Dr dr Handayani, MKes – Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran

SEJAK Awal 2020 hingga saat ini kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia masih tinggi. Sekitar awal bulan Juni 2021, beberapa waktu setelah Hari Raya Idhul Fitri, terjadi lonjakan kasus infeksi virus corona (Covid-19) yang sangat mengkhawatirkan.

Rumah sakit rujukan Covid-19 baik RS milik pemerintah maupun RS Swasta di sejumlah kota besar di Indonesia tidak mampu lagi menampung pasien Covid-19 yang jumlahnya terus meningkat.

Khususnya di Jakarta dan beberapa kota besar lainya termasuk Surabaya, fasilitas pelayanan kesehatan baik Rumah Sakit melayani pasien Covid-19.

Karena penuhnya ruang ICU, juga ruang isolasi khusus pasien Covid-19, terkadang pasien terpaksa harus menunggu di UGD Rumah Sakit, atau di selasar yang ada. Akibatnya, pasien Covid-19 tanpa gejala dan bergejala ringan diminta untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah, demi mengurangi beban rumah sakit.

Pasien dengan gejala sedang dan berat, juga sebagian tidak mendapatkan pelayanan di Rumah Sakit, terpaksa mencari pertolongan di Puskesmas, dan juga ada yang terpaksa tetap dirawat dirumah.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Menjalani isolasi mandiri baik yang tanpa gejala maupun dengan gejala ringan maupun sedang tak selamanya mudah, apalagi jika dengan gejala berat, seperti misalnya dengan sesak nafas. Banyaknya  pasien yang bergejala sesak nafas berada di rumah, membuat masyarakat berebut mencari oksigen untuk digunakan.

Beberapa kasus berat terkadang tak tertangani dengan baik dan akhirnya meninggal dunia, beberapa di antaranya bahkan menimbulkan klaster baru di tingkat keluarga karena kurangnya pemahaman dalam melakukan isolasi mandiri.

Lantas, bagaimana kiat-kiat untuk menjalani isolasi mandiri?

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, beberapa hal penting yaitu :

  1. Yang wajib menjalani isolasi mandiri yaitu orang yang dites dengan hasil positif Covid-19.
  2. Lamanya waktu isolasi mandiri yang harus dijalani pasien positif Covid-19 tanpa gejala adalah 10 hari isolasi sejak tes antigen atau PCR positif Covid-19.
  3. Lamanya waktu isolasi yang harus dijalani pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan adalah 10 hari isolasi dengan tambahan 3 hari yang sudah bebas dari berbagai gejala.
  4. Untuk pasien kontak erat, durasi isolasi mandiri selama 14 hari sejak kontak dengan kasus Covid-19.
  5. Setelah masa isolasi, pasien hanya perlu melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan dan sebaiknya tes PCR lagi.

Agar pasien yang menjalani isolasi mandiri dapat berhasil sembuh ada beberapa Tips yang bisa dilakukan yaitu :

JAGA IMAN

  • Yakin bahwa sakit adalah ujian dari Allah swt.
  • Perbanyak doa dan beribadah semampunya.
  • Bersedekah jika di mungkinkan.
  • Bersabar dan ikhlas menjalani terapi dan upaya penyembuhan diri.
  • Berikhtiar agar tidak menularkan virus kepada keluarga serta teman kerja, dan masyarakat.

JAGA IMUN

  • Beristirahat cukup antara 7-8 jam
  • Konsumsi makanan bergizi dan seimbang
  • Konsumsi vitamin atau suplemen serta produk herbal sesuai dosisnya.
  • Membuka jendela kamar sebagai sirkulasi cahaya dan udara.
  • Berjemur matahari selama 10-15 menit pada pukul 10.00-13.00 WIB.
  • Rutin berolahraga ringan.

JAGA AMAN

  • Tinggal di rumah dan jangan pergi bekerja atau ke ruang publik.
  • Gunakan kamar terpisah di rumah dari anggota keluarga lainnya. Jika memungkinkan, upayakan menjaga jarak dari anggota keluarga lain.
  • Memakai masker ketika berinteraksi dengan orang lain maupun ke luar ruangan selain kamar isolasi.
  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan mengonsumsi makanan bergizi, melakukan kebersihan tangan rutin, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  • Memisahkan pakaian kotor pasien dari pakaian anggota lain.
  • Hindari pemakaian bersama peralatan makan, perlengkapan mandi, dan seprai.
  • Membersihkan kamar setiap hari. Jaga kebersihan rumah dengan cairan disinfektan.
  • Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis, seperti batuk atau kesulitan bernapas.
  • Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika memburuk agar mendapatkan perawatan lebih lanjut. Perlu dicatat, jika kondisi semakin berat dengan saturasi di bawah 94 persen, segera hubungi tenaga kesehatan atau minta perawatan di rumah sakit.

Pasien yang menjalani isolasi mandiri membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, keluarga, tetangga, teman kerja, juga peran pemerintah dari berbagai tingkatan.

Keluarga dapat menyemangati agar pasien bersabar dan terus berfikir positif bahwa sakitnya bisa sembuh. Tetangga dan pemerintah desa, atau komunitas dapat membantu mengirimkan makanan dan kebutuhan lain agar pasien tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja.

Pemerintah dapat membantu penyediaan obat-obatan, vitamin dan juga oksigen jika dibutuhkan. Dengan kerjasama dan koordinasi yang baik dari berbagai pihak terkait dapat membantu pasien yang sedang isolasi mandiri agar lebih semangat untuk menjalankan berbagai upaya terapi agar dapat sembuh dari Covid-19. INSYA ALLAH KITA BISA! SALAM SEHAT.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry