Dekan FK Unair, Prof Budi Santoso (kanan) menyerahakan sertifikat bagi para tim FK Unair yang mengikuti misi Marco-19, Rabu (13/10/2021). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Hoax (berita bohong) selalu menjadi benalu dalam setiap program yang dilakukan pemerintah. Termasuk program vaksinasi Covid-19.

Terbukti, berita-berita yang tidak benar itu merasuk ke otak masyarakat khususnya di Kepulauan di Sumenep sehingga masyarakat tidak mempercayai adanya Covid-19 dan tidak mau untuk vaksinasi.

Itu dialami dan ditemui para dokter baru lulusan Fakuktas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang mengikuti program Marco-19 (Madura Sadar Covid-19) di Kepulauan Sumenep.

Sepuluh dokter baru dan dokter pesialis anastesi dan kandungan itu melakukan misi bersama Rumah Sakit Terapung Kesatria Airlangga (RSTKA) sejak 4 September – 4 Oktober 2021.

Mereka mengitari 12 kepulauan yang ada di Sumenep. Dipilihnya kepulauan Sumenep karena dari data dari Pemprov Jatim, Sumenep menduduki rangking paling bawah di antara daerah lain di Jatim.

Dari pelayaran mengarungi lautan, tim dokter memperoleh banyak hal yang bisa dijadikan bahan kajian dan penelitian.

“Ternyata informasi hoax yang menjadi faktor utama masih rendahnya cakupan vaksinasi Covid-19 di Sumenep,” kata Direktur RSTKA, dr Agus Hariyanto di sela penyambutan yang dilakukan FK Unair, Rabu (13/10/2021).

Koordinator Penelitian – Persuasi Marco -19 RSTKA, dr Sherly Yolanda mengakui dari penelusuran yang dilakukan, informasi hoax itu bervariasi sumbernya. Ada yang mendapatkan informasi salah dari anak-anak muda yang mendapatkan kabar yang tidak sesuai tentang Covid-19 dan vaksinasi dari media sosial, ada pula yang mendapatkannya dari keluarga yang tinggal di luar kota atau luar negeri. “Ketika ditanya, mereka juga tidak tahu dari mana sumbernya,” ujarnya.

Sherly mengaku pernah ada keluarga yang tidak percaya vaksinasi karena ada kabar keluarganya di kota mengalami borok di lengannya setelah di vaksinasi. Sherly dan tim mengaku tidak bisa memaksa keluarga itu untuk mempercayai vaksinasi tanpa ada bukti-bukti otentik tentang kondisi keluarganya itu.

Tim pun melakukan investigasi dengan mencari kebenaran akan berita tersebut. “KIta minta nomor telepon korban dan sebagainya. Kita tanya-tanya, ternyata boroknya itu karena infeksi. Bukan karena vaksinasi karena vaksinasinya sudah dilakukan dua bulan. Dari bukti-bukti itu, akhirnya mereka baru sadar dan bersedia divaksinasi,” jelasnya.

Menghadapi masyarakat Madura khususnya di kepulauan memang tidak mudah. Tim kata Sherly harus melibatkan banyak pihak, selain pemerintah kabupaten, desa hingga tokoh masyarakat. Lebih banyak mendengar menjadi strategi handal. Setelah itu, tim pun melakukan komunikasi persuasif. “Tidak bisa di sana itu kita mengutamakan ego kita. Semua harus pelan-pelan dan hati-hati,” tandas Sherly.

Dengn strategi-strategi itu, akhirnya apa yang menjadi misi tim ini bisa berhasil. Target 3 ribu dosis vaksin habis disuntikkan ke masyarakat di 12 kepulauan itu. “Sehingga per 5 Oktober lalu, Sumenep naik dua peringkat menjadi 36 dari 38 kabupaten/kota di Jatim untuk capaian vaksinasi,” tandasnya.

Apa yang dilakukan tim ini, mendapatkan apresiasi dari FK Unair. Dekan FK Unair, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG(K) menyambut mereka dengan suka cita. Karena ini misi yang sangat mulia untuk perluasan capaian vaksinasi Covid-19, selain melakukan misi pengobatan bagi masyarakat.

Atas apa yang dilakukan tim ini, FK Unair memberikan sertifikat serta uang saku bagi seluruh tim yang terlibat.

“Kita apresiasi langkah yang dilakukan. Ini misi mulia sebelum para dokter-dokter baru itu melakukan internship ke berbagai daerah yang sudah dipilihnya,” ungkapnya.

Ketua Ikatan Alumni (IKA) FK Unair, dr Nizar Yamanie, SpS(K) juga mengapresiasi apa yang dilakukan para alumni-alumni ini. “Kami salut dengan misi ini. Semoga percepatan vaksinasi Covid-19 bisa dicapai terutama di daerah-daerah kepulauan,” kata dr Nizar yang juga memberikan uang saku pada seluruh tim FK Unair. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry