LIHAT IKAN : Armi Bachsin (istri Wagub Emil Dardak), Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan melihat ikan yang dipajang dalam acara Jatim Fish and Marine Exhibition 2019. (duta.co/wik)

SURABAYA | duta.co  – Potensi perikanan di Jawa Timur sangat besar. Pusat produksi dan pelelangan ikan juga tersebar hampir di semua kabupaten yang memiliki garis pantai. Mulai  Banyuwangi, Jember, Probolinggo, Situbondo, Pasuruan, Sidoarjo, Lamongan, Trenggalek, Malang, Pacitan dan Tulungagung dengan keunggulan produk ikan yang berbeda.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan Jatim berkontribusi besar terhadap produksi perikanan nasional. Saat ini, kinerja sektor perikanan mencapai Rp 5,9 triliun, setara dengan 2,3 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim.

Di tahun ini, Khofifah berharap Jatim tidak hanya berusaha meningkatkan konsumsi ikan namun mampu meningkatkan dan memaksimalkan seluruh energi positif yang dipunya, hingga teknologi dan jejaring.

“Bahwa di sektor perikanan kita bisa tingkatkan lebih baik. Contohnya kebutuhan ikan Patin sangat besar di Arab Saudi yang selama ini hanya bisa dipenuhi 10% dari Jatim dan 20% nasional. Kita harus memadu poduksi semua potensi ikan budidaya, mulai lele, gurami, bandeng, patin dan lain-ain. Sementara untuk ikan tangkap lebih pada pola prosesnya,” jelas Khofifah

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, mendorong stakeholder menerapkan pola Petik, Olah, Kemas, Jual. Sehingga, produk yang dihasilkan bernilai ekonomis. Hal ini juga berlaku bagi produk perikanan di Jatim.

Menurut Gubernur, hasil perikanan Jatim selama ini belum menerapkan pola Petik, Olah, Kemas, Jual. Sehingga, sebagian ikan yang tidak diolah, membusuk dan hanya menjadi tepung ikan.

“Jangan sampai ikan itu kemudian busuk karena tidak mendapatkan tempat pengawetan yang sesuai dengan kebutuhan pemenuhan pasar, jadi ikan yang busuk biasanya dipakai untuk tepung ikan,” katanya usai membuka Jatim Fish And Marine Exhibition (JFME) 2019, Jumat (15/11/2019) di parkir timur Surabaya Plaza.

Karena keterbatasan jumlah mesin pembuat tepung ikan, maka biasanya ikan yang busuk kemudian direbus, baru kemudian dikirim ke Kota tertentu, untuk disiapkan menjadi tepung ikan.

“Nah hari ini sepertinya sudah harus makin disiapkan proses Petik, Olah, Kemas, Jual. Kalau Petik, Kemas, Olah, Jual, sepertinya ikan enggak sampai membusuk, sudah ada proses hilirisasinya,” tuturnya.

Hilirisasi, atau produk produk dari bahan baku perikanan dan laut ini, dipamerkan dalam eksibisi di lapangan Parkir Timur Delta Plaza, Surabaya. Bahkan, Khofifah dibuat kagum dengan olahan ikan Tuna yang dijadikan ekstrak, menjadi coklat.

“Jadi kalau misalnya ada anak-anak yang kurang suka makan ikan, maka melalui coklat itulah sebetulnya ekstrak ikan itu bisa dikenalkan kepada anak-anak,” tambahnya.

Khofifah juga sempat membeli produk ekstrak ikan yang dicampur dengan kelor. Khofifah menyebut, kelor tinggi akan kandungan vitamin dan juga mengandung antioksidan.

“Saya belum coba, tapi tadi saya beli, dan ternyata bisa diformat dengan ekstrak ikan,” imbuhnya.

Dengan even pameran ini, Khofifah berharap, para peserta saling belajar dari satu Kota ke Kota lain, dari Kabupaten-Kabupaten lain. Karena mereka terbukti sudah cukup advance hilirisasi dari Petik, Olah, Kemas, Jual.

“Sekarang tugas pelaku industri besar dan pemerintah adalah membangun mediasi jejaring pemasarannya,” tandasnya.

Pecahkan Rekor MURI Penyajian Bandeng Presto

REKOR MURI : Armi Bachsin (istri Wagub Emil Dardak) dan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menerima sertifikat Rekor MURI penyajian 11.089 bandeng dalam acara Jatim Fish and Marine Exhibition 2019. (duta.co/wik)

Pemerintah Provinsi Jawa Timur berhasil mencetak Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) terbaru untuk kategori penyajian bandeng presto terbanyak, mencapai 11.089 ekor. Rekor ini mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kabupaten Pemalang dengan menyajikan bandeng presto sebanyak 9.936 ekor.

Senior Manager Muri Ariani Siregar mengatakan bahwa sejauh ini Muri telah mencatat  9.200 rekor dari seluruh Indonesia. Dan Jatim di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa sudah beberapa kali mencatatkan Rekor Muri. Pada 18 Maret lalu Jatim telah mencatatkan rekor Muri sajian lele terbanyak, juga ada rekor Muri sajian apel terbanyak dan pada  2 Juni 2019 mencatatkan Rekor Muri mudik gratis terbanyak dengan 270 ribu pemudik.

“Dan pada hari ini, Jatim kembali mencetak Rekor Muri penyajian bandeng presto terbanyak. Dan saya mewakili Ketua Umum Muri Sr Jaya Suprana mengumumkan sekaligus mengesahkan rekor Muri sajian bandeng presto sebanyak 11.089 ekor,” ujar Ariani saat menyerahkan sertifikat Rekor Muri kepada Gubernur Khofifah, saat acara Jatim Fish and Marine Exhibition 2019 di Parkir Timur Plaza Surabaya, Jumat (15/11/2019).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Gunawan Saleh mengatakan bahwa tujuan dilaksanakannya sebagai ajang promosi produk kelautan dan perikanan yang diikuti oleh pelaku usaha besar serta Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM). Selain itu, juga untuk buka akses pasar secara maksimal untuk mereka.

“Harapan kami, kegiatan ini juga mampu menumbuhkan ekonomi kreatif berbasis kelautan dan perikanan serta meningkatkan konsumsi makan ikan masyarakat Jatim,” seru Gunawan.

Sementara itu, Khofifah mengucapkan terima kasih pada pengusaha bandeng di Sidoarjo dan Gresik yang ikut menyukseskan pemecahan rekor ini. “Kalau ini (ikan, red) terus dikonsumsi, stunting di Jatim bisa dikurangi. Ayo teruskan gemar makan ikan,” ujar Khofifah. (zal/imm)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry