(Menanggapi Tulisan Sekretaris ISNU di Jawa Pos 29 Maret 2019)

Oleh : Mukhlas Syarkun*

TULISAN Sekretaris PP ISNU itu (Sdr M Kholid Syeirazi, Jawa Pos 29 Maret 2019) adalah upaya mencari pembenaran keterlibatan struktur NU mendukung 01 dalam pusaran pilpres 2019. Dengan beralasan  semata-mata dalam kerangka menjaga NKRI dari rongrongan HTI, dan juga dibuat sensasi seolah-olah ada perang ideologi.

Isu sensasi HTI,  seperti ini pernah mencuat di pilkada DKI dan  kini diulang kembali di Pilpres 2019, tentu  ia hanya akan menjadi hantu belaka, sebab warga NU khususnya kaum santri sudah mempunyai pakem dalam melihat  HTI dengan ide khilafahnya, yaitu “akan dilihat berdasarkan dalil aqli maupun dalil Naqli”.

Pertama, dalil aqli. Sesungguhnya konsep khilafah HTI, dari segi dalil aqli adalah ilusi, dan ini tidak mungkin terwujud,  Profesor Syaikh Yasin pakar politik  dari Mesir Membuat kesimpulan konsep khilafah yang diusung Hizbut tahtir itu adalah ilusi belaka. Dalam kontek HT Indonesia semakin kelihatan ilusinya apa lagi kemudian dikaitkan dengan pasangan 02 yang sudah terang-terang menolak  ideologi  yang bertentangan dengan Pancasila.

Kedua, berdasarkan dalil naqli dalam al-quran surah alhujarat ayat 13, dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia bersuku suku berbangsa bangsa, maka secara kodrati ide khilafah ilusi  karena melawan kodrati Tuhan.

Sungguh disayangkan kelompok NU dari kalangan intelektual tidak mencerdaskan dengan argumentasi subtansial, tapi malah menebar isu sensasi.

Selain HTI, isu sensasi yang munculkan adalah perang ideologi, dan ini tentu akan memancing suasana tambah panas, sebab jika perang ideologi dan sudah distigma 02 dibelakangnya ideologi khilafah HTI, maka akan memancing stigma ideologi dibelakang 01 adalah PKI.

Sungguh melempar isu perang ideologi tidak baik dalam pendidikan politik, dan bahkan bisa menjadi pemicu memanasnya pilpres yang semakin panas.

Mestinya kalangan intelektual bisa ikut andil memberi pendidikan politik yang mencerdaskan, juga proaktif mendinginkan suasana, bukan malah menjadi provokator, bukankah demikian kawan. (*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.