MAHAL: Burung murai batu peraih Piala Presiden bernama Kitaro yang ditawar Jokowi Rp 600 juta namun tak diberikan. (ist)

BREBES | duta.co – Burung jenis murai batu bernama Kitaro menjadi juara dalam lomba burung berkicau Piala Presiden di Istana Bogor akhir pekan lalu. Pemiliknya Muhammad Nur Alamsyah, warga Brebes. Kitaro bahkan ditawar Jokowi Rp 600 juta, namun ditolak oleh Nur. Apa alasannya?

Saat ditemui di rumahnya Jalan Pusponegoro, Brebes, Nur Alamsyah mengatakan dalam even piala presiden ini, Kitaro diikutkan dalam empat kelas. Dari empat kelas yang diikuti, Kitaro berhasil menyabet juara 1 di dua kelas, masing masing kelas Radja dan kelas B n R.

“Untuk ikut di tiap kelas itu harus mengeluarkan biaya pendaftaran. Kelas Radja saya bayar Rp 1 juta dan B n R bayar Rp 2,5 juta,” ujar Nur atau yang biasa disapa Dede.

Dijelaskannya, ada 70 burung yang ikut dalam tiap kelas, salah satunya adalah milik Presiden Jokowi. Namun, burung milik orang nomor satu di Indonesia itu kandas, tidak meraih juara apa pun. “Lumayan dapat hadiah Rp 10 juta dan Rp 20 juta untuk masing-masing kelas,” tuturnya.

Usai mengikuti lomba, tambah Dede, Jokowi tertarik untuk membeli Kitaro. Proses tawar-menawar dilakukan oleh Sekpri presiden dan harga tawaran yang diajukan mencapai Rp600 juta. “Melalui Sekpri presiden menawar Rp600 juta, tapi saya tidak mau melepasnya. Saya akan rawat sendiri dan rencana nanti bila tidak ikut kontes akan dibudidayakan,” ungkap Dede.

Membudidayakan burung kualitas bagus, tambah dia, memiliki nilai ekonomis yang tinggi daripada harus menjualnya seharga Rp 600 juta. Kitaro akan dikawinkan untuk menghasilkan keturunan berkualitas tinggi.

Kitaro dibeli oleh Dede pada tahun 2016 lalu. Murai batu ini berasal dari Lampung yang dibelinya seharga Rp250 juta. “Memang Kitaro ini bagus dan sudah sering menjadi juara. Mentalnya sudah mental juara, jadi harganya mahal,” imbuhnya.

Sebagai penggemar burung, Dede memiliki sedikitnya 40 ekor burung dari berbagai jenis. Ada burung jalak, murai, murai batu, branjangan, dan anis merah. Dari puluhan koleksinya itu, hanya dua yang sering ikut kontes, yakni murai batu dan anis merah.

TANGKAR SENDIRI: Nur Alamsyah alias Dede dan Jokowi saat lomba burung Piala Presiden, Minggu 9lalu. Dede menolak burunya dibeli Jokowi karena akan ditangkar sendiri. (tempo)

Dua piala yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo pun saat ini menghiasi meja besar di belakang rumahnya. “Sebelum ini saya juga ikut lomba di Monas Jakarta. Juara juga,” katanya dengan menunjukkan piala lain berbentuk monas berwarna kuning keemasan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi memang mengaku sempat ingin memiliki burung murai batu milik peserta juara pertama dalam festival dan pameran Burung Berkicau Piala Presiden Jokowi. “Yang juara satu mau saya beli,” ujar Jokowi di Kebun Raya Bogor, Minggu (11/3).

Jokowi mengatakan, sudah sempat melakukan tawar-menawar. Namun, kata dia, pemilik burung tersebut enggan menjualnya. “Pemiliknya bilang enggak dijual,” ujarnya. Adapun burung milik Jokowi juga mengikuti lomba tersebut. Namun, burung murai batu itu kalah dan hanya masuk nominasi 10 besar.

 

Kisah Hidup Kitaro

Dikutip Duta dari omkicau.com, Selasa (13/3), Kitaro merupakan murai batu dari Pagar Alam, Sumatera Selatan. Gaco ini awalnya milik David Pagar Alam, kemudian ditranfser ke Darwin Delta dari Pelopor SF Lampung.

Sejak di tangan pemilik lama, burung ini sudah sering juara. Prestasinya makin kinclong di tangan Darwin, bahkan selalu meraih juara 1 dalam setiap even yang diikuti. Pada even Radar Banten Cup 2 di Serang (15/6/2014) silam, murai batu Kitaro sukses mencetak hattrick.

Darwin biasanya menurunkan murai batu Kitaro setiap dua pekan sekali. Paling tidak inilah ritme yang dilakukannya setelah burung merampungkan masa mabungnya.

“Baru beberapa minggu take-over dari David Pagar Alam, Kitaro langsung mabung. Awal Mei baru rampung mabung, kemudian dijajal dalam kontes Gedong Tatanan Cup I di Pringsewu,” kata Darwin saat itu.

Dua minggu berikutnya, Darwin menurunkannya dalam even 1th Anniversary KLI Lampung Cup di Bandar Lampung, 1 Juni 2014, dan lagi-lagi dua kali juara 1.

Berselang dua pekan kemudian, Kitaro ngeluruk ke Jawa, mengikuti even Radar Banten Cup 2 di Kota Serang. Hasilnya lebih fantastis lagi. Tiga gelar juara 1 pun diraihnya, alias sukses mencetak hattrick.

Perawatan Kitaro

Seperti apa sih perawatan harian dan perawatan lomba murai batu Kitaro? Sehari-hari ketika itu, burung ini dirawat oleh Rinto. “Perawatannya tidak rumit, bahkan tidak pernah pakai kandang umbaran,” kata Darwin.

Selain voer sebagai pakan utama, Kitaro hanya mengonsumsi jangkrik setiap pagi dan sore, masing-masing 5 ekor. Di luar itu, dia hanya rutin memberi BirdVit, dengan jadwal hari Senin dan Jumat.

Karena jadwal mainnya selama ini dua pekan sekali, murai batu Kitaro menjalani rawatan lomba mulai H-7 atau sejak Senin. Dalam hal ini, porsi jangkrik dinaikkan menjadi 10/10. Ini berlaku hingga hari Sabtu.

Pada hari Sabtu pula, ada menu tambahan berupa ulat hongkong 2 ekor. “Pada hari lomba, atau Minggu, menu dikembalikan ke rawatan harian, yaitu jangkrik 5 ekor sebelum dibawa ke lapangan,” jelas Darwin.

Agar tubuhnya selalu segar, murai batu Kitaro dimandikan setiap hari. Dengan perawatan yang sederhana ini, murai batu Kitaro selalu menampilkan aksi-aksi serta performa suara yang menawan. Gaya tarungnya sangat aktif, sambil terus mengeluarkan semua isiannya yang tajam, dan volumenya pun tembus hingga pinggir lapangan.

Dari tangan Darwin, akhirnya Kitaro dibeli pemiliknya saat ini, yakni Nur Alamsyah alias Dede, warga Jalan Pusponegoro, Brebes, Rp 200 juta.  Dede mengaku membeli murai berwarna hitam dan cokelat keemasan itu dari seseorang di Jakarta pada tahun 2016.

“Itu burung asli Lampung, karena murai kan habitatnya di sana. Mungkin saya orang ketiga. Sebelumnya orang Lampung jual ke orang Jakarta, terus saya beli,” katanya. hud, net

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.