
JOMBANG | duta.co — Pagi itu, suara derap pasukan TNI menyatu dengan semangat warga Desa Manunggal. Di tengah lapangan yang dikelilingi sawah menguning dan pohon-pohon rindang, berdiri rapi barisan prajurit dan warga. Bukan untuk perang, tapi untuk harapan membangun desa, memperkuat ketahanan, dan menyalakan kembali impian banyak keluarga kecil.
Pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 di Kecamatan Ngusikan pada Selasa (22/07/2025) menjadi momen penting, bukan hanya bagi Pemerintah Kabupaten Jombang dan TNI, tetapi terutama bagi warga desa. Mereka yang selama ini harus melewati jalan berbatu dan berlumpur, menanti hujan reda agar bisa ke sekolah atau pasar, kini melihat secercah cahaya perubahan.
Di antara warga yang hadir, tampak Pak Rudi (47), petani dari Dusun Banyuasin. Ia datang lebih awal dari biasanya, mengenakan kemeja lusuh yang disetrika dengan hati-hati. “Dulu saya selalu bilang ke anak-anak sabar ya, jalan ini nanti diperbaiki. Tapi lama-lama saya sendiri ragu. Baru sekarang saya lihat alat berat datang, tentara bangun jalan, rasanya seperti mimpi,” ujarnya, matanya sedikit berkaca.
Jalan desa sepanjang 1.178 meter di desanya akan dipaving. Sebuah kemajuan yang sederhana, tapi berarti besar bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hasil sawah dan kebun. Tak hanya itu, lima titik sumur bor akan digali untuk mendukung pertanian, rumah-rumah reyot diperbaiki, dan mushola yang semula hampir roboh akan dibangun ulang.
“Bukan cuma bangunan yang kami perbaiki, tapi juga semangat dan harapan warga,” kata Letkol Kav Dicky Prasojo, Dandim 0814 Jombang, dalam wawancara terpisah. Menurutnya, TMMD bukan sekadar program kerja, melainkan bagian dari pengabdian tentara kepada rakyat. “TNI ada untuk rakyat. Bukan hanya di medan tempur, tapi juga di medan pembangunan,” tegasnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, yang hadir mewakili Bupati Warsubi, menyebut TMMD sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan keadilan pembangunan. “Kita ini mbangun kutho ya mbangun desane. Tidak mungkin kota maju kalau desa tertinggal. Dan pembangunan yang merata adalah kunci menjaga keutuhan NKRI,” katanya saat membacakan sambutan Bupati.
Tema TMMD kali ini “Dengan Semangat TMMD, Kita Wujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional di Wilayah” bukan sekadar slogan. Di baliknya, ada kerja keras 150 personel TNI/Polri dan 50 warga sipil yang gotong-royong menyelesaikan program ini hingga 21 Agustus mendatang.
Tak hanya pembangunan fisik, TMMD juga menyentuh sisi kemanusiaan. Ada donor darah, santunan anak yatim, pelatihan keterampilan, dan pasar murah. Bahkan perpustakaan keliling pun disiapkan agar anak-anak desa bisa membaca buku baru yang sebelumnya tak pernah mereka temui.
“Anak saya seneng banget waktu lihat mobil perpustakaan datang. Dia bilang, ‘Bu, aku pengen bisa baca semua buku di sana.’” cerita Bu Nur, seorang ibu rumah tangga. “Saya nggak nyangka tentara juga bisa bawa buku dan senyum untuk anak-anak,” tambahnya sambil tersenyum malu-malu.
Di sinilah kekuatan TMMD berada bukan hanya pada beton yang dicetak atau jalan yang diaspal, tetapi pada senyum yang kembali mekar, harapan yang mulai tumbuh, dan semangat gotong-royong yang diperkuat kembali.
Karena sesungguhnya, membangun desa bukan sekadar urusan infrastruktur. Ia adalah upaya membangun kehidupan, satu keluarga, satu rumah, satu mushola, satu harapan, demi Indonesia yang lebih adil dan tangguh. (din)





































