(Catatan Reflektif Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Tanbihu Al Mughtariin karya Syeikh Abdul Wahab Asy Sya’rani; Kamis, 29 Januari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

DALAM tradisi tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah, manusia tidak dipahami sebagai makhluk yang selalu suci, tetapi sebagai pejalan, ‘musafir ilallah’, pejalan menuju Allah. Kadang ia tegak, kadang tersandung. Kadang lurus, kadang tergelincir, kadang jatuh terlalu dalam. Karena itu, menjadi orang baik atau buruk bukan sekadar soal citra lahir, melainkan pilihan batin yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. Fussilat: 46:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا

Artinya: “Barang siapa berbuat kebaikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa berbuat kejahatan, maka (akibatnya) kembali kepada dirinya sendiri.”

Ayat ini tidak sedang menakut-nakuti, tetapi mendidik kesadaran tanggung jawab bahwa pilihan hidup itu tidaklah pernah netral. Dan Allah tidak menutup jalan pulang bagi siapa pun. Yang ditutup justru sering kali adalah hati manusia itu sendiri.

Kelalaian: Dosa yang Tak Disadari

Para masyayikh mengingatkan, bahaya terbesar bukan selalu maksiat besar, melainkan ghaflah, kelalaian yang membuat hati mati rasa. Dalam Tanbīh al-Mughtarrīn, Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya‘rani mengurai bagaimana manusia sering terperangkap pada perkara-perkara yang tampak wajar: syahwat yang tak dikendalikan, kesenangan dunia yang berlebihan, dosa yang diremehkan, serta panjang angan-angan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اتِّبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.” (HR. Ahmad)

Panjang angan-angan membuat manusia merasa selalu punya waktu, hingga taubat terus ditunda. Padahal, para sufi berkata:

طُولُ الْأَمَلِ يَنْسِي الْآخِرَةَ

“Panjang angan-angan membuat lupa akhirat.”

Istighfar: Nafas Orang Beriman

Di tengah kelalaian itu, Allah tidak memerintahkan manusia untuk putus asa, tetapi kembali. Jalan pulang itu bernama istighfar. Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10)

Di sinilah pentingnya istighfar. Bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi ketukan pelan di pintu qalbu agar tidak mengeras. Para kiai kampung sering berpesan: istighfar itu bukan tanda orang rusak, justru tanda hati masih hidup. Bukan milik orang berdosa saja, tetapi nafas orang sadar.

Ciri-ciri Hati yang Gelap

Syeikh Abu Turab رحمه الله berkata,

مِنْ عَلامَاتِ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ: قِلَّةُ الْخَوْفِ مِنَ الذَّنْبِ، وَفُتُورُ الطَّاعَةِ، وَعَدَمُ التَّأَثُّرِ بِالْمَوْعِظَةِ

“Di antara tanda gelapnya hati adalah: sedikitnya rasa takut terhadap dosa, melemahnya semangat ibadah, dan tidak terpengaruh oleh nasihat.”

Syeikh Abu Turab رحمه الله menggambarkan hati yang telah gelap bukan dengan metafora neraka, tetapi dengan tanda-tanda keseharian yang sering tak disadari. Ciri-ciri itu adalah: tidak lagi takut berbuat dosa, sulit khusyuk dalam ibadah, nasihat masuk telinga kanan keluar telinga kiri, dan yang paling berbahaya, tidak merasa kehilangan ketika ketaatan menjauh. Hati seperti ini, kata beliau, laksana kanvas yang rusak; seindah apa pun warna kebenaran, tak akan menempel dengan baik.

الْقَلْبُ كَاللَّوْحِ، إِذَا فَسَدَ لَمْ يَقْبَلِ النَّقْشَ

“Hati itu seperti kanvas; jika rusak, ia tak lagi mampu menerima lukisan.”

Dalam keadaan demikian, manusia sering merasa masih baik-baik saja. Padahal justru itulah awal kebinasaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Jika seorang hamba berbuat dosa, maka dititikkan satu titik hitam di hatinya.” (HR. Tirmidzi)

Iblis dan Penyakit Hati

Iblis celaka bukan karena ia tak mengenal Tuhan. Ia tahu Allah, bahkan berdialog langsung. Tetapi ia binasa karena penyakit hati: takabbur, ujub, enggan menyesali kesalahan, menyalahkan takdir, dan akhirnya putus asa dari rahmat Allah. Ia jatuh, tetapi menolak untuk mengakui bahwa ia jatuh. Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Baqarah: 34:
أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Ia enggan dan menyombongkan diri, maka ia termasuk golongan kafir.”

