Lukman Edy (LE) FT/IST

LAMPUNG | duta.co – Dukung-mendukung calon Ketua Umum PBNU terus memanas di Muktamar ke-34 NU, di Lampung. Memasuki hari kedua, Kamis (23/12/21) media sosial nahdliyin, ikut rame dengan kabar baru, bahwa, trio NII (Nusron, Ipul dan Imin) diyakini pecah dalam muktamar kali ini. Padahal, ketiganya (dulu) satu suara dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang.

“Informasi terbaru, Cak Imin sudah bulat dukung Kiai SAS. Barisannya rapi di belakangan pendukung Kiai SAS. Ini informasi A1. Sementara Gus Ipul istiqomah di barisan Gus Yahya, pun demikian Gus Nusron Wahid,” demikian sumber duta.co di jajaran PBNU, Kamis (23/12/21) di Lampung.

Lukman Edy, kader nahdliyyin, pendukung utama pencalonan Kiai SAS sebagai Ketum PBNU, tidak mengelak disebut barisannya semakin kokoh. “Memasuki hari kedua Muktamar NU ke-34, arus dukungan ke Kiai Said makin menguat. Secara perlahan, kader-kader NU menyadari bahwa SAS itu merupakan pilihan yang tetap memimpin organisasi NU yang besar seperti ini. Dan beliau sudah menunjukkan levelnya sebagai pengawal faham keagamaan Aswaja sekaligus pengawal NKRI,” demikian komentar Lukman Edy.

Menurutnya, barisan Kiai SAS sudah bicara soal program ke dapan. Tantangan dan peluang yang harus kita (NU) hadapi, itu cukup besar dan sangat potensial, “Sebesar jumlah warganya yang mencapai sekitar 50% dari populasi umat Islam di Indonesia,” katanya.

Jadi?  Tambah Lukman, sangat wajar jika pimpinan tertinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama itu menjadi salah satu posisi yang strategis bagi NU, juga bagi pihak lain sehingga forum seperti Muktamar NU juga dapat atensi dari banyak kalangan. Apalagi, soal keilmuan Kiai SAS sangat mumpuni.

Bagian dari Kesadaran

Selain tantangan klasik seperti sektor pendidikan, kesehatan dan perekonomian, NU juga menghadapi pesatnya perkembangan teknologi, termasuk bidang teknologi informasi. Menurut LE, sapaan akrabnya, Kiai SAS sudah berkomitmen bersama timnya untuk menjadikan fase 2022-2027 sebagai landasan bagi NU menuju target Indonesia Emas 2045.

“NU punya andil besar untuk menopang tercapainya target pemerintah 2045 itu. Grand Design seperti inilah yang tengah kita siapkan, bukan sekedar bicara soal kontestasi 2024, tapi orientasi kita justru 2045,” katanya.

Lalu, jelasnya, bonus demografi yang mencapai 64% dari populasi 297 juta jiwa itu menjadi atensi khusus. Ini konsentrasi KH Said Agil bersama tim. Oleh karena itu, bicara tentang Ketua Umum PBNU bukan sekedar memimpin NU. Tapi juga mengawal persiapan semua elemen bangsa menuju kejayaan Indonesia.

“Kita nggak mau berspekulasi lagi dengan kebesaran NU ini, makanya dengan sangat terpaksa Yai Said itu akhirnya mau maju sebagai Calon Ketua Umum. Kesedian itu merupakan bagian dari kesadaran terhadap harapan dan ekspektasi umat kepada Yai Said dan NU,” pungkas LE. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry