Pakar Helicobacter Pylori dari kampus itu, Prof Yoshio Yamaoka , MD PhD (dua dari kanan) bersama para  dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair di sela acara Adjunct Professor di Aula FK Unair, Kamis (28/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Tiga suku di Indonesia yakni Papua, Batak dan Bugis rentan terkena Helicobacter Pylori. Ini adalah penyakit yang terjadi pada lambung karena adanya kuman kecil pada lambung.

Ketiga suku di itu 40 persen masyarakatnya terkena penyakit itu.  Bahkan dampak terparahnya bisa mengalami kanker lambung.

Namun uniknya masyarakat di suku Melayu termasuk di dalamnya Sunda, Jawa dan sejenisnya justru tidak mengalami itu. Kalau pun ada itu pun tidak banyak hanya 2,8 persen.

Minimnya Suku Melayu  mengalami kondisi ini menjadi hal menarik untuk diteliti.  Departemen  Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pun mencoba untuk melakukan penelitian bersama dengan banyak pihak. Salah satunya dengan Faculty of Medicine Oita University.

Pakar Helicobacter Pylori dari kampus itu, Prof Yoshio Yamaoka , MD PhD didatangkan dalam program Adjunct Professor. Tujuannya untuk melakukan kolaborasi penelitian tentang penyakit itu.

Dosen Departemen Ilmu penyakit Dalam FK Unair,  Dr dr Mohammad Miftahussurur, SpPD mengatakan justru rendahnya orang Melayu termasuk di dalamnya orang Jawa dan Sunda menjadi menarik bagi para peneliti.

“Kalau pun ada yang kena tidak sampai mengarah ke kanker lambung. Ini kenapa. Kita penasaran untuk terus melakukan penelitian,” ujarnya.

Sejauh ini penelitian yang banyak dilakukan adalah human migration di mana menggubungkan suku-suku yang rentan terkena itu asal usulnya dari mana dan sebagainya.

Ada juga yang meneliti kaitannya dengan makanan. Ternyata tidak demikian. Memang kebersihan makanan berpengaruh terhadap penyebaran infeksinya. “Tapi kalau makanannya tidak menyebabkan terjangkitnya penyakit ini,” tukasnya.

Karenanya ditambahkan Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair, dr Poernomo Boedi, SpPD, dengan melakukan penelitian bersama pakar dari Jepang ini, diharapkan nantinya ditemukan secara lebih jelas apa penyebab pastinya penyakit ini.

“Sehingga kami ke depan bisa melakukan antisipasi, tindakan pencegahan itu kan lebih baik. Selain itu juga bisa memberikan pengobatan yang tepat sasaran karena penyebabnya sudah jelas,” tukas dr Poernomo.

Selain itu, kedatangan professor dari Jepang ini sebagai salah satu langkah FK Unair mendukung lembaga Universitas Airlangga untuk menuju 500 universitas ternama di dunia. “FK ini salah satu fakultas yang diandalkan oleh Unair,” tandasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.