Hasil karya Sulaiman yang mampu membuat alat musik Rebana. (DUTA/abdul aziz)

PASURUAN | duta.co – Ide kreatif dan kejelian membaca peluang bisnis dilakukan Sulaiman, warga Pasuruan. Mantan penjual bakso keliling itu, kini menjadi pengrajin alat musik Rebana ternama. Dari usahanya, ia mampu mengeruk pundi-pundi rupiah, jauh melewati bisnis awalnya.

Pengrajin asal Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan ini, memproduksi alat musik Rebana. Ini ia tekuni sejak dari awal. Dengan memanfaatkan barang bekas yang terbuat dari alumunium yang didaur ulang. Meski awalnya ada sedikit kerepotan dengan hasil karyanya. Namun tak membuatnya putus asa. Upaya dilakukannya untuk sebuah kesuksesan untuk masa depan.

Semula hasil produksinya kurang dikenal. Namun lama-kelamaan, hasil karyanya dikenal dan diakui oleh para pembelinya yang telah mengetahui hasil karyanya. Meski penjualannya dengan cara tradisional, justru membuatnya banyak dikenal oleh masyarakat luas, bukan saja wilayah lokal, melainkan regional hingga internasional. Bahkan alat musik untuk alunan lagu yang bernada religius ini, ia produksi begitu ada pemesanan atau pembeli.

Pemasarannya sendiri merambah ke sejumlah daerah atau luar Jawa dan Kalimantan, sejak beberapa tahun ini. Sulaiman mendapatkan omzet rata-rata hingga mencapai Rp 80 juta tiap bulannya.

“Saya awalnya ingin merubah nasib. Yang awalnya berdagang bakso keliling. Yang pada suatu saat ingin ada perubahan, dan terus pingin usaha berkembang. Alhamdulillah harapan itu bisa terwujud,” papar Sulaiman, saat ditemui, Minggu (8/9).

Ia mengaku menggeluti usaha membuat alat musik Rebana sudah 6 tahun ini. Barang rongsokan dari bahan almunium dibelinya untuk didaur ulang diantaranya, velg sepeda motor, blok mobil dan panci masak yang sudah rusak. Untuk proses pembuatannya yakni dengan melebur bahan baku almunium rongsokan tersebut dengan proses panas tinggi, dengan menggunakan alat sederhana yang telah modifikasi sebelumnya.

Yakni menggunakan tungku yang dibuat secara manual. Setelah alumunium mencair kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan ditutup dengan menggunakan tanah. Beberapa saat kemudian cetakan itu diangkat dan dilanjutkan dengan proses penghalusan pada bagian yang kasar. Setelah dalam kondisi halus barulah dilakukan proses finishing, selaligus untuk mengetes hasil suara musik Rebana yang diinginkan.

Yakni dengan mengecat Rebana hingga bagian atas alat Rebana, dipasangi membran atau selaput yang terbuat dari plastik mika, yaitu untuk mempercantik dan menyempurnakan bentuk Rebana.”Saya memproduksi alat rebana ini sesuai dengan keinginan para pembeli atau pelanggan. Bagaimana kami harus tetap menjaga kualitas alat musik rebana, disamping itu harganya juga bisa terjangkau,” kata Sulaiman.

Untuk harga satu alat musik Rebana ini, Sulaiman memberi harga bervariasi, dilihat dari tingkat kesulitan proses pembuatan, bentuk serta ukuran. Untuk ukuran 8,25 inci, dijualnya dengan harga Rp 750 ribu – Rp 800 ribu. Sedangkan untuk ukuran 9 inci, dijualnya dengan harga Rp 1,2 juta rupiah per Rebana. Tiap hari ia mampu memproduksi 25 buah dan itupun juga tergantung pada persediaan bahan bakunya. (dul)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry