(Suluk Tahap Pertama (9-12 Ramadhan 1447 H), melaksanakan Amal Lima dengan penuh perjuangan lahir batin)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

SENJA belum lama tenggelam di balik atap-atap langgar dan dinding waktu yang basah oleh kumandang tadarrus setelah shalat tarawih dan witir. Di pelataran pendopo agung, Pondok Pesantren Pasulukan yang disinari lampu temaram, puluhan jiwa melangkah perlahan, lelaki dan perempuan, dari Jakarta hingga Sumatera, dari Madura hingga Sulawesi Tenggara. Mereka datang bukan membawa dunia, melainkan kerinduan hakiki untuk kembali kepada Sang Asal.

Telah dibai’at mereka. Diletakkanlah janji dalam batin, disematkan oleh mursyid di bawah langit malam yang bersaksi. Maka sejak detik itu, mereka bukan lagi pejalan biasa. Mereka adalah salik, pengembara cahaya yang memilih jalan sunyi menuju hadirat-Nya.

Hari Pertama: Memasuki Diri yang Asli

Pagi-pagi benar, ketika ayam belum selesai menyerukan takbir-nya, para salik telah duduk. Bersila tawaruk kiri, tangan bersedekap sunyi di pangkuan, mata terpejam, dan lidah diam. Namun hati mereka menyala.

الله… الله… الله…

Lafaz ismu Dzat itu mengalir dari pusat batin, dari Latifah al-Qalbu, seperti tetesan embun dari langit ghaib. Di setiap 100 kali, mereka menyelipkan permohonan rahasia:

الهى أنت مقصودي ورضاك مطلوبي (Ya Allah, Engkau Tujuanku dan ridha-Mu adalah yang kucari)

70.000 kali dalam sehari semalam. Mereka seperti menabur benih dalam tanah kalbu yang lama kering. Tangan mereka tak tampak bergerak, tetapi di dalam, sebuah revolusi tengah terjadi. Bukan revolusi darah, tapi revolusi makna. Mereka telah masuk dalam pusaran dzikir khafi, dzikir diam yang lebih nyaring dari dentang dunia.

Hari Kedua: Dzikir Menjadi Nafas

Kini dzikir bukan lagi tugas. Ia telah berubah menjadi nafas. Seperti desah napas bayi di dada ibunya, lafaz Allah menjadi denyut mereka yang baru. Satu per satu, mereka mulai merasakan, bahwa Allah itu bukan dalam kata, tapi dalam keberadaan. Bukan dalam suara, tapi dalam kehadiran.

Salah satu dari mereka menulis dalam catatan kecilnya:

“Aku merasa tidak sedang menyebut, tapi diserbu oleh sebutan. Lafaz Allah bukan keluar dari mulutku, tapi seperti masuk ke dalamku.”

Dan ketika rasa itu menyentuh dasar jiwa, tiba-tiba lafaz itu menyingkapkan sebuah pemahaman yang dalam:

ذات الله واحد بلا كيف ولا مثل Dzat Allah itu Tunggal, tanpa kaif (cara), tanpa mitsl (yang menyerupai). Ia tidak mirip apapun. Tidak bisa digambarkan. Tidak bisa dijangkau dengan akal, namun bisa dirasakan dalam hening. Itulah sebabnya dzikir ini diam, karena bahasa manusia tidak layak mengukur Dzat yang tak terbatas.

Hari Ketiga: Langkah yang Menjadi Cahaya

Hari ketiga tidak lagi seperti hari-hari biasa. Udara pagi membawa keheningan yang penuh gema. Para salik duduk lebih khusyuk, bahkan waktu seakan mengecil dalam keabadian. Mereka tahu, bahwa suluk bukanlah tentang selesai atau tidaknya bacaan, tapi tentang hadirnya Tuhan dalam hati yang lapang.

Mereka mulai memahami bahwa 70.000 dzikir bukan angka. Ia adalah jalan pulang. Jalan untuk kembali ke rumah sejati, rumah yang tidak berdinding, rumah yang disebut oleh para arif sebagai “fu’ad”, inti kalbu yang paling dalam. Di sanalah Tuhan menatap.

Maka yang tersisa dari suluk hari-hari pertama ini bukanlah lelah, tapi rasa cukup. Cukup dengan Allah. Cukup dengan diam. Cukup dengan perjalanan yang menuju-Nya. Lalu langit pun membuka tirainya, dan shalat malam menjadi puncak kebangkitan jiwa yang basah oleh rindu.

Mutiara Hikmah: Sebuah Cahaya dalam Diri

Perjalanan tiga hari ini bukan akhir, melainkan pintu gerbang. Dan bagi para salik, gerbang itu telah terbuka. Kini mereka berjalan tidak dengan kaki, tetapi dengan dzikir.
Mereka berbicara bukan dengan suara, tapi dengan diam yang bermakna.

Dan mereka tahu, bahwa setiap “الله” yang terucap dari qalbu mereka, adalah cahaya yang menembus gelapnya tabir dunia.

“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.”

Dan dari langkah pertama dalam suluk ini, mereka mulai memahami entitas dirinya, sebagai hamba, sebagai kekasih, dan sebagai makhluk yang ditarik kembali oleh Cinta yang Maha Abadi.(*)

Catatan Harian Suluk Ramadhan 1447 H

#SulukRamadhan1447H
#PonpesAlMasykuriyah
#SyeikhAliMasykurMusa
#DzikirKhafiNaqsyabandiyah

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry