Tiga mahasiswa dari Thailand berbincang dengan Ketua Yarsis, Prof Mohammad Nuh, DEA. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co  – Program pertukaran mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus belanjut. Terutama untuk Program Sea Teacher yang diselenggarakan SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization).

 Tahun ini tiga mahasiswa Valaya Alongkorn Rajabhat University (VRU), Prathum Thani, Thailand ditempatkan mengajar di SD Khadijah Surabaya selama tiga pekan sejak awal Agustus 2019 lalu.

Keberadaan mereka di Indonesia difasilitasi Global Engagement Nahdlatul Ulama of Surabaya (GENUS) yang telah bekerja sama dengan SEAMEO dalam program Sea Teacher Program (Preservice Student Teacher Exchange in Southeast Asia).

Program ini diselenggarakan SEAMEO guna menjembatani mahasiswa yang ingin mendapatkan pengalaman mengajar di negara lain.

Ketiga mahasiswa VRU Thailand masing-masing Chatchai Sukhom, Marzukee Abdulwaris, Roongroj Kahawong (James).

Ketiganya mengaku tertarik dengan proses pembelajaran di SD Khadijah Surabaya. Terutama suasana kekeluargaan yang terbentuk di lingkungan pendidikan baik di kampus Unusa maupun SD Khadijah Surabaya.

“Suasana belajar mengajar di SD Khadijah sangat akrab . Tidak muncul suasana yang kaku (formal) dan tidak ada gap (jarak) antara siswa dan guru.

Ini sangat membantu para siswa merasa nyaman dan tidak merasa takut selama belajar, terutama pada pelajaran yang sulit seperti bahasa Inggris,” kata Chatchai (22) salah satu peserta Sea Teacher.

Chatchai menjelaskan tata letak meja dan kursi dalam ruangan kelas didesain lebih homy dengan letter U. Ini berbeda dengan suasana kelas di Thailand di mana guru berada di depan dan tengah dengan bentuk theater sehingga sangat formal.

Bahkan Chathai sudah berencana akan mengadopsi tata letak meja kursi di ruang kelas tersebut saat kembali ke Thailand.

Kenyamanan dalam kelas inilah yang dirasakan ketiganya sangat membantu untuk cepat beradapatasi di lingkungan sekolah yang baru.

“Jujur, awalnya ada rasa khawatir kami, terutama dalam berkomunikasi mengajar bahasa Inggris. Namun ternyata para siswa sangat aktif dan cepat akrab.

Di antara siswa yang sudah lebih paham bahasa Inggris mau membantu mengajari temannya. Ini tentu cukup melegakan dan memudahkan kami juga dalam belajar mengajar di kelas,” katanya.

Selain itu suasana religius juga menyedot perhatian mereka. Para siswa diperbolehkan untuk menjalankan ibadah tanpa terganggu proses belajar mengajar.

Hal ini berbeda dengan di Thailand yang mengharuskan siswa menyelesaikan tugas terlebih dahulu. Dari ketiga mahasiswa Thailand hanya Marzuke yang beragama Islam, sedangkan Chathai dan James beragama Budha.

“Para siswa mencium tangan sebagai tanda hormat kepada para guru, termasuk kami,” kata James.

Direktur GENUS Wiwik Afrdah, SKM., Mkes, mengatakan tiga mahasiswa Thailand ini ikut dalam program SeaTeacher batch 8. Sebagai bagian dari bentuk pertukaran mahasiswa, tiga mahasiswa Unusa juga akan magang di negara Pilipina dan diberangkatkan akhir Agustus 2019.

“Pertukaran mahasiswa Sea Teacher tahun lalu, Unusa mengirimkan tiga mahasiswa ke Pilipina dan sebaliknya, Unusa menerima tiga mahasiswa magang juga dari Pilipina,” katanya.

Sementara itu Koordinator PPG-SD (Pendidikan Profesi Guru Sekolah Dasar) Unusa sekaligus Koordiantor Sea Teacher Batch 8,  Nafiah, S.Pd.I.,M.Pd mengatakan, Unusa tetap melakukan pendampingan kepada ketiga mahasiswa magang dari VRU Thailand tersebut selama mengajar bahasa Inggris di SD Khadijah Surabaya.

 “Untuk membantu mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan, kami menggelar welcome party bersamaan dengan kuliah perdana PPG-SD dalam jabatan tahap 3. Harapannya mereka bisa cepat berbaur dengan para peserta PPG yang juga para guru dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Gresik, Tuban,” kata Nafiah. ril/end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.