TERBARING LEMAS: Salah satu korban siswi SMA Ponpes Alfalah Kadur saat dirujuk ke RSUD Pamekasan, Minggu (11/2/2018). (FT/Duta.co/Habib)

PAMEKASAN | duta.co – Sebagain besar para orang tua di Pamekasan mulai enggan melakukan vaksinasi terhadap anaknya dengan alasan trauma dan takut peristiwa pada Minggu (11/2/2018) lalu terulang dan menimpa sang buah hati.

Pada hari tersebut telah terjadi peristiwa dimana sekitar 60 Siswa MTS dan SMA  dari Ponpes Al Falah Sumber Gayam, Ponpes Hidayatul Mubtadiin dan Ponpes Al Husen Kecamatan Kadur mengalami kejang-kejang, mual dan muntah pasca dilakukan vaksiniasi Difteri sehari sebelumnya.

Salah seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya, asal Desa Pakong Kecamatan Pakong menuturkan, pihaknya mengaku trauma dan takut kejadian di Desa Kadur beberapa hari lalu menimpa anaknya yang baru berusia tiga tahun.

“Saya trauma dan takut kejadian serupa terulang lagi. Makanya saya menolak  anak saya di vaksinisasi dari pihak puskesmas yang digelar pada hari Selasa (12/2/2018),” ungkap ibu dua anak ini kepada duta.co, Rabu (14/2/2018).

Terpisah, Mausul Nasri (34) warga asal Desa Branta Tinggi Kecamatan Tlanakan Pamekasan menceritakan, selain kejadian di Desa Kadur, beberapa tahun lalu di Desa Gugul, Kecamatan Tlanakan, dan di Desa Panglegur, juga ada bayi meninggal, pasca beberapa hari divaksin.

“Alhamdulillah anak saya umur 11 bulan tidak divaksin sehat-sehat saja, cuma pernah sekali divaksin HB saat baru lahir itupun tanpa pamit,” kata Mausul yang juga aktivis sosial ini.

Ditambahkan, trauma tersebut tidak hanya dirasakan dirinya tapi juga keponaan dan para tetangga khawatir saling telpon, terkait kekhawatiran anaknya jika di suntik vaksin disekolahnya. maka rame-rame orang tua murid salah satu SD di Desa Tlanakan menulis pernyataan ketidaksetujuannya.

“Dan ketakutan ini sudah menyebar kemana mana,” paparnya.

Sementara, Kadinkes Kabupaten Pamekasan Ismael Bey mengatakan, imunisasi vaksin difteri itu tidak berbahaya dan tidak memberikan efek samping karena itu bukan penyakit yang dilemahkan tapi hanya mematikan untuk merangsang tubuh anti body.

“Kita imbau kepada masyarakat agar anak dalam kondisi tubuh lemah, sedang  dan sakit serta ibu hamil jangan dilakukan imunisasi. Intinya tubuh harus dalam keadaan fit,” terangnya.

Kedepan pihaknya akan terus melakukan sosialisai kepada masyarakat dan lembaga pendidikan mengenai pentingnya imunisasi vaksin sesuai dengan kebijakan Gubernur Jawa Timur. (bib)

Tinggalkan Balasan