Keterangan foto dnaindia

“Zaman itu tidak ada pasukan barakuda, pasukan branjangan, juga tidak ada Satgas Partai. Kemudian seorang dari mereka mendekati Yahudi, memberitahu bahwa ada perintah pembongkaran paksa datang dari Gubernur Mesir.”

Oleh : Mokhammad Kaiyis*

MENARIK! Eksekusi Graha ASTRANAWA, Rabu (13/11/2019) menyisakan kisah menarik. Bukan lantaran keterlibatan ribuan aparat, plus kendaraan Barakuda dan Branjangan yang berjejer panjang. Tetapi, borgol di tangan saya, ternyata, tak kalah menarik.

Ya! Saya bisa belajar dari borgol itu. Begitu borgol dilepas, saya bersama Udik Laksono dibawa ke dalam pos polisi. Sementara, teman saya, Said Utomo, Ketua YLPK Jawa Timur, ‘menyelinap’ menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara), di mana eksekusi GRAHA ASTRANAWA berlangsung.

Ada yang lucu. Di antara polisi mengaku dari keluarga pondok pesantren. Bagi saya, itu tidak penting, tidak nyambung. Saya sempat bilang kepada polisi berpakaian preman itu: Mau keluarga pesantren atau tidak, itu tidak penting. Tetapi, ini, soal supremasi hukum.

Saya sempat katakan begini: Saat ini ada tiga orang yang tidak boleh dilawan. Pertama, orang pangkat. Kedua, konglomerat. Ketiga, orang gila alias bermental bejat.

Mengapa mereka tidak boleh dilawan? Karena kita tidak hidup di zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra. Tidak pula di zaman Umar bin Abdul Aziz. Kita hidup di zaman kolobendu (kekacauan), atau zaman angkoro murko dalam prediksi Prabu Jayabaya yang hidup di abad 12.

Bayangkan. Dalam proses eksekusi ASTRANAWA itu, saya dan sejumlah wartawan Duta Masyarakat tidak bisa berhadapan dengan juru sita eksekusi dari PN Surabaya. Meski sudah membawa bukti perlawanan hukum, tetapi, saya dkk terhalang pagar betis polisi. Belum lagi sulitnya mendapatkan (hak) jawaban Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Ini berbeda dengan zaman Khalifah Umar. Ketika Umar memimpin, non-muslim (miskin) pun terlindungi. Orang kecil yang hanya bisa berteriak, mengadu, didengar secara apik oleh Umar. Meski hanya sebuah gubuk reyot, nyatanya, selamat dari angkoro murko Sang Penguasa.

Sekarang, semua itu tinggal kisah. Syukurlah, masih enak dibaca.

Ceritanya begini: Saat itu, seorang Yahudi sedang leyeh-leyeh (berbaring) di gubuknya yang reyot. Ia terbayang ucapan Gubernur Mesir Amr bin Ash, agar mau melepas tanahnya untuk pembangunan sebuah Masjid.

“Tanahmu akan kubeli. Harganya bisa 10 kali lipat. Setelah itu, dibangun masjid di bekas gubukmu,”  demikian kalimat Sang Gubernur Amr bin Ash yang selalu diingat Yahudi miskin ini.

Sebagai orang kecil, Yahudi hanya bisa meneteskan air mata, menangis. Ini harta satu-satunya. Maka, ia pun bertahan untuk tidak menjualnya. Bukan berarti benci Masjid, tetapi, demi masa depannya.

“Maaf Tuan! Ini harta satu-satunya. Meski diganti 10 kali lipat, saya tidak mau. Ini tempat terakhir saya, Tuan,”  jawabnya memelas.

Gubernur Mesir Amr bin Ash lalu menjelaskan panjang lebar. “Apakah kamu tidak tahu bahwa di situ akan dipakai untuk masjid demi kemaslahatan kaum muslimin?”.

“Walau pun untuk masjid tidak akan aku jual, gubuk itu sangat bernilai bagiku, Tuan Gubernur,” Yahudi tetap bertahan.

Tanpa terasa, pagi cepat datang dan didengarnya suara derap kaki pasukan mendekati gubuk tersebut. Zaman itu tidak ada pasukan barakuda, pasukan branjangan, juga tidak ada Satgas Partai. Kemudian seorang dari mereka mendekati Yahudi, memberitahu bahwa ada perintah pembongkaran paksa datang dari Gubernur Mesir.

Berdirilah dia memandangi pasukan-pasukan yang kuat–kuat tersebut. Dengan mudahnya aparat itu mencabuti tiang-tiang gubuk yang sudah rapuh, seakan mencabuti bulu-bulu ayam. Atapnya yang terbuat dari jerami, berhamburan bersamaan dengan tercerabutnya tiang-tiang tersebut.

