
“Langkah Washington ini muncul tak lama setelah Trump melunak dari ancaman sebelumnya terhadap Iran.”
Oleh: M Sholeh Basyari
TRUMP tampak maju mundur, jadi atau tidak; menyikat Iran. Gagalnya agen-agen Amerika dan Israel memobilisasi demonstran di Iran untuk menjatuhkan rezim Khamenei, membuat geram sekaligus gentar Trump.
Kegagalan ini terangkai oleh jatuhnya pesawat siluman F-35 Amerika yang dioperasikan Israel, Starlink yang on-off hingga pesimisme para penasehat militer senior presiden Amerika paling nyentrik ini.
Trump Geram Tapi Gentar
Trump tampak gentar. Meski begitu dia juga terlihat geram menghadapi Iran. Sikap geram Trump terbaca, setelah Presiden Amerika Serikat itu mengonfirmasi bahwa armada besar angkatan laut AS sedang bergerak menuju kawasan Teluk, dengan Iran menjadi fokus utama pengawasan Washington.
Kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One usai menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump mengatakan Amerika Serikat terus memantau perkembangan situasi di Iran. Ia menegaskan kehadiran militer tersebut bersifat antisipatif di tengah meningkatnya eskalasi dengan Teheran.
Meski demikian, di sisi lain seperti dikutip aljazeera.com, (23/01), Trump menyatakan masih berharap situasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Pernyataan ini sejalan dengan laporan media AS yang menyebutkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok kapal serangnya dialihkan dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah. Armada tersebut diperkirakan tiba di kawasan itu dalam beberapa hari ke depan.
Langkah Washington ini muncul tak lama setelah Trump melunak dari ancaman sebelumnya terhadap Iran, menyusul klaim bahwa Teheran memberikan jaminan tidak akan mengeksekusi para demonstran anti-pemerintah. Trump bahkan menyebut ancamannya telah mencegah eksekusi lebih dari 800 orang, meski klaim tersebut dibantah oleh otoritas Iran.
Di sisi lain, Trump kembali membuka peluang dialog dengan kepemimpinan Iran. Namun, ia menegaskan garis merah AS tetap sama, yakni program nuklir Teheran.
Pernyataan tersebut merujuk pada serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, ketika Washington bergabung dalam konflik 12 hari bersama Israel. Saat itu, AS juga melakukan peningkatan kekuatan militer secara signifikan di kawasan Timur Tengah.
Merespon hal tersebut, Presiden Iran Peringatkan AS Serangan kepada Ayatollah Ali Khamenei Berarti Perang Skala Penuh (harb wasi’ah nithaq).
Selain itu, Pezeskhian juga memperingatkan semua serangan yang diarahkan ke Iran akan memicu respons keras.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita (Ayatollah Ali Khamenei), berarti perang skala penuh dengan bangsa Iran,” tulis Pezehskian di media sosial X, dikutip dari aljazeera.com.
Sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan bahwa Teheran akan merespons keras jika kembali diserang. Dalam kolom opininya di Wall Street Journal, Araghchi menegaskan Iran tidak akan ragu membalas dengan seluruh kemampuan militernya.
Iran Bisa Berubah
Rasa gentar Trump terhadap Iran bukan tanpa alasan. Merujuk perang Vietnam (1955-1975) dan inovasi AS ke Afghanistan (2001-2021) adalah trauma laten bangsa Amerika. Di dua medan tersebut sedadu AS babak belur; mundur membawa kekalahan.
Sementara secara geopolitik dan ekonomi, meningkatnya ketegangan AS–Iran berpotensi memberi dampak lanjutan terhadap stabilitas kawasan, harga energi global, serta sentimen pasar keuangan internasional.
Dari sudut militer dan keamanan kawasan, komandan senior Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, menggerak Trump. Seperti dikutip almayadeen (surat kabar ahlul bait pro-Iran, pada Sabtu (24/1/’26) menyebut;
“Kali ini kami akan memperlakukan setiap serangan — terbatas, tidak terbatas, bedah (surgical), kinetik, atau apa pun istilah yang mereka gunakan — sebagai perang habis-habisan terhadap kami, dan kami akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikannya,” gertaknya.
Akankah Iran Bernasib seperti Venezuela? Atau sebaliknya, Amerika ketiban sial seperti dalam perang Vietnam dan inovasi ke Afghanistan, kita tunggu.(*)
*M SHOLEH BASYARI adalah Direktur ekskutif center strategic on Islamic and international studies (CSIIS), Jakarta, dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo.





































