Gus Ali (kiri) dan Habib Taufiq. (FT/Youtube)

SURABAYA | duta.co – Ketua Umum Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah (PPKN), H Ali Azhar SH, MHum mendesak pemerintah tegas dalam memberantas radikalisme dan terorisme. Indonesia, katanya, sudah masuk zona merah.

“Pemerintah jangan setengah hati. Diakui atau tidak, di negeri ini terdapat banyak lembaga pendidikan radikal. Mereka mengatasnamakan pesantren, tetapi tidak mau mengakui Indonesia. Ini harus diberantas secara tuntas, jika kita masih ingin menyaksikan NKRI ke depan,” demikian Gus Ali panggilan akrab Ali Azhar kepada duta.co, Selasa (15/5/2018).

Masih menurut Gus Ali, kalau soal mengutuk, semua orang pasti mengutuk keras terhadap aksi pengeboman yang terjadi di Surabaya kemarin. Mereka ini biadab, tidak beradab dan tidak berprikemanusiaan. Tidak ada agama yang mengajarkan demikian. Tetapi, mengutuk saja tidak cukup.

“Nyatanya doktrinisasi ideologi yang melahirkan radikalisme, masih terjadi di mana-mana. Pemerintah tidak boleh tutup mata, bukankah pernah disampaikan ada belasan lembaga mengatasnamakan pesantren tetapi radikal, dan ironisnya sampai sekarang mereka aman-aman saja,” tegasnya.

Oleh karenanya, PPKN mendesak pemerintah segera menyempurnaan dan menerbitkan UU Anti Terorisme. Apalagi seperti disampaikan presiden sudah dua tahun drafnya masuk ke meja DPR RI. Lalu pertanyaannya, ada apa kok bias berlarut-larut? “Saya khawatir ada oknum-oknum DPR yang membawa agenda tersendiri, berusaha menghadang regulasi tersebut. Sementara yang lain tidak paham, karena saking repotnya rebutan kursi,” pungkasnya.

Masih menurut Gus Ali, pemerintah juga harus mengantisipasi gerakan-gerakan atas nama HAM, atau bahkan jargon anti Orde Baru. Belakangan muncul komentar miring, pengetatan terhadap aksi teroris selalu disebut mirip Orba. “Ini sengaja dibangun oleh mereka agar bisa bertahan,” jelasnya.

Hal yang sama disampaikan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, lewat ceramahnya yang beredar luas di youtube. “Islam bukan ajaran membunuh, menghancurkan, mensyirikkan, mengkafirkan. Jangan bergabung dengan orang-orang yang demikian,” tegasnya.

“Seakan-akan kalau sudah mengkafirkan para sahabat menjadi hebat, mengkafirkan istri nabi, mengkafirkan auliya Allah menjadi hebat. Jangan sekali-kali duduk dengan orang dusta semacam ini,”  lanjut Habib Taufiq dalam video pendek berdurasi 3:24 menit ini.

Habib Taufiq kemudian mengajak kepada seluruh yang hadir.  “Doakan umat Islam bersatu, bukan bergabung dengan kelompok orang yang saling bermusuhan. Sekarang ini fitnah ada di mana-mana. Dengarkan baik-baik ketika Rasulullah menjelaskan siapa orang Islam itu? Orang Islam itu adalah kalau orang Islam lainnya selamat dari ganggunan lisannya maupun gangguan tangannya,” tegasnya.

“Mulut penuh dengan caci maki, tetapi mengaku menyatukan Islam yang sejati. Suka mengkafirkan orang Islam, mau menyatukan Islam yang sejati. Tangan banyak berlumuran darah, membunuh umat Islam, katanya jihad membela umat Islam. Mana Islamnya? Muslim adalah di mana orang Islam lainnya selamat dari gangguan lisan dan gangguan tangannya,” demikian Habib Taufiq.

Ia kemudian minta semua melihat fakta di Irak, Palestina, Libya, Yaman, dll. “Itukah yang disebut pejuang Allah swt? Tidak, Islam adalah yang mengajarkan perdamaian, Islam mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menjadikan rahmat di antara sesama umat Islam.”

Lalu bagaimana solusinya? “Kita kadang-kadang heran terhadap pemerintah. Dibuat Densus 88 untuk memberantas teroris. Kita setuju! Tapi ideologinya, ajarannya, yang membuat teroris harus juga ditumpas di Indonesia. Harus diberhentikan,” katanya serius.

“Orang dua, tiga, empat ditangkap, selesai! Tetapi pondoknya mengeluarkan 2000 orang, 4000 orang yang akan membuat kacau negara ini. Tidak bisa demikian, kalau Anda ingin memberantas teroris, tutup pondok-pondok yang mengajarkan teror, kebencian terhadap umat Islam lainnya. Ayo umat Islam bersatu, kita adalah orang yang sama, berada di satu shof yang sama, Islam ahlussunnah,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry