BANYUWANGI | duta.co – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi mencatat serapan pupuk subsidi pada triwulan I Tahun 2026 mencapai dikisaran 28 persen dari total alokasi, dengan mayoritas diserap petani padi dan jagung.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir. Danang Hartanto menyampaikan, pemerintah pusat mengalokasikan empat jenis pupuk subsidi untuk wilayah Banyuwangi antara lain Urea, NPK,ZA dan pupuk organic.

“Kuota pupuk bersubsidi yang diterima Banyuwangi yang terbanyak adalah Urea dan ZA karena mayoritas petani kita menanam padi dan jagung,” ucap Danang saat dikonfirmasi, Rabu (01/04/2026).

Kabupaten Banyuwangi, lanjut Danang, total alokasi pupuk subsidi tahun 2026, jenis Urea sebanyak 47.401 ton, NPK 42.035 ton, ZA 7 ton dan pupuk organic sebanyak 652 ton.

Berdasarkan catatan, hingga bulan Februari 2026, serapan pupuk Urea tercatat 23,4 persen atau 11.105,3 ton dari total alokasi, pupuk NPK terserap 28,8 persen atau 12.117,7 ton.

“Serapan pupuk subsidi Urea dan NPK di triwulan I cukup baik dan distrubusi ke petani tidak ada kendala. Dan serapan pupuk Urea dan NPK cukup tinggi karena petani mulai menanam padi dan jagung di beberapa wilayah Banyuwangi mulai berlangsung, “ ucapnya.

Meskipun serapan pupuk Urea dan NPK cukup tinggi, lanjutnya, pihaknya tetap menyarankan petani untuk beralih ke pupuk organic agar tidak bergantung pada pupuk kimia.

“Petani akan kita dorong secara perlahan untuk beralih ke pupuk organic untuk memperbaiki kesuburan dan unsur hara tanah yang dibutuhkan tanaman,“ ucapnya.

Selanjutnya untuk menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian dan Pangan akan menggencarkan program diversifikasi pangan yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan di Banyuwangi.

Diversifikasi pangan adalah strategi penting dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis tanaman atau produk pertanian tertentu seperti padi.

Dispertan Banyuwangi telah mengambil inisiatif untuk mendorong petani Banyuwangi me lakukan management pola tanam yang menyesuaikan dengan kondisi debit air. Khususnya bagi daerah hilir yang kekurangan air irigasi bisa menananm palawija atau tanaman semusim selain padi.

“Untuk mengatasi dampak El Nino yang menyebabkan musim kemarau ini, kami bersinergi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan yaitu agar kelompok tani menerapkan Rencana Tatat Tanam Global (RTTG), “ ucapnya.

Danang menambahkan, untuk tahun 2026 ini, Dinas Pertanian dan Pangan telah menyiapkan program unggulan yang berfokus pada peningkatan produksi,ketahanan pangan meliputi pengembangan benih unggul,optimalisasi lahan dan program tematik seperti program jagoan tani.

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry