SMAST : Ulfatul Mufida selaku guru BK saat melakukan konseling kepada siswa Kelas XII (Kintan Kinari Astuti/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Transparan dan melibatkan seluruh komponen sekolah tergambarkan di SMA Negeri 1 Kota Kediri, demikian penjelasan disampaikan Ulfatul Mufida selaku Guru Bimbingan Konseling, saat ditemui Selasa (23/02). Secara gamblang dijelaskan bagaimana tahapan penentuan siswa eligible dan mempunyai hak masuk perguruan tinggi negeri sesuai pilihannya. “Semua diawali dengan rapat dewang wali kelas,” ungkapnya, usai melakukan konseling dengan siswa Kelas XII.

Meski berstatus masih pejabat sementara naun H. Widayat S.Pd sangat berharap seluruh siswanya bisa diterima di perguruan tinggi favorit. Setiap siswa pun diberi hak untuk mengetahui kemampuannya melalui nilai ujian harian dan raport. “Kami selaku Guru BK menjalankan aturan yang sudah digariskan bapak kepala sekolah. Terkait status siswa eligible mengacu nilai di enam mata pelajaran yang dipakai dasar,” jelasnya.

Terkait program konseling kini berjalan khususnya saat menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) merupakan jalur tanpa tes. Disampaikan Sumiarso, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdisdik) Provinsi Jawa Timur di Kediri, bahwa berdasarkan tahun kemarin, SMA Negeri 1 terbanyak diterima di perguruan tinggi negeri. “Disusul SMAN 3, SMAN 2 lalu SMAN 7,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Lalu apakah SMAST sebutan sekolah berada di Jl. Veteran Kota Kediri ini telah menjalankan program konseling? Disampaikan Ulfatul baru mencapai 80%. “Pendaftaran telah mulai namun belum 100%, masih 80% lebih dan semoga besok tanggal 23 pengumuman SNMPTN, anak – anak diterima sesuai harapan,” terangnya.

Adapun mata pelajaran bagi siswa Jurusan MIPA, Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Sementara Jurusan IPA, Geografi, Ekonomi dan Sejarah. Untuk pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris merupakan kewajiban di semua jurusan. “Sebenarnya tidak hanya siswa eligible, semua memiliki kesempatan dan keberuntungan yang sama, bila saya boleh jujur.  Mereka memiliki kemampuan yang sama, namun tidak semuanya menguasai mata pelajaran,” imbuhnya.

Menutup wawancara, bahwa terkait penentuan pilihan juga harus menerapkan strategi karena setiap program pendidikan di perguruan tingi terdapat kuota. “Sebenarya banyak pilihan, apalagi sekarang ada sekolah kedinasan. Namun yang disayangkan, bahwa sistem penerimaannya tidak satu atap. Bila ini diterapkan tentunya akan lebih efektif, dimana siswa diberikan banyak pilihan. Tidak harus mengikuti UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer, red), jadi otomatis bila sudah diterima maka datanya terkunci dan membuka kesempatan kepada siswa lainnya,” kata Ulfatul Mufida. (kin/nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry