SURAKARTA | duta.co –Rabu (15/8/ 2018), mahasiswa baru IAIN Surakarta menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2018.  M Aziz Hakim, M.H. Kasi Pengabdian kepada Masyarakat Kemenag RI menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan 3680 mahasiswa baru. Intinya, depan Indonesia berada di tangan mahasiswa.

Dalam orasinya, Aziz Hakim menyatakan bahwa masyarakat pada hari ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Pada tahun 2020 nanti, populasi Indonesia akan diwarnai oleh generasi milenial yakni 34%.

Ciri-ciri kalangan muda milenial, pertama, konfidensi atau kepercayaan diri yang tinggi. Kalangan milenial lebih berani dan cerdas menempatkan diri dalam posisinya yang tepat. Kedua, kalangan milenial kreatif. Kreatifitas ini bisa dalam arti yang positif dan juga negatif. Kreatifitas-kreativitas ini sering muncul dari generasi milenial.

Ketiga, connected yakni terhubung antara satu yang lain melalui jejaring sosial. Masyarakat jaman now, menurut Aziz, kebutuhan pokok masyarakat tidak hanya sandang, papan dan pangan tetapi juga ditambah paket data untuk bisa berhubungan dengan masyarakat via jejaring sosial.

“Perubahan ini memiliki tantangan yang cukup besar karena masyarakat Indonesia memiliki kebebasan yang luar biasa dibandingkan yang dialami oleh mahasiswa tahun 1988,” jelasnya.

Salah satunya yang menjadi problem adalah masyarakat terlalu asyik dengan dunia maya dan terkadang melupakan alam nyata. Seperti lagu yang dipolerkan Iwan Fals, “Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh,” tambahnya.

Persoalan lain yang muncul adalah mewabahnya hate spin (ujaran kebencian). Dikarenakan internet dan jejaring medsos bisa diakses oleh semua orang, maka semua orang bisa menyampaikan pendapatnya secara bebas dan tanpa terkontrol. Hate spin merupakan salah satu fenomena yang menggejala dalam masyarakat milenial khususnya di media sosial.

Persoalan lain yang muncul adalah masuknya paham-paham dari luar secara mudah. Indonesia dikepung dari berbagai arah mata angin. Misalnya, dari arah kanan paham trans-nasional yang cenderung mengarah ke radikalisme. Dari arah kiri diserang dengan komunisme yang mempengaruhi pola pikir masyarakat dalam bertindak. Dari depan dihantam dengan uni sosial demokrat sedangkan dari belakang ditikam oleh kapitalisme dan liberalisme.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, Aziz Hakim, menekankan pentingnya pemahaman dan pengamalan Pancasila. Pancasila merupakan kesepakatan bersama yang dirumuskan oleh para founding fathers. Ia bukan agama tetapi tidak bertentangan dengan agama. Selain itu, ungkap Aziz, dengan tantangan dari berbagai macam arah itu, mahasiswa seharusnya menjadi pribadi yang kritis dan dedikatif serta solutif terhadap persoalan kemasyarakatan.

Selanjutnya, Aziz Hakim menjelaskan tentang tipe-tipe mahasiswa berdasarkan pengalamannya. Pertama, academic oriented, yang fokusnya mengarah pada index prestasi saja. Kecenderungan mahasiswa ini mengejar kesuksesan secara individual dan tidak berupaya memikirkan sesama, tidak peka terhadap nasib rakyat di sekelilingnya. Orientasinya adalah yang penting lulus dan dapat pekerjaan.

Kedua, activist oriented, mahasiswa ini mengikuti seluruh unit kemahasiswaan sangat aktif di pemberdayaan masyarakat dan lupa bahwa tugas utamanya adalah kuliah. Mahasiswa ini memiliki kepekaan yang tinggi terhadap rpoblem sosial namun terkadang sampai melupakan dirinya.

Ketiga,  mahasiswa yang mampu menyeimbangkan (balancing) antara kedua tipe tadi. Kuliahnya rajin dan juga aktif dalam pemberdayaan masyarakat.

Aziz Hakim menyarakan mahasiswa baru menjadi tipe mahasiswa yang ketiga. Yakni mahasiswa yang bisa aktif secara akademis melalui perkuliahan dan aktif sebagai agen of social change di masyarakat.

Indonesia, katanya, membutuhkan intelektual organik, yang mampu menggerakkan masyarakat, mampu bergaul dan terjun dengan masyarakat dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dan maju sebagai agen of social change.

Jadi Pemilih Cerdas

Di akhir orasinya, Aziz Hakim memberikan kesempatan bagi beberapa mahasiswa baru yang ingin bertanya. Salah satunya adalah Raka (mahasiswa baru Fakultas Syariah) mengajukan pertanyaan.

“Di tahun politik ini, bagaimana agar mahasiswa menjadi pemilih yang berintegritas mengingat para pemilih di pilpres mendatang adalah kalangan milenial?” jelasnya.

Aziz memberikan jawaban bahwa mahasiswa harus menjadi agen yang menyebarkan virus positif. Pandangan politik boleh berbeda tetapi jangan sampai menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks. Jika mendapatkan informasi di medsos, maka check and re-check dulu jangan gampang di-share.

Jadilah pemilih cerdas. Dasar pemilihannya berdasarkan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan dan dengan melihat program dan agenda baik yang sudah dilakukan maupun agenda ke depannya.

Nur Rohman, selaku pembina DEMA IAIN Surakarta menyatakan bahwa salah satu persoalan generasi milenial adalah berkurangnya etika dalam bergaul, baik interaksi secara langsung & bermedsos, maka mahasiswa dibekali agar santun dalam berpikir, bertutur dan bertindak.

Sari Asih Guretno selaku ketua DEMA IAIN Surakarta menyatakan bahwa PBAK tahun ini mengambil tema mahasiswa IAIN Surakarta tauladan SANTUN (Saleh, Akademis, Nasionalis, Toleran, Unggul dan No-hoaks).

Rangkaiam acara PBAK ini di akhiri dengan pembacaan deklarasi mahasiswa tauladan santun yang diikuti oleh seluruh mahasiswa IAIN Surakarta. Berikut deklarasi yang dibacakan: “Kami mahasiswa IAIN Surakarta, menyatakan:

1) menolak penggunaan agama sebagai sumber ujaran kebencian, 2) menebarkan Islam santun di masyarakat dan media sosial, 3) merawat perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, 4) memupuk kerukunan demi terwujudnya persaudaraan antar sesama, 5) menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila.” (Abd Halim).

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.