FT/cafebiz

Oleh: Abdul Halim Fathani*

TULISAN Hasanudin Abdurakhman, yang terbit di detikNews, pada Senin, 20 Januari 2020 11:23 WIB, menarik kita renungkan bersama. Mari kita perhatikan bersama, di bagian akhir tulisan ‘Kang Hasan’, “Pendidikan kita harus diubah, dari pendidikan yang mengajarkan pelajaran, menjadi pendidikan yang mengajarkan cara belajar.”

Memang, harus kita akui, selama ini masih ada –sebagian- guru-guru kita yang masih mengutamakan tuntasnya materi pelajaran yang harus dikuasai siswa. Dan, kadang siswa juga akhirya ‘terpaksa’ menerima pelajaran itu dengan ‘susah payah’, seringkali mengandalkan hafalan semata. Sering terjadi, ketika waktunya belajar Matematika, siswa asyik dengan contoh soal-contoh soal, yang diberikan guru. Namun, ketika sudah berhadapan dengan soal lain yang sedikit berkembang, siswa mengalami ‘kebingungan’, bahkan menghadapi kebuntuan alias macet.

Kenapa ini bisa terjadi? Salah satunya, ya karena, gurunya ‘asyik’ menyampaikan materi, sementara siswanya ‘hanya’ menerima materi pelajaran.

Cara Belajar

Saya sependapat dengan tulisan Kang Hasan, bahwa saat ini, sudah semestinya guru memiliki orientasi pembelajaran yang dapat menggerakkan dan menginspirasi siswa untuk mengembangkan diri. Guru harus dapat menuntut siswa agar tidak puas dengan materi yang diberikan guru ketika tatap muka di kelas. Siswa harus dapat mengembangkan materi untuk dilakukan interaksi dengan kehidupan riil di masyarakat.

Sebaliknya, guru harus mampu memberikan dorongan agar siswa terinspirasi untuk terus mengembangkan diri. Oleh karenanya, guru harus memberikan alat ‘cara belajar’, bukan lagi ‘hanya’ memberikan materi pelajarannya saja.

Guru harus dapat menggerakkan siswa untuk terinspirasi dan terus tergerak untuk mengembangkan diri. Siswa juga harus diri, untuk berkomitmen mengembangkan diri. Guru yang baik, bukanlah guru yang memenjarakan siswanya.

Tetapi guru yang baik adalah guru yang mengakomodasi berbagai kemungkinan perkembangan kreativitas pikirannya. Guru yang baik, pasti guru yang mendorong siswanya untuk dapat mengolah pikiran yang merdeka. Sekolah harus bisa menjadi “taman surga”.  Sekali lagi, sekolah, itu bukanlah penjara.

Menggali Kegeniusan

Istilah Genius bisa didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Namun, penulis sependapat dengan ide besar yang dicetuskan Thomas Armstrong, yang menegaskan bahwa Setiap Anak (individu) adalah cerdas. Sejalan dengan ini, Howard Gardner menyatakan bahwa pada dasarnya setiap individu itu memiliki kecerdasan jamak (multiple intelligences) dengan kadar yang berbeda-beda.

Dalam tulisan ini, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan Kata Mutiara Thomas Alva Edison, yang menyatakan bahwa “Genius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen kerja keras”. Dengan kata lain, orang genius adalah siapa saja yang bekerja keras untuk mewujudkan sesuatu yang diimpikan. Jadi, siapapun orangnya pasti memiliki potensi untuk bisa menjadi orang yang genius. Simpel dan mudah.

Siapapun sepakat, Thomas Alva Edison adalah seorang yang genius. Sebagai penemu bola lampu, Thomas terbukti benar memiliki kecerdasan yang luar biasa. Kedua orangtuanya mengakui bahwa Thomas memiliki karakter dan kegemaran untuk “selalu ingin tahu terhadap segala hal yang ditemui”. Thomas, diakui sebagai orang yang cerdas sekaligus memiliki etos kerja yang luar biasa.

Padahal kita tahu bahwa Thomas -pada masa kecilnya- mendapatkan label dari sang guru termasuk individu yang idiot. Dan, dikeluarkan dari sekolah. Siapapun akan berkesimpulan bahwa anak yang dikeluarkan dari sekolah adalah ‘anak yang bermasalah’. Anak yang ‘tidak genius’. Namun, apa sebenarnya? Thomas memang dikeluarkan dari sekolah. Tapi, hal itu justru karena sang guru tidak sanggup (baca: mampu) mengungkap dan menyingkap kegeniusan Thomas.

Belajar dari kisah Thomas, ada satu pesan untuk para guru, kita ditantang untuk sanggup sekaligus mampu menemukan kegeniusan yang dimiliki setiap individu siswa. Tantangan bagi kita adalah harus bisa membuktikan bahwa tidak ada anak yang tidak genius. Mari, kita ciptakan kesan positif setiap siswa yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah. Membangun energi positif bahwa sekolah adalah tempat untuk menggali kegeniusan sang anak. Bukan memenjarakan kreativitas anak.

Mindset

Sejatinya, setiap sekolah harus mampu menemukan sekaligus menghargai keunikan individu siswa. Setiap siswa tentu memiliki potensi masing-masing. Dan, tugas sekolah (beserta orangtua) untuk mengembangkan potensi tersebut sehingga anak dapat mencapai kondisi akhir terbaiknya di bidang tertentu.

Bagi guru, tugasnya harus mampu mengantarkan siswa agar masing-masing individu siswa dapat menemukan (baca: memiliki) ‘cara belajar’ untuk mengembangkan potensi dan menumbuhkan kemampuannya, seiring dengan perkembangan zaman yang terus bergerak maju.

Dan, yang penting adalah mengubah ‘mindset’. Guru harus memiliki paradigma bahwa siswa adalah individu yang terus tumbuh berkembang, sehingga harus dibekali ‘alat’ sebagai cara untuk terus belajar. Guru juga harus terus belajar, agar dapat memberikan ‘alat’ yang dapat digunakan siswa untuk belajar.

Sementara bagi siswa, harus menyadari bahwa kebutuhan pengetahuan dan kemampuan masa depan, tidak sama dengan kebutuhan hari ini. Sehingga siswa harus menemukan ‘alat’ sebagai cara untuk bertahan hidup di masa depan. Dari uraian di atas, Thomas Alva Edison merupakan salah satu contoh individu yang sudah memiliki alat sebagai ‘cara belajar’ untuk menemukan pengetahuan berharga.

Sekolah, harus mampu menjadi taman belajar bagi siswa. Guru harus mampu mengembangkan segala potensi kecerdasan yang dimiliki setiap siswa. Siswa harus mampu memiliki alat ‘cara belajar’, agar bisa menghadapi tantangan zaman yang terus bergerak dan berubah. Yang jelas, setiap siswa adalah individu yang cerdas. Setiap siswa adalah sang Juara.

*Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Malang dan aktif di Komunitas Literasi ‘Sahabat Pena Kita’

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry