memeganggal.

Haythe memilih menyampaikan pesan melalui novel karena banyak pembacanya. Dan ada waktu khalayak merenungkan dan mendiskusikannya.

Cara Haythe mengingatkan khalayak melalui  novel, juga dilakukan P.W Singer dan August Cole yang menulis novel Ghost Fleet. Novel itu menukilkan warning bahwa Indonesia bisa hancur pada tahun2030.

Sayang, banyak orang Indonesia yang tidak pernah baca novel tapi  ‘kemenyek’ berkomentar. Lantas menganggap itu hanya fiksi tanpa arti, bahkan igauan semata.

Warning Haythe semakin hari semakin mendekati kenyataan. Dunia media sosial Amerika kini diharubirukan oleh pengobaran sentimen rasialisme, konflik agama dan etnis, kegaduhan sosial, pembakaran radikalisme dan ekstremisme, perangsangan separatisme, ujaran kebencian, hoax dan sebagainya. Fatalnya, dari dunia maya kini merangsak memasuki dunia nyata.

Contoh mutakhir adalah tragedi penembakan di Sinagoge (tempat ibadah agama Yahudi) di Pittsburg, Sabtu, 27 Oktober lalu. Tersangkanya adalam Robert Bowers (48), warga setempat. Tragedi ini menyebabkan 11 orang tewas dan 6 luka-luka, yang semuanya orang Yahudi yang melakukan sembahyang Hari Shabbat.

Robert Bowers adalah prototipe Kelompok Supremasi atau Ultranasionalis Amerika yang saat ini tumbuh sangat pesat. Mereka punya pandangan ideologis bahwa masyarakat Kulit Putih Protestan adalah komunitas tertingi. Mereka merasa pemilik paling sah Amerika.

Mereka anti Yahudi. Membenci Islam. Tidak suka Katolik. Membenci dan merendahkan etnik dan ras lain seperti kulit hitam, espanik, kuning. Mereka anti imigran.  Gerakan pertumbuhan mereka mengarah kepada bangkitnya kembali Ku Ku Klan, sebuah kelompok superfanatik ultranasionalis, rasialis dan chauvanis.

Menurut Hidayatullah.com— Robert Bowers  ini dikenal  pengguna Gab.com, situs media sosial yang mempromosikan dirinya sebagai benteng kebebasan berbicara yang kerap dikaitkan dengan supremasi kulit putih dan ekstremis.

Bowers menggugah puluhan pesan anti-Semit (Yahudi) sebulan terakhir termasuk penolakan terhadap Holocaust dan teori konspirasi tentang orang Yahudi yang menghancur planet dan mendorong migrasi massal. Dia menuduh orang Yahudi mengendalikan AS.

Ia juga menyebut para imigran sebagai “penjajah”. Ia juga menyebarkan meme rasis, dan menegaskan bahwa komunitas Yahudi adalah “musuh orang kulit putih”. Dalam postingannya di profil Gab, dia juga mengutip Injil, “orang-orang Yahudi adalah anak-anak setan. (Yohanes 8:44) – —- Tuhan Yesus Kristus datang dalam daging.”

Beberapa hari sebelumnya, kelompok ultranasionalis yang menjadi pendukung fanatik Presiden Trump mengirim paket bom ke pentolan-pentolan Partai Demokrat seperti mantan Presiden Obama, Capres Hillary Clinton. Intinya, mereka menuduh Partai Demokrat tidak move on atas kekalahannya di Pilpres. Maka jawabannya adalah dengan bom.

Api ultranasionalisme Amerika ini dikobarkan oleh Presiden Trump. Pada musim kampanye Pilpres Amerika tahun 2016. Trump mengaduk-aduk emosional-primordialisme asalnya yaitu Kristen Konservatif. Dia mengubek-ubek endapan psikologis masyarakat dengan ati imigran, sentimen benci China, Islamfobia.

Amerika Bukan Indonesia

Trump memelihara basis sentimen ini untuk mempertahankan kekuasannya dari ancaman impeachment dalam banyak kasus seperti skandal inteljen Rusia, perselingkuhan, kebohongan. Dia terus menjual kebohongan, hoax, perang dagang dengan China, mengancam Iran, membuli Turki, perang urat saraf dengan Rusia. Ke dalam dia terus menyerang dan menistakan orang-orang Partai Demokrat, mengolok-olok pers, menyinyiri gerakan humanisme dan demokrasi.

Dari semua itu Trump memang berhasil membangun pendukung yang sangat fanatik dan cenderung ultranasionalis. Trump nyaris dikultuskan. Ibaratnya kalau di Indonesia: pejah gesang nderek (hidup mati ikut red) Trump. Dan Trump menikmati pendukung ultranasionalismenya itu untuk memperkokoh hegemoniknya, mengumbar kesombongannya, menebar ancaman.

Trump bersama komunitas ultransionalis kini dinilai justru ancaman terbesar Amerika. Akan membalik dari negara kampiun demokrasi menjadi negara neofasisme. Dari negara humanisme menjadi kapitalisme total yang serakah. Tentu saja kini juga muncul kelompok-kelompok perlawanan.

Perang antarmereka kini terus berlangsung di media sosial. Perang terbuka di dunia nyata sepertinya tinggal menunggu waktu. Masa depan Amerika bisa jadi seperti rumah kayu yang kokoh dan besar, kuat menahan badai, tetapi kini ada seekor rayap yang diikuti komunitasnya sedang memangsa rumah kayu itu.

Begitulah ramalan tentang Amerika. Bukan Indonesia.  Sekali lagi bukan Indonesia. Allahu a’lam bissawab.

*Anwar Hudijono adalah wartawan senior.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.