BEKASI | duta.co – Indonesia sudah lama jadi sarang ISIS. Selain sejumlah pentolan ISIS yang sudah ditangkap maupun yang masih dikejar aparat Densus, bibit-bibitnya diduga banyak di negeri ini. Sebab sejumlah tokoh ISIS sebelumnya pernah tinggal di Indonesia.

Misalnya Omarkhayam Maute alias Omar Maute, yang disebut-sebut sebagai salah satu pemimpin Maute, kelompok antek ISIS yang melakukan penyerangan di Kota Marawi Filipina selatan. Pria yang diburu militer Filipina ini ternyata pernah tinggal dua tahun di Bekasi, Jawa Barat.

Selama di Bekasi, Omar menetap di Pondok Pesantren Darul Amal di Kampung Buni Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi. Dia adalah menantu dari Madrais Hajar, pimpinan pondok pesantren itu. “Benar, dia menantu saya,” kata Madrais kemarin.

Madrais menjelaskan, anak perempuannya, Minhati Madrais, pernah belajar di sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Omar juga menjadi mahasiswa di tempat yang sama. Mihanti mengambil jurusan Syariah, sedangkan Omar mengambil Tafsir. Mereka berkenalan, kemudian menikah pada 2008, ketika masih sama-sama berstatus mahasiswa. “Ketika nikah, saya ke Mesir menjadi wali,” kata Madrais.

Setahun setelah menikah, pasangan Omar-Minhati lulus dan pulang ke Indonesia. Mereka tinggal di Pesantren Putri di Ponpes Darul Amal. Keduanya menjadi pengajar di pesantren tersebut. “Mengajar fiqih safinah, yang dipakai pegangan di pesantren, dan kurikulum di At-Taqwa,” kata Madrais.

Sekitar dua tahun kemudian, Omar memboyong istri dan anaknya ke Marawi. Alasannya, ingin mengunjungi keluarga di sana. Dia berencana kembali lagi ke Indonesia. Namun Madrais ragu akan hal itu. Dia menduga menantunya pergi lantaran tidak sepaham dengan mertuanya. “Sejak saat itu enggak ada komunikasi lagi,” kata Madrais.

Madrais mengatakan keluarga di Bekasi ingin Omar dan Minhati menjadi pendidik. Apalagi keluarga sudah mempunyai lembaga pendidikan. Dengan alasan itu pulalah Madrais menyekolahkan Minahti ke Kairo agar setelah pulang bisa mengajar di pesantren.

“Mungkin kurang kerasan, itu hak dia bawa istri, orang tua enggak bisa (menahan),” kata dia.

Setelah beberapa tahun tidak ada komunikasi, Madrais justru dikejutkan dengan berita penyerangan di Kota Marawi yang melibatkan Omar Maute. Madrais bertambah tidak paham akan motif penyerangan itu.

“Sebagian besar penduduk Marawi adalah muslim dan yang melakukan penyerangan juga orang muslim,” kata Madrais. * tmp

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan