
Oleh Syarif Thayib (Dosen UIN Sunan Ampel, Ketua Umum Yayasan Masjid Peneleh Surabaya)
TOSCA itu singkatan dari toples syukur dan cinta. Toples (atau yang lebih baku: stoples) adalah wadah kaku berbentuk tabung atau silinder yang memiliki bukaan lebar dan dilengkapi penutup. Wadah ini biasanya terbuat dari kaca, plastik, atau keramik, kaleng juga boleh, dan sering digunakan untuk menyimpan makanan ringan, bumbu, atau kue agar tetap segar dan kedap udara.
Lalu, apa hubungannya Tosca dengan Masjid Peneleh?
Tosca merupakan program UPZ (unit pengumpul zakat) Masjid Peneleh. Sebagai masjid cagar budaya, peninggalan Sunan Ampel, maka siapapun pengelolanya dituntut untuk kreatif dan inovatif merawat masjid yang dibangun sekitar tahun 1420 atau berusia 600-an tahun.
Ruang utama masjid yang terletak di jalan Peneleh gang V nomor 41 Surabaya ini 90% masih orisinil. 10 tiang penyangganya utuh dari kayu jati asli jadul. Plafonnya menjulang ke atas, nyaris melekat dengan genteng dan seng sebagai atap pelindung dari hujan dan panas matahari.
Tinggi plafon Masjid Peneleh 25-an meter dari lantai keramiknya. Bentuk plafon masih seperti doeloe, menyerupai perahu terbalik Nabi Nuh. 25 jendela bertuliskan kaligrafi kaca nama-nama Nabi dan Rasul, mulai Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW masih terawat mengelilingi bangunan masjid yang luasnya 900-an meter persegi.
Namanya merawat masjid tua, tentu harus serba ekstra. Sedikit salah penanganan, akan menggerogoti keaslian bangunan masjid Jawa kuno pra kolonial. Ya, masjid ini dibangun jauh sebelum ada penjajahan Belanda di bumi nusantara. Almarhum Johan Silas legenda arsitek ITS Surabaya menegaskan “fixed” Masjid Peneleh merupakan masjid Jawa kuno. Bangunannya persis seperti bangunan-bangunan masjid yang dibangun para Walisongo.
Awal penulis mengemban amanah ketua umum Yayasan Masjid Peneleh langsung menguruskan status “cagar budaya” dengan harapan pemerintah kota “hadir” (minimal) memberi arahan dan/atau pendampingan dalam merawatnya. Alih-alih memberi pendampingan, diundang untuk meresmikan prasastinya saja sulitnya luar biasa. Maka prasasti yang terlanjur dibeli dari pengerajin UMKM Ngagel Dadi pun sudah hampir satu tahun ini belum juga ditandatangani bapake Arek Suroboyo.
Walaupun begitu, hampir semua bangunan cagar budaya di Surabaya atau dimanapun punya cara kreatif untuk tetap mandiri, merawat sendiri, alias swadaya dalam pembiayaan dan lain-lain, tanpa kehadiran dan/ atau bantuan pemerintah. Maka lahirlah ide Tosca di atas.
Tosca dibagikan gratis oleh Masjid Peneleh kepada Jemaah yang mau. Pertama, toplesnya dikasih stiker yang melahirkan visualisasi keinginan agung pemiliknya. Misalnya, gambar ka’bah sebagai impian tiap keluarga yang ingin beribadah haji maupun umrah. Berharap dengan sering melihat ka’bah, akan terbangun harapan kuat untuk mewujudkannya. Maka terjadilah Mestakung, alam semesta mendukung. Inilah manivestasi Law of Attraction.
Kedua, pemilik toples menuliskan dalam kertas warna-warni (Post-it) atau di kertas biasa: satu kalimat syukur, yaitu kenikmatan atau kebaikan hidup apa yang dialami hari itu. Contoh kalimatnya: “ya Allah, terima kasih telah sembuhkan cepat Alisa anak saya dari rasa nyeri (dilepen)”, “ya Allah, saya bersyukur punya istri yang membuatkan masakan kesukaan: tahu tempe terong tongkol (T4)”, “ya Allah, saya bersyukur bisa membelikan almari buku anak saya di Informa”, dll dst.
Ketiga, sebelum satu kalimat tulisan di kertas itu dimasukkan toples, silahkan kasih nilai nominal sedekah. Berapakah nominal yang pantas diberikan untuk rasa nikmat atau kebaikan itu? Semampunya atau semaunya! Walaupun kenikmatan itu tak ternilai dan tidak bisa dirupiahkan, bukan berarti sama sekali tidak kita ekspresikan sebuah kenikmatan itu dengan rupiah, meski se-ikhlasnya.
Setelah menentukan nominal uangnya, maka lipatlah bersama kertas syukur itu, kemudian masukkan ke dalam toples.
Bayangkan, jika Tim UPZ bisa mengajak Jemaah masjid untuk praktek Tosca, yaitu menulis satu kalimat syukur pada kertas yang sudah disertakan uang sedekah lima ribu rupiah saja tiap harinya, maka dalam satu bulan akan terkumpul uang 150 ribu rupiah per-rumah. Kalau jumlahnya ada 200 rumah, kemudian menyerahkan semua uangnya ke Masjid Peneleh sebagai sedekah, maka kas masjid mendapat tambahan suntikan dana segar dari Tosca sebesar 30 juta rupiah.
Uang sebesar itu cukup untuk suguhan wedang jahe susu kepada rata-rata 200 jemaah tiap shubuhnya, juga 200 jemaah Bocil akan menikmati aneka ice cream atau jus buah segar tiap Maghrib. Bahkan, cukup untuk menyantuni puluhan anak-anak yatim terdekat Masjid Peneleh. Inilah ekspresi cinta dari rasa syukur Jemaah untuk Jemaah yang shalat berjamaah di Masjid Peneleh.
Kendalanya hanya satu, istiqamah menguatkan kesadaran Jemaah, bahwa mengekspresikan syukur dan cinta itu harus tiap hari, bukan sesekali. Kalau ekspresi syukur dan cintanya sesekali, jangan kaget kalau balasan kenikmatan dan rezeki cinta Ilahi yang besar datangnya sesekali.
Tidak usah pakai lama, silahkan coba seminggu saja dulu dan rutin, kemudian lihatlah atau rasakan “keajaiban” apa yang bakal dialami. Setidaknya, satu dari banyak “keajaiban” pasti akan diraih (bi-idznillah): semakin merasa mencintai-dicintai Tuhan, kesehatan lebih prima, lebih bahagia, mulai datang rezeki diluar dugaan, menemukan banyak kemudahan, keluarga tambah harmonis, anak makin cerdas, dan seterusnya.
Semua pasti percaya, jika salah satu atau lebih “keajaiban” di atas terjadi dan dirasakan langsung oleh jemaah Masjid Peneleh atau Masjid manapun, maka bakal terjadi gulungan bola salju rahmatan lil’alamin untuk bangsa dan negara. Wallahu a’lam bis-shawab.(*)




































