Muhamad Khafid, S.Kep.Ns. M.Si – Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Siswa, santri atau peserta didik adalah mereka yang secara khusus diserahkan orang tuanya untuk mengikuti pembelajaran yang diselengarakan di sekolah ataupun pesantren. Tujuannya untuk menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berpengalaman, berkepribadian, berakhlak mulia, dan mandiri.

Karenya siswa, santri ataupun peserta didik harus mendapatkan fasilitas yang mendukung tercapainya tujuan tersebut tak terkecuali kesehatan dan kebersihan lingkungannya.

Penyakit kulit, skabies (kudis) sering kali menghinggapi para siswa/santri yang seharusnya bisa dicegah dengan peningkatan hidup bersihan dan sehat. Skabies (kudis) merupakan salah satu penyakit kulit yang endemis di negara beriklim tropis dan sub tropis.

Penyakit ini sering diabaikan oleh individu yang terkena dampaknya dan tidak memotivasi individu tersebut mendatangi pusat perawatan kesehatan yang berdekatan dengan tempat tinggal. Alasan mengapa skabies sering diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas penanganannya rendah.

Padahal sebenarnya skabies kronis dan berat dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Skabies menimbulkan ketidaknyamanan karena menimbulkan lesi yang sangat gatal. Akibatnya, penderita sering menggaruk dan mengakibatkan infeksi sekunder terutama oleh bakteri Group A Streptococci (GAS) serta Staphylococcus Aureus (Golant, et al. 2012). Komplikasi akibat infeksi sekunder GAS dan S.Aureus sering terdapat pada anak-anak di Negara berkembang (Golant, et al. 2012; Gilmore SJ. 2011).

Insiden dan prevalensi skabies masih sangat tinggi di Indonesia, menurut data DEPKES prevalensi skabies tahun 2013 masih 3,9 – 6 %. Prevalensi skabies yang tinggi umumnya ditemukan di lingkungan dengan kepadatan penghuni dan kontak interpersonal tinggi seperti penjara, panti asuhan dan pondok pesantren.

Amajida Fadia R (2012) dalam penelitiannya di salah satu pesantren dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan dermatologi terhadap semua santri (192 orang) didapatkan prevalensi skabies 51,6% (laki-laki 57,4% dan perempuan 42,9%; tsanawiyah 58,1% dan aliyah 41,3%) dengan lokasi lesi skabies terbanyak di bokong (33,8%) dan di sela jari tangan (29,2%).

Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa Skabies di suatu pesantren yang padat penghuninya dan higienenya buruk prevalensi penderita skabies dapat mencapai 78,7%, tetapi pada kelompok higienenya baik prevalensinya hanya 3,8%.

Faktor yang berperan pada tingginya prevalensi skabies di negara berkembang terkait dengan kemiskinan yang diasosiasikan dengan rendahnya tingkat kebersihan, akses air yang sulit, dan kepadatan hunian.

Tingginya kepadatan hunian dan interaksi atau kontak fisik antar individu memudahkan transmisi dan infestasi tungau skabies. Siswa atau santri yang mengidap skabies terganggu kualitas hidupnya karena keluhan gatal yang hebat serta infeksi sekunder.

Keluhan tersebut menurunkan kualitas hidup dan prestasi akademik. Sudarsono tahun 2011 dalam penelitiannya yang menunjukkan prestasi belajar santri menjadi lebih rendah dibandingkan sebelum menderita skabies.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah

Pengobatan dan pencegahan skabies mudah dilakukan dengan cure rate yang tinggi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, namun jika tidak secara masal dan serentak, maka rekurensi segera terjadi.

Dengan demikian, pengobatan dan pencegahan  skabies harus diikuti dengan penyuluhan kesehatan agar santri dapat mencegah rekurensi skabies. Agar penyuluhan kesehatan memberikan hasil yang baik, penyuluhan harus disesuaikan dengan karakteristik demografi masyarakat/santri antara lain jenis kelamin dan pendidikan.

Pencegahan penyakit skabies lebih penting dari pengobatan. Pencegahan penyakit ini lebih efektif jika dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan pencegahan penyakit memberikan informasi pengetahuan yang muaranya mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih higienis sehingga mampu mencegah berbagai macam penyakit, termasuk skabies.

Apa manfaat PHBS? Antara lain, setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas, anggota keluarga giat bekerja. Pengeluaran biaya pengobatan dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga, pembiayaan pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan.

Contohnya himbaun cuci tangan, melarang anak untuk berbagi barang pribadi seperti baju, handuk, selimut yang menjadi agen penularan Skabies melalui kontak dari kulit ke kulit (Zayyid 2010). Semakin rendah tingkat pendidikan sesorang maka tingkat pengetahuan tentang personal higienis juga semakin rendah.

Akibatnya menjadi kurang peduli tentang pentingnya personal higienis dan perannya dalam higiene rendah terhadap penyebaran penyakit. Perlu program kesehatan umum untuk mendidik populasi mengerti aspek pencegahan penyakit .

Indikator PHBS di institusi pendidikan/ sekolah (Depkes, 2008) meliputi: a. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun b. Mengkonsumsi makanan dan minuman sehat  c. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat  d. Olahraga yang teratur dan terukur  e. Memberantas jentik nyamuk  f. Tidak merokok  g. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan  h. Membuang sampah pada tempatnya.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka kegiatan Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah atau pesantren perlu ditingkatkan. Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa/santri dapat mempraktekkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi diri sendiri dan lingkungannya. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.