suasana jamaah haji perempuan. (FT/ANNAJAHNET)

NEW DELHI | duta.co – Ironis! Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengklaim bahwa pemerintahannya telah menghapus pembatasan untuk membawa wali laki-laki atau mahram bagi perempuan muslimah saat melakukan ibadah haji. Karuan kebijakan menjadi topik perdebatan di kalangan komunitas muslim.

Sekretaris Darul Uluum Deoband, Maulana Mufti Abul-Qasim Nomani, mengatakan bahwa Islam melarang Muslimah beribadah haji tanpa mahram. Dia mengatakan, bahwa dirinya tidak ingin berkomentar mengenai sikap pemerintah pusat. Karena komentar yang dibuat oleh Modi didasarkan pada urusan administratif dan diplomasi politik. Bukannya mengomentari soal komentar Modi, Mufti Abul Qasim mengatakan bahwa ia hanya bisa memberikan penetapan syariah mengenai perempuan yang hendak berhaji.

“Sudah jelas disebutkan dalam hadist bahwa wanita tidak bisa bepergian tanpa mahram. Jika pemerintah mengizinkan perempuan pergi haji tanpa mahram, maka itu akan langsung ada campur tangan dalam urusan agama, pemerintah semestinya tidak melakukannya,” kata Mufti Abul Qasim, seperti dilansir dari Siasat, Selasa (2/1/2018).

Sedangkan untuk wanita yang ingin pergi haji tanpa mahram, Mufti Abul Qasim mengatakan, hal itu tidak diragukan lagi sebagai pelanggaran terhadap syariah Islam. Kalaupun pemerintah memberikan izin, ia menyarankan agar wanita Muslimah menghindari hal tersebut. Dia mengatakan, bahwa umat Islam tidak pernah ingin menunaikan kewajiban agama apapun dengan mengadopsi cara-cara yang tak sesuai syariah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh melakukan perjalanan jauh (safar) sejauh perjalanan sehari semalam kecuali dengan mahramnya.” (HR. Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 1339)

Hadits di atas mengandung faedah, hukumnya haram jika wanita bersafar (menempuh perjalanan jauh) tanpa adanya mahram. Itu berarti siapa yang tidak mendapatkan mahramnya, maka ia haram melakukan safar, apa pun safarnya termasuk safar ibadah.

Jika wanita itu benar-benar tidak memiliki mahram yang menemaninya, maka gugur kewajiban hajinya (walau wanita tersebut mampu secara finansial dan fisik, -pen). Inilah pendapat mayoritas ulama yang menyelisihi pendapat sebagian ulama Malikiyah dan pendapat Syafi’iyah.

Apakah kalau dipaksakan hajinya tetap sah? Sebagian besar ulaam menghukumi hajinya tetap sah, tetapi ia telah melakukan dosa besar. (em,rep)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.