Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar Soeharto.

JOMBANG | duta.co – Di tengah krisis keteladanan dan kegamangan arah pembangunan bangsa hari ini, nama Jenderal Besar H.M. Soeharto kembali disebut dengan nada rindu sekaligus kontroversi. Sejarah mencatat, ia bukan sekadar penguasa selama 32 tahun, melainkan sosok yang menorehkan jejak kuat tentang bagaimana negara bisa berdiri tegak melalui disiplin, stabilitas, dan kerja nyata.

Tiga warisan besar membuatnya tetap hidup dalam memori bangsa antara lain penumpasan Gerakan 30 September PKI, keberhasilan mewujudkan swasembada pangan, dan gelar abadi sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Jombang, H. Andik Basuki Rahmat, melihat Soeharto sebagai prajurit sejati dengan nasionalisme tinggi. Menurutnya, Soeharto tampil di panggung sejarah saat negara berada di ambang kehancuran akibat tragedi G30S/PKI tahun 1965. Saat situasi politik dan keamanan genting, beberapa jenderal gugur, dan rakyat dicekam ketakutan, Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Kostrad bergerak cepat memulihkan keadaan, menumpas gerakan tersebut, serta mengembalikan kendali negara kepada pemerintahan yang sah.

“Langkah tegasnya menandai lahirnya era baru yang kemudian dikenal sebagai Orde Baru, dengan semangat utama stabilitas politik dan keamanan nasional,” ujar Andik, Selasa (11/11).

Tak berhenti pada ranah militer, lanjutnya, Soeharto kemudian mengarahkan fokus pada pembangunan ekonomi nasional. Melalui kebijakan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara), ia menata sistem pembangunan yang terukur dan berkesinambungan. Jalan raya, jembatan, waduk, sekolah, hingga puskesmas tumbuh di berbagai pelosok negeri.

“Karena kontribusi besarnya itu, sudah sewajarnya rakyat memberi gelar Bapak Pembangunan Nasional, simbol penghormatan terhadap perannya membangun fondasi ekonomi dan sosial Indonesia modern,” tegas mantan Kepala Desa Godong, Kecamatan Gudo, Jombang itu.

Puncak keberhasilan era Soeharto tercatat pada tahun 1984, ketika Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan, khususnya beras. FAO (Food and Agriculture Organization) bahkan menganugerahkan penghargaan kepada Indonesia atas prestasi tersebut. Program intensifikasi pertanian seperti Bimas, Inmas, dan transmigrasi menjadi kunci sukses peningkatan produksi pangan nasional.

Saat itu, lanjut mantan lurah dua periode ini, bagi banyak petani kala itu, nama Soeharto identik dengan keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat kecil.

Kini, puluhan tahun setelah lengsernya Orde Baru, sejarah tetap mencatat Soeharto sebagai pemimpin dengan visi besar membangun bangsa melalui disiplin, stabilitas, dan kemandirian ekonomi. Tiga capaian utamanya masih menjadi bahan refleksi dan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa yang tengah mencari arah baru di tengah derasnya arus zaman.

“Sejarah tidak pernah lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian mengambil keputusan di saat bangsa terancam,” pungkasnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry