
SURABAYA | duta.co – Jumat (13/6/2025) sore hingga malam, Ananda Rigi Aditya (22) memacu motor trailnya di lintasan balap, Perumahan Graha Tirta, Sidoarjo. Empat kali pertandingan dia lalui untuk menghasilkan waktu terbaik.
Lintasan kali ini kata dia sesuai karakternya, track panjang dan sedikit berlubang. Ditemui saat break pertandingan, Rigi mengaku sedikit mengalami kendala sehingga di dua kali pertandingan di kota kedua setelah Semarang itu dia tidak bisa masuk tiga besar.
Usai shalat Isya’, pertandingan digelar lagi. Rigi menarget bisa bertanding lebih baik. Setidaknya bisa berada di tiga besar. Dia pun terus memacu motornya hingga lintasan jumping dia lakukan dengan baik. Waktu terbaik baginya dia torehkan.
Namun hingga akhir pertandingan di hari pertama itu, dia harus tergeser bahkan tidak masuk di lima besar. Crosser M. Zidane yang mencatatkan rekor tercepat. Rigi tak kecewa. “Masih ada satu hari di pertandingan hari kedua,” katanya.
Trial Game Dirt Seri 2 Sidoarjo ini digelar dua hari. Puluhan crosser terbaik tanah air memacu motornya untuk adu cepat dan adu nekat di ajang yang akan digelar sebanyak lima seri itu.
Bukan hanya prestisius, ajang besutan 76Rider ini makin kompetitif di tahun ini dengan persaingan para rider kelas wahid.
Para crosser itu bukan hanya anak-anak muda biasa. Mereka juga anak muda dengan talenta terbaik bukan hanya di balap motor tapi di bidang pendidikan.
Rigi misalnya, dia adalah seorang dokter muda yang saat ini sedang menempuh program pendidikan profesi dokter atau koas.
Saat pertandingan hari pertama, Dia mengaku baru pulang dari RSUD Sidoarjo untuk menjalani koasnya. “Baru pulang pukul 14.00 dan langsung ke sini,” ungkapnya.
Hobi dan pendidikan harus berjalan seiring. Itu komitmen Rigi yang sudah disepakati dengan kedua orang tuanya. “Harus memberikan yang terbaik untuk keduanya,” tandasnya.

Jim Sudaryanto, Pimpinan Lomba mengaku karakter lintasan di lapangan non permanen Sidoarjo ini berbeda dari lapangan di Semarang pada seri 1 lalu. Hal itu untuk memberi tantangan baru bagi para crosser.
Handicap atau rintangannya sama, tapi letaknya diubah. “Agar tidak monoton dan tetap menantang,” katanya.
Jim menjelaskan bahwa lintasan pada seri 2 ini lebih difokuskan pada kecepatan tinggi, dengan rintangan ekstrem yang menguji adrenalin para peserta. Salah satu yang paling menantang adalah jumping table setinggi 3 meter dan jumping katak setinggi 2 meter tanpa landasan pendaratan, sehingga motor langsung menghantam tanah setelah melompat.
“Secara umum, konsepnya sama seperti tahun lalu. Tapi dari sisi keamanan kita tingkatkan. Material pelapis kita perbanyak, terutama karena cuaca masih sering hujan,” jelasnya.
Lintasan sepanjang 450 meter per putaran ini dirancang untuk menguji teknik dan keberanian para crosser. Dalam satu sesi lomba, peserta bisa menempuh hingga hampir 1.000 meter, tergantung jumlah lap yang dijalani. lis





