Sesekali, dia berlari di bawah ketiak pasukan pasukan yang emosional merobohkan gubuknya. Tidak kuasa melawan. Hanya bisa berteriak. Habislah gubuk riwayat itu. Dalam benaknya, hanya tertinggal suara sepatu aparat yang jahat.

Lalu ke mana harus mengadu? Ada Amirul Mukminin Umar Bin Khatthab. Tapi apakah peduli? Bukankah dia anak buahnya? Yahudi ini bingung. “Bagaimana pun Gubernur Mesir itu bawahannya. Saya pasti akan adukan ketidakadilan ini kepada khalifah Umar,” demikian Yahudi.

Akhirnya, Yahudi ini pergi menuju Madinah, kota di mana Umar sebagai atasan Gubernur Mesir, tinggal. Perjalanan dari Mesir ke Madinah secara umum memakan waktu tiga bulan dengan berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, ia terdiam. “Jangan-jangan Umar malah meremehkan laporanku dan membela gubernurnya. Apalagi eksekusi sudah selesai. Ah.., masa bodoh! Yang penting lapor,” gumannya.

Selama 90 hari, 90 malam menuju Madinah, akhirnya Yahudi tiba. Setelah mencari rumah sang Khalifah, dia lalu minta izin bertemu. Lama sekali dia memandangi rumah Umar yang sangat sederhana. Sesekali dia menghela nafas, begitu membandingkan dengan istana megah nan mewah yang didiami bawahannya, Gubernur Mesir.

“Apa keperluanmu?” tanya Umar dengan nada tegas.

“Saya hendak mengadukan perilaku bawahan Anda, Gubernur Mesir,” begitu Yahudi dengan badan gemetar.

“Heeeem.. Amru Bin Ash yang engkau maksud?” Umar memperjelas orang yang dimaksud Yahudi ini.

“Ya, begitulah… orang memanggilnya..” jawab Yahudi.

Dia pun diminta menceritakan kronologi kasusnya. Begitu usai, tanpa banyak kata, Umar berkata kepadanya. “Ambillah tulang busuk itu!” kata Umar sambil menunjuk pada tulang yang sudah membusuk di depannya.

Setelah diambil dan diberikan kepada Umar, sang khalifah mengeluarkan pedang dari sisi bajunya. Ini membuat Yahudi makin gemetar dan merinding. Umar menggoreskan pedang kebesarannya, terdengar miris di telinga. “Sssreng..” bunyi goresan pedang tersebut.

“Pulang dan berikan tulang ini kepada Gubernurmu,” begitu perintahnya.

Tanpa banyak kata, dia pun pulang menuju Mesir. Karena kewibawaan Umar, Yahudi ini merasa lega. Meski belum tahu apa maksud goresan pedang di tulang busuk ini. Yang jelas, aura Khalifah mampu menahan emosinya.

Tanpa mengingat gubuknya yang digusur, dia menuju Istana Gubernur untuk menyampaikan tulang busuk bergaris lurus tersebut. “Saya telah mengadukan penggusuran gubukku kepada Umar dan beliau menitipkan tulang ini kepadamu,” demikian Yahudi tersebut dengan gagah.

Apa yang terjadi? Sang Gubernur langsung gemetaran. Seluruh pasukannya diminta cepat membangun kembali gubuk yang sudah rata dengan tanah tersebut. Lalu, Gubernur Amru bin Ash menangis. Melihat ini, Yahudi terheran.

“Mengapa engkau menangis! Bukankah engkau sudah perintahkan aparatmu untuk membangun kembali gubuk saya?” Yahudi bertanya.

Amr bin Ash lalu menjelaskan: “Tahukah Anda, apa makna goresan pedang itu…? Jika kamu (Amr red.) tidak berlaku lurus seperti ini, maka, aku (Umar red.) akan luruskan  kamu dengan pedang ini…,” jelas gubernur.

Saat itu pula Yahudi itu ikrar masuk Islam dengan bersyahadat.

Ya! Itu, zaman Umar. Kini, jangan berharap. Mengapa? Meminjam bahasa Surya Paloh, Ketua NasDem: Above all, money is power (uang berkuasa di atas segalanya). Jadi? Jangan lawan pejabat, jangan lawan konglomerat dan jangan (pula) melawan orang gila bermental bejat. Waallahu’alam. Sebagian narasi ini juga ditulis Nurkholis Ghufron di Kompasiana.com. (*)

*Mokhammad Kaiyis, Pemred HU Duta Masyarakat.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry