Ketua tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya Malang, Dr Hipolitus Kristoforus Kewuel MHum.

MALANG | duta.co – Universitas Brawijaya (UB) melalui tim doktor mengabdinya akan membangun museum flagship yang mencerminkan identitas kampus. Ketua tim Doktor Mengabdi, Dr Hipolitus Kristoforus Kewuel MHum, menjelaskan museum flagship UB berbeda dengan yang lain karena bersifat universal bukan partial.

Hipolitus menjelaskan berdasarkan hasil studi banding  tim DM terkait museum universitas baik nasional dan internasional, hampir semua mengembangkan flagship yang bersifat partial. Sehingga konsep flagship UB yang bersifat universal menjadi salah satu poin pembeda yang bisa diandalkan.

“UB ingin museum yang berbeda dengan museum-museum di universitas lain yang pada umumnya mereka mengambil tema di bidang ilmu tertentu atau partial. Nah UB tidak ingin yang partial, namun ingin museum yang mencakup semua bidang ilmu atau universal,” kata Hippo.

Dia menambahkan, museum UB nantinya didesain sesuai bentuk dan isinya. Untuk bentuk museum terdiri dari ruang pamer artefak untuk memamerkan artefak-artefak asli maupun replika dari masa kejayaan Raja-Raja Brawijaya dan ruang ekshibisi sebagai tempat pamer hasil studi civitas akademika berdasarkan hasil eksplorasi lapangan karena inspirasi dari artefak-artefak di ruang pamer.

Dengan demikian, menurut Dr. Hipolitus, Museum UB akan terus berdinamika sehingga menjadi museum yang tidak saja menghadirkan masa lampau, tetapi juga masa kini dan masa depan melalui hasil-hasil studi.

“Itulah sebabnya, museum UB akan lebih cocok mendapat julukan Museum Tumbuh,” jelasnya.

Dekan FIB Prof Dr Agus Suman SE DEA dalam FGD bersama Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja sama, Prof Dr Ir Moch Sasmito Djati MS mengatakan rencana pembangunan flagship UB melalui museum ini perlu diseriusi oleh pimpinan UB dengan mulai memikirkannya sebagai bagian dari master plan pengembangan UB dalam tahun-tahun yang akan datang.

Flagship juga memiliki fungsi praktis sebagai media bagi UB untuk ikut serta dalam persaingan global.  Menurutnya, kalau tidak ada strategi khusus, sebuah lembaga akan sulit memiliki daya saing yang diperhitungkan,” kata Agus Suman.

Senada dengan Agus Suman, Prof Sasmito Djati menambahkan sebagai salah satu universitas besar di Indonesia, sudah saatnya UB memiliki  flagship yang membedakannya dari universitas-universitas lain baik nasional maupun internasional.

Ditegaskannya, hal ini membutuhkan pemikiran serius dan strategi jitu agar flagship itu betul-betul unik dan jelas pembedanya.

“Kalau semua warna merah, lalu kita juga berwarna merah, maka kita akan hilang. Kita perlu cari sesuatu yang lain, kita perlu tampil beda dari yang lain supaya tampak,” jelasnya memberi ilustrasi.

Ditambahkannya bahwa flagship UB haruslah flagship yang tidak bersifat parsial tetapi universal untuk memberi gambaran holistik tentang semua aktivitas pengembangan keilmuan yang ada di civitas akademika UB.

“Hal ini perlu dipikirkan secara serius. Salah satu jalan yang paling mungkin adalah membangun flagship yang mendasarkan diri pada nilai (value) yang pasti bersifat universal. Nilai-nilai itu mungkin bisa kita bisa gali dari semangat raja-raja Brawijaya yang telah menjadi nama universitas ini,” tegasnya. (dah/Humas UB)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry