Guru Besar ke-57 UINSA, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati (tiga dari kanan) bersama rekan-rekannya sebelum pelantikan guru besar, Rabu (7/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya menambah jumlah guru besarnya. Rabu (7/3) Rektor UIN Sunan Ampel, Prof. Abd. A’la melantik guru besar ke-57 dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati.

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, mengakui jika jumlah guru besar masih belum ideal. Hingga saat ini jumlah gubes UINSA baru 57 orang atau 10 persen dari  total jumlah dosen. Padahal anjuran dari Kementerian Riset, Teknologi fan Pendidikan Tinggi jumlahnya minimal 25 persen dari total jumlah dosen.

Karena itu UIN Sunan Ampel Surabaya berupaya untuk mendorong para dosen yang bergelar Doktor untuk meneruskan pendidikannya hingga menjadi profesor. “Kita dorong terutama untuk penerbitan jurnal internasional berindek scopus,” ujar Prof A’la.

Prof A’la juga mengakui tidak srmua program studi (prodi)  di UINSA memiliki guru besar. Apalagi ptodi-prodi baru sepertu sain dan teknologi.

“Kita akan pacu terus untuk menulis jurnal agar jumlah guru besar itu terus bertambah,” tandas Prof A’la yang tidak  mau menyebutkan kapan taret ideal jumlah guru besar itu bisa dipenuhi oleh UIN Sunan Ampel Surabaya.

Yang pasti, Prof A’la menginginkan semua guru besar di UIN Sunan Ampel Surabaya berasal dari segala disiplin ilmu. Apalagi saat ini UIN Sunan Ampel Surabaya sudah memiliki dua jurusan tidak hanya keagamaan tapi juga jurusan umum. “Kita dorong terus untuk menjadi guru besar,” tukas Prof A’la.

Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati . DUTA/endang

Sementara itu, Prof Husniyatus menyampaikan pidato pengukuhannya dengan judul Integrasi Identitas Etik Pendidikan Islam, Third Way Concept Memadukan Basis Pijak Integrasi Ilmu, Kemanusiaan Paripurna dan Pembentukan Citizenship Skills.

Prof Husniyatus adalah guru besar ke-11 di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Sebagai pakar pendidikan Islam, ibu dua anak ini ingin menyampaikan radikalisme saat ini sudah masuk dalam dunia pendidikan mulai sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

“Saya sudah pernah melakukan penelitian itu. Di mana anak-anak sekarang yang masih duduk di bangku sekolah sudah mulai ada bibit-bibit terhadap radikalisme, di mana mereka siap memberontak kalau ada yang melarang paham yang dia anut. Ini kan berbahaya. Mereka sudah siap jadi pengantin dalam tanda kutip,” jelasnya.

Karena itu, Prof Husniyatus mencoba untuk mengembangkan bahan ajar yang Rahmatan Lil Alamin. Di sinilah besarnya peran seorang pendidik.

Guru harus terlebih dulu dipahamkan bagaimana menjelaskan kontek ayat dan hadist tentang jihat itu disampaikan secara utuh bukan dengan sepotong-sepotong. “Karena ayat dan hadist itu tidak untuk kekerasan,” tuturnya.

Selain itu, guru juga harus melakukan pendekatan kepada siswa dengan inklusif bukan ekslusif.

“UIN Sunan Ampel sebagai pencetak guru wajib untuk memberikan bekal pada mahasiswa tentang paham-paham radikalisme ini. Sehingga ketika mahasiswa sudah menjadi guru bisa menyampaikan apa yang benar kepada siswa-siswinya,” tandasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.