
SURABAYA | duta.co – Penyelenggaraan kompetisi olahraga antarperguruan tinggi Kampus League 2026 tdak hanya berfokus pada pencapaian prestasi di lapangan, tetapi juga menekankan pembentukan karakter dan integritas akademis para pesertanya.
Melalui penerapan konsep student-athlete secara ketat, ajang ini berkomitmen melahirkan atlet kampus yang seimbang antara akademik, prestasi olahraga, dan kepedulian sosial.
CEO Campus League, Ryan Gozali menegaskan pentingnya menempatkan peran “mahasiswa” di atas status sebagai “atlet”. Hal ini menjadi pembeda utama antara kompetisi tingkat kampus dengan liga profesional.
Guna menjaga marwah kompetisi perguruan tinggi, Campus League menetapkan aturan ketat terkait usia dan status keaktifan mahasiswa. Pihak penyelenggara secara tegas melarang skema “mahasiswa abadi” untuk berlaga dalam kompetisi.
Setiap pemain dibatasi oleh usia maksimal. Dikatakannya Ryan, seunggul apa pun kemampuan seorang pemain, ia tidak diperkenankan mewakili kampusnya apabila usianya telah melebihi batas yang ditentukan.
Campus League mengusung pilar akademik di mana setiap peserta wajib memenuhi standar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 2,25 agar memenuhi syarat untuk bertanding.
“Seperti namanya, student-athlete: student, atlet. Bahkan kata ‘student’ ada di depan, bukan sekadar atlet. Tanggung jawab utama mereka adalah sebagai mahasiswa, sehingga kewajiban akademiknya harus terpenuhi terlebih dahulu,” ujar Ryan.
Selain pilar akademik, Campus League juga menerapkan Pilar Afinitas (affinity) yang bertujuan membentuk empati dan kepedulian sosial para atlet. Seluruh peserta kompetisi diwajibkan untuk melakukan aksi bakti sosial minimal selama 6 jam.
Salah satu bentuk nyata dari pilar afinitas ini ditunjukkan melalui kegiatan donor darah yang diselenggarakan di area pertandingan selama gelaran seri Surabaya berlangsung.
Penyelenggara menekankan bahwa pendekatan ini dirancang untuk membentuk manusia secara utuh—tidak hanya unggul secara fisik tetapi juga tangguh secara akademik dan memiliki kepekaan hati.
Kapten Tm Unesa, Kalley Rayo mendukung adanya syarat IPK untuk bisa ikut Campus League. Dengan cara itu, atlet yang ada di kampus ini bertanggung jawab terhadap akademiknya.
“Biar seimbang. Kita kan memang tujuannya kuliah. Sehingga bisa lulus tepat waktu sambil menyalurkan kegemaran berolahraga,” ungkapnya.
Campus League diharapkan dapat menjadi jembatan berkelanjutan yang menyambungkan pembinaan atlet dari jenjang sekolah menengah (SMA), menuju bangku perkuliahan, hingga membuka jalan menuju karir olahraga profesional di masa depan.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITS, Prof. Nurul Widiastuti mendukung penuh gelaran Campus League ini. Dia mengaku ITS memiliki banyak fasilitas olahraga.
“Silahkan dilihat. Kalau mungkin ada yang kurang sampaikan pada kami. Kami akan benahi agar bisa dijadikan tempat kompetisi semacam ini. Kami mendukung penuh,” tandasnya. lis




