Dan para ulama merumuskan sebab kebinasaan Iblis:

هَلَكَ إِبْلِيسُ بِالْكِبْرِ، وَتَرْكِ النَّدَمِ، وَالْعُجْبِ، وَلَوْمِ الْقَدَرِ، وَالْيَأْسِ مِنَ الرَّحْمَةِ

“Iblis binasa karena takabbur, tidak menyesali dosa, ujub, menyalahkan takdir, dan putus asa dari rahmat Allah.” Ia jatuh, tetapi tidak mau pulang. Berbeda dengan Nabi Adam عليه السلام.

Nabi Adam عليه السلام dan Jalan Taubat

Nabi Adam juga tergelincir. Ia juga melanggar. Namun bedanya, Adam tidak berdebat dengan Tuhannya. Ia mengakui dosa, menyesalinya, mengoreksi diri, segera bertaubat, dan, ini yang paling menentukan, tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Mari kita memahami doa Nabi Adam AS yang diabadikan dalam QS Al-A’raf: 23):

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Allah mengabadikan doa ini dalam Al Quran bukan tanpa tujuan, melainkan sebuah penegasan bahwa doa ini bukan sekadar kalimat biasa, tetapi pengakuan jiwa yang jujur dâri seorang hamba yang telah atas lalai dan perbuatan dosa yang telah dilakukan.

Dalam tradisi NU, kisah Nabi Adam selalu dibaca bukan sebagai cerita kegagalan, melainkan kisah harapan. Bahkan perpisahan panjang Nabi Adam dan Ibu Hawa berakhir di Jabal Rahmah, bukit kasih sayang, seolah Allah ingin mengajarkan bahwa taubat sejati selalu berujung pada rahmat.

Para sufi menyimpulkan jalan bahagia Adam sebagaimana diterangkan oleh Sang Guru, KH. Ali Masykur Musa dalam edisi Ngaji Qalbu pagi ini:

الِاعْتِرَافُ، وَالنَّدَمُ، وَالْمُحَاسَبَةُ، وَالْمُبَادَرَةُ بِالتَّوْبَةِ، وَحُسْنُ الظَّنِّ بِاللّٰهِ

“Mengakui dosa, menyesal, mengoreksi diri, segera bertaubat, dan berbaik sangka kepada Allah.”

Sebagaimana Allah ﷻ menegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 222 :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِين

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”

Menjaga Rahasia Dosa

Para ulama kita juga mengingatkan adab penting dalam bertaubat: dosa tidak untuk diumbar kepada manusia. Membukanya sering kali menimbulkan fitnah, merusak kehormatan, dan menambah dosa baru. Sebagaimana diingatkan oleh para ‘arif billah, para guru-guru kita tentang adab penting ini:

مَنْ سَتَرَ ذَنْبَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللّٰهِ فَهُوَ فِي عَافِيَةٍ

“Siapa yang menutup dosanya antara dirinya dan Allah, maka ia berada dalam keselamatan.”

Sebagaimana juga diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

“Seluruh umatku diampuni kecuali orang-orang yang membuka aib dosanya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi kepada Allah, dosa justru harus diceritakan dengan jujur dan penuh penyesalan. Karena di hadapan Allah, pengakuan adalah kemuliaan; di hadapan manusia, sering kali menjadi kehinaan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Refleksi Kontemplatif

Di sinilah jalan sufistik NU menemukan keseimbangannya, yakni tidak menormalisasi dosa, tetapi juga tidak memutus harapan. Tidak sibuk menghakimi, tetapi juga tidak membenarkan maksiat. Yang dijaga bukan sekadar amal lahir, melainkan kesadaran batin. Akhirnya, setiap dari kita akan jatuh pada satu pertanyaan yang sama, yakni apakah kita ingin menjadi seperti Adam, jatuh lalu pulang, atau seperti Iblis, jatuh lalu membela diri? Jawabannya tidak terletak pada seberapa sering kita terjatuh, tetapi pada seberapa jujur kita kembali.(*)

#NgajiQalbu
#AliMasykurMusa
#TanbihulMughtarrin
#MerawatHati

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry