Wawan Leak, MPO (Majelis Pengarah Organisasi) Dewan Warga Surabaya. (FT/MKY)

SURABAYA | duta.co – Soliditas pemegang surat ijo di Surabaya, semakin solid. Target mereka tahun 2020, problem surat ijo, harus tuntas. Komunitas Dewan Warga Surabaya terus menggelar advokasi dari lorong kampung ke kampung.

Kini, 60 persen pemegang tanah ‘surat ijo’ sudah bergabung dan mendukung Sekretariat Kampanye UNWCI Indonesia melalui JAKI (Jaringan Aktivis Kemanusiaan Internasional).

Alasan bergabungnya ke Kampanye UNWCI adalah untuk memperjuangkan Rakyat Kota Surabaya agar mendapatkan kembali kekuatan dan solidaritas dalam Kedaulatan Rakyat Indonesia di Surabaya.

“Mereka seakan sudah tidak punya wakil rakyat, tidak memiliki pemimpin yang bisa mengayomi. Mereka hanya jadi komoditi politik jelang pemilu dan Pilwali. Setelahnya itu, sampah,” demikian disampaikan Wawan Leak, MPO (Majelis Pengarah Organisasi) Dewan Warga Surabaya, kepada duta.co, Rabu (15/1/2020).

Menurut Leak, keadilan bagi pemegang surat ijo sudah tidak ada. Dan, itu semua baru bisa dicapai ketika rakyat memiliki daya kekuatan. Baik kekuatan politik, ekonomi, hukum dan solidaritas.

“Kekuatan-kekuatan ini harus terpegang oleh setiap manusia sebagai instrumen remote control, baik di tingkat lokal, nasional hingga global. Tanpa itu, mereka menjadi sampah,” tegasnya.

Masih menurut aktivis (eksponen) ’80 ini, bahwa, problem surat ijo di Surabaya, tahun ini harus benar-benar tuntas. Penderitaan mereka, sudah tiada tara. Sementara, wakil rakyat sudah ‘tidak mau’ menyapa. Apalagi walikota.

“Hari ini warga terus melakukan konsolidasi. Tidak lama, Surabaya bakal menjadi perhatian nasional, bahkan dunia. Rakyat tidak kuat terus-terusan dikadali dengan oligarki politik, dibungkam dengan tirani kekuasaan. Saatnya kita bergerak, wayahe tandhang,” tegasnya serius. (zi)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry