Ketua Yarsis yang juga Steering Committe Muktamar ke-34 NU, Prof Mohammad Nuh (kiri) bersama Wakil Rektor 1 Unusa, Prof Kacung Marijan saat seminar Menyongsong Abad ke-2 Masa Pengabdian Nahdlatul Ulama di Unusa, Sabtu (11/12/2021). DUTA/ist

Dari Seminar Menyongsong Abad ke-2 Masa Pengabdian Nahdlatul Ulama di Unusa

SURABAYA | duta.co – Muktamar Nahdlatul Ulama (Nu) ke-34 yang sebentar lagi akan digelar, akan menjadi muktamar terakhir di 100 tahun NU pertama dan awal di 100 tahun kedua.

Karena itu semua pihak harus berkomitmen agar muktamar ini bisa digelar dengan sejuk. Karena dikatakan Wakil Ketua BPNU yang juga Steering Committee Muktamar ke-34,Prof Mohammad Nuh, hanya NU organisasi yang bisa bertahan hingga 100 tahun. “Tongkat estafet yang dikembangkan Hasyim Asyari ini di terakhir menuju 100 tahun jangan sampai gagal. Kalau gagal, pertandingan akan selesai,” kata Prof Nuh

Prof Nuh menjadi pembicara Seminar Menyongsong Abad ke-2 Masa Pengabdian Nahdlatul Ulama yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (11/12/2021) itu mengatakan NU saat 100 tahun akan menghadapi beberapa tantangan. Di antaranya bonus demografi, teknologi digital dan climate change (perubahan iklim).

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Dalam muktamar nantinya akan dirumuskan transformasi intangible asset (aset tak berwujud) NU menjadi real asset (aset yang berwujud) dan real power (kekuatan nyata). Intangible asset NU yang sangat besar misalnya nama besar NU itu sendiri diubah agar bisa menjadi aset dan kekuatan nyata.

“Resolusi Jihad misalnya. Kalau bicara itu yang dapat pahalanya siapa? ya tentunya pendahulu-pendahulu yang menggaungkannya. Tapi generasi sekarang apa yang bisa dilakukan dengan resolusi jihad supaya bisa juga dapat pahalanya? Ya itu dengan mewujudkan menjadi Unusa, menjadi RSI Ahmad Yani, RSI Jemursari, RSI di Gresik, sebentar lagi di Bangkalan, Bondowoso dan daerah-daerah lainnya,” jelasnya.

Dikatakan Prof Nuh, orang NU tidak cukup hanya memiliki ide bagus. Tapi ide bagus itu harus diwujudkannya agar bisa dilahirkan dan dikembangkan. “Jadilah orang yang bisa mengubah tantangan menjadi kesempatan sehingga bisa mencari jawaban. Orang yang bisa mencari jawaban adalah orang yang pernah mencoba. Orang yang pernah mencoba itu adalah yang yang punya pengalaman, orang yang expert. Orang yang expert adalah yang tahu persoalah, tahu jawaban dan bisa mengeksekusi persoalan dan jawaban itu. Dan NU masih defisit orang yang expert itu,” tukas Prof Nuh.

Orang NU harus terus belajar dan belajar tentang mengetahui sesuatu (learn to know), untuk melakukan sesuatu (learn to do), untuk menjadi sesuatu (learn to be) supaya memiliki profesi tertentu, untuk bisa hidup bersama (to live together) untuk bisa membangun bangsa serta belajar untuk bisa terus berlajar (learn to learn).

Senada dengan Prof Nuh, Dr H Nadirsyah Hosen, Ketua Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia, juga menekankan pentingnya membentuk manusia yang cerdas yang bisa mencari solusi atas masalah yang dihadapi dengan inovasi.

Dikatakannya memasuki 100 tahun NU, harus mendorong dilakukannya transformasi digital NU. NU harus melihat transformasi digital di negara-negara berkembang, Jepang misalnya. Negeri Matahari terbit itu sudah mendeklarasikan Society 5.0 yakni apa yang disebut supersmart sociery (masyarakat yang sangat cerdas). “Ini tujuannya membentuk masyarakat yang cerdas yang bisa membuat masyarakat manusia bisa.mencari solusi dari bergaai persoalan yang dihadapi dengan berbagai inovasi seperti artificial intellegence, robot dan big data,” katanya.

Dikatakan Nadirsyah, memasuki era 5.0 justru di banyak pondok pesantren masih dilarang membawa handphone. Memang handphone ada jeleknya karena nantinya santri memiliki akses yang luar biasa terhadap teknologi. “Ini kan ironis,” tandasnya.

Ketika di Jepang memasuki era supersmart society, maka semua warganya harus berada di era itu. sedangkan di Indonesia justru semua era masih terjadi. di mana masyarakat masih ada yang berada di era masyarakat 1.0 yang masih berburu (hunting).

Ada pula yang masih di posisi masyarakat 2.0 yakni agriculture society (pertanian). Masih juga ada di 3.0 yang mana pabrik menggantikan tenaga manusianya dengan mesin atau robot. Ada pula yang berada di era 4.0 yang masyarakatnya berada di era digital. “Bahkan yang 5.0 atau supersmart society itu juga ada di Indonesia. Lengkap pokoknya. Lima-limanya semua ada sehingga terjadi ketimpangan luar biasa,” tukasnya.

Karenanya kata Nadirsyah, transformasi digital NU harus terus didorong. Memang nantinya akan terjadi resistensi penolakan. Karena masyarakat NU akan merefleksikan keberagaman yang masih ada di level perburuan, pertanian, industri dan informasi.Tidak sesuatu yang utuh,” tukasnya.

Karena kata Nadirsyah saat ini teknologi sudah tidak bisa lepas dari kehidupan manusia termasuk anak-anak muda. Anak muda saat ini lebih mempercayai seuatu informasi yang diposting selebriti medsos dengan pengikut dan pelanggan yang banyak dibandingkan yang lain. “Apa yang diposting Atta Halilintar dianggap lebih besar dibandingkan apa yang diposting di NUChannel,” tulas Nadirsyah.

Transformasi Digital untuk Kewirausahaa

Pengusaha Chairul Tanjung yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini menegaskan NU harus mengedepankan transformasi digital agar nantinya bisa memahami digital. Ketika sudah memahami digital maka akan sangat mendukung kewirausahaan.

Karena dikatakan pemilik jaringan bisnis Trans Corp ini, saat ini dunia sedang dihadapkan bukan hanya kondisi pandemi Covid-19 tapi disrupsi digital. Ini harus dicermati, karena kalau tidak bisa mengalami ketertinggalan ekonomi.

“Covid-19 ini juga membuat akselerasi disrupsi digital jadi terhambat. Memang di sisi lain teknologi sudah masif misalnya non tunai sudah sangat masif, remote working di mana kerja tidak hanya di kantor bisa telemedicine karena takut ke rumah sakit dan sebagainya, di sisi lain sangat tertinggal,” ujar CT panggilan akrab Chairul Tanjung.

Ketertinggalan transformasi digital itu justru terlihat pada sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). Covid-19 kata CT, membuat 82 persen UMKM terdampak sangat buruk. Karena dari data 76 persennya UMKM belum tersentuh digitalisasi.
“Kalau yang sudah tersentuh bisa bertahan, yang tidak tersentuh ini sangat banyak jumlahnya,” tukasnya.

Karenanya, NU, kata CT jangan anti terhadap transformasi digitalisasi karena dengan cara itu, warga NU bisa meningkatkan pengetahuan terutama kewirausahaan. ‘

Dalam seminar yang digelar secara hybrid ini juga dibahas masalah Aswaja yang menghadirkan KH Anwar Iskandar selaku Wakil Ketua Rois Syuriah PWNU Jawa Timur.

Rektor Unusa, Prof Dr Ir Achmad Jazidie mengatakan digelarnya seminar ini bagian dari kepedulian perguruan tinggi NU dalam memberi masukan dan pemikiran bagaimana langkah strategis NU dalam memasuki masa seratus tahun ke depan.

“Kami ingin memberikan sumbangsih pemikiran untuk NU ke depan. Sebagai perguruan tinggi NU dan dipandang sebagai gudangnya intelektual, maka pemikiran-pemikiran strategis harus muncul dan mewarnai NU dalam perjalanan serratus tahun ke depan,” katanya.

Seminar ini, kata Jazidie menambahkan, merupakan refleksi dari apa yang sudah dilakukan NU selama ini dan memproyeksikan apa yang harus dilakukan berikutnya. “Ini adalah cara Unusa dalam memberikan masukan sekaligus mewarnai organisasi NU untuk bisa lebih maju lagi sekaligus memberikan peran lebih dominan di masa depan,” katanya.

Nantinya semua hasil pemikiran para pakar dalam seminar ini akan dibawa ke Muktamar ke-34 NU yang akan digelar di Lampung. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry