Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya, dua mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) saat menunjukkan hasil kreatifitas mereka ciptakan karya dari batang bambu menjadi sebuah Karya yang Futuristik . Duta/Wiwik

SURABAYA | duta.co – Dua mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), Arby Maulana dan Prasetiya Marani Kartajaya raih predikat ‘The Best Trend Implementation Design’ dalam ciptakan karya dari batang bambu pada ajang kompetisi Design Camp #1.

Kompetisi ini merupakan rangkaian acara Gelar Desain bertajuk “Bamboo Experience for Creative Millennials” yang diselenggarakan Asosiasi Desain Produk Indonesia (ADPI) di UKDW, Yogyakarta.

Kompetisi diikuti oleh 32 mahasiswa desain produk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari seluruh Indonesia. Arby dan Prasetiya sebagai mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2017 menciptakan “Bambookoe” dari kreasi bambu berupa lampu tidur dan stationary.

Karya “Bambookoe” dibuat multifungsi. Ukiran pada produk lampu tidur memiliki filosofi yang terinspirasi dari icon kota Surabaya seperti patung Sura dan Baya, bambu runcing, anyaman, dan kobaran api.

“Selain digunakan sebagai lampu tidur, bagian bamboo runcing dapat digunakan meletakkan kuas atau alat tulis. Kemudian ada ukiran api yang menunjukkan semangat arek-arek Suroboyo yang memiliki history perjuangan di kota Pahlawan. Terakhir saya membuat anyaman untuk memperkenalkan anyaman bambu,” ungkap Arby, Jumat (24/5/2019).

Pada kompetisi ini, seluruh peserta diajak untuk mengunjungi pengrajin bambu di Sentra Kerajinan Bambu Sendari. Peserta diminta untuk menciptakan kreasi bambu dengan desain yang kreatif serta inovatif dari sudut pandang milenial. Kompetisi diawali dengan workshop ‘Kerajinan Bambu Sinta’ dan peserta diminta belajar bagaimana cara mengolah bambu dan mempromosikan bambu menjadi produk yang tidak dianggap murah dan memiliki nilai jual.

“Melalui kompetisi ini, kami dapat memotivasi pekerja pengrajin bamboo untuk menciptakan terobosan baru di era milenial. Jadi selain kami mendapat ilmu terkait pengolahan bambu secara tradisional dari mereka, kami juga memberikan feedback berupa ide baru yang bisa diproduksi pengrajin nantinya,” jelas Arby.

Sedangkan produk stationary terdiri dari beberapa tempat yang dapat digunakan untuk menyimpan peralatan kantor atau alat tulis, jam tangan, kacamata, dan masih banyak yang lain.

Proses perencanaan produk dilakukan oleh Arby dan Prasetiya dengan menggambar serta mempersiapkan produk selama kurang lebih dua minggu. Setelah eksplorasi dan terjun secara langsung di tempat pengrajin, membuat tim Ubaya menjadi lebih termotivasi untuk membuat produk bamboo yang bermanfaat dan diminati banyak orang.

Karya “Bambookoe” oleh tim Ubaya dinilai memiliki proses pembuatan yang cepat serta sederhana namun memiliki estetika yang berdaya jual tinggi. Hal ini membuat tim Ubaya mendapat predikat ‘The Best Trend Implementation Design’ karena melihat unsur keindahan, memiliki waktu produksi yang cepat, dan bisa diimplementasikan oleh pengrajin bambu.

“Saya berharap melalui desain karya produk yang telah kami buat, material bambu bisa lebih dikenal masyarakat luas dan bisa mengubah persepsi masyarakat bahwa bambu bisa menjadi produk yang elegan. Bambu juga mampu menjadi karya futuristik,” pesan Prasetiya.

Wyna Herdiana, ST, MDs, selaku Kepala Program Studi Desain Produk FIK Ubaya sekaligus Dosen Pembimbing Kompetisi menuturkan bahwa Arby dan Prasetiya telah menunjukkan bahwa bambu bisa menjadi karya produk yang bagus.

“Disini mahasiswa belum pernah menggunakan bambu sebagai bahan prototype produk karena bentuk bambu yang silinder dan kurang luwes sehingga sulit jika ingin dibentuk menjadi produk yang tidak bulat, berbeda dengan rotan. Saya harap mahasiswa yang lain bisa terinspirasi dari karya Arby dan Prasetiya untuk bermain membuat produk menggunakan bambu,” pungkas Wyna. wik

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.