PERTUKARAN PELAJAR : Theo dan Tais bersama teman-teman mereka di Smamda. DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Dua siswa asal Denmark dan Brasil harus mengakhiri masa belajarnya di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda). Sedih dan bahagia terlihat saat farewel party yang digelar Jumat (3/5) siang di aula sekolah itu.

Beberapa dewan guru serta teman sekelas Theodor Schonning Frandsen (Denmark) dan Tais S Staloch (Brasil) ikut hadir. Bergantian teman, guru bergantian memberikan kenangan atas kehadiran keduanya sejak Agustus 2018 lalu.

Wakil Kepala Sekolah Sulaiman mengatakan Theo dan Tais sudah bisa memberikan warna tersendiri di kelas internasional Smamda.

“Yang baik tentang sekolah ini, yang baik tentang Indonesia silahkan disampaikan ke teman-teman Anda di sana,” ujar Sulaiman.

Theo yang mendapat kesempatan untuk berbicara mengaku sedih harus meninggalkan Smamda dan trman-temannya.

Theo yang sudah mulai bisa berbahasa Indonesia itu mengatakan akan selalu mengenang semua yang dialami selama di sekolah itu.

“Ini hari terakhir saya, terima kasih banyak. Sekolah ini luar biasa,” ujar cowok jangkung ini.

Tais pun mengaku sedih harus berpisah dengan teman-temannya. Diakuinya teman-temannya selalu membantunya dalam banyak hal.

“Terima kasih, sampai ketemu lagi,” ungkap cewek berambut panjang keriting itu.

Theo dan Tais selama ini menjadi dua siswa terpilih melalui program Rotary Youth Exchange. Theo selama di Smamda bergabung dengan krlas XI Mipa 4 dan Tais kelas XI Mipa 1.

Selama di Smamda keduanya menempuh semua mata pelajaran (mapel) yang ada, termasuk pelajaran Agama Islam.

Tapi ketika ulangan hanya mengikuti mapel matematika wajib dan minat, kimia, fisika, biologi dan Bahasa Inggris.

“Semua mapel itu diberikan dalam Bahasa Inggris karena memang Smamda memiliki kelas internasional,” ujar Ratna Yuliawati selaki Asisten Kurikulum Pengembangan Kelas Internasional Smamda.

Eni Ambarsari selaku Koordinator Rotary Youth Exchange Surabaya  mengatakan program ini memang untuk pertukaran para pemuda khususnya pelajar.

Program ini berlaku buat pelajar usia 15 hingga 17 tahun dari 253 negara yang dikirim ke berbagai negara sesuai klasifikasinya.

“Kami harapkan mereka bisa menjadi agent of change. Mereka bisa bercerita tentang negara yang mereka kunjungi kepada semua orang. Karena penilaian mereka akan lebih jujur,” jelas Eni.

Dengan program ini kata Eni, hubungan antar negara bisa terus berlanjut melalui anak-anak yang mengikuti program ini. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.