Dr dr Rita Vivera Pane, SpKFR – K (Dosen Fakultas Kedokteran (FK))

SEJAK kasus pertama Covid-19 diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020, sampai dengan pertengahan Desember 2020, lebih dari 600 ribu terkonfirmasi dengan angka kematian lebih dari 16 ribu jiwa.

Survivor Covid -19 tidak jarang mengalami gejala sisa yang mengganggu kualitas hidup. Managemen rehabilitasi yang tepat sasaran akan membantu survivor Covid -19, keluar dari permasalahan gejala sisa dan dapat menikmati kembali kehidupan sehari-hari yang wajar seperti sebelum sakit.

Rehabilitasi PascaCovid-19

Rehabilitasi pasca Covid -19 sangat penting khususnya bagi survivor yang meninggalkan gejala sisa. Gejala sisa yang paling sering dikeluhkan survivor Covid -19 adalah mudah lelah walau hanya melakukan aktivitas ringan dan masih memerlukan bantuan oksigen nasal beberapa kali dalam sehari sampai beberapa minggu paska dinyatakan negatif dari Covid -19.

Gejala sisa yang juga sering menyertai survivor Covid -19 adalah kelemahan di kedua tungkai,  blocking atau brain fog, cemas dan dada berdebar.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Tujuan rehabilitasi secara umum pada survivor Covid -19 adalah untuk menghilangkan, meminimalkan gejala sisa atau memaksimalkan fungsi yang masih tersisa, sehingga tercapai kualitas hidup yang lebih baik.

Rehabilitasi pasca Covid -19 ini dilakukan secara bertahap, terencana, terukur dan teratur oleh bimbingan dan saran dokter. Sebelum latihan rehabilitasi dilakukan, dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi akan melakukan uji kebugaran fungsi jantung paru dan otot, kekuatan dan fleksibilitas otot khususnya tungkai, menilai kemampuan kembang kurung dada, serta menilai fungsi keseimbangan dan koordinasi survivor Covid -19.

Pemeriksaan kognisi merupakan hal yang penting dilakukan terutama bila pasien mengeluh sering blocking. Perencanaan program rehabilitasi dimulai berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan sebelumnya (uji kebugaran jantung paru dan otot, kekuatan dan fleksibilitas otot terutama tungkai, fungsi keseimbangan dan koordinasi dan kemampuan kurung dada untuk mengembang, serta fungsi kognitif).

Hal-hal yang perlu diperhatikan selama latihan rehabilitasi adalah tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh dan saturasi oksigen. Keluhan pusing, keringat dingin dan rasa mual atau ingin muntah, menandakan latihan rehabilitasi harus segera diberhentikan sampai keluhan menghilang.

Contoh latihan pernafasan yang dapat dikerjakan sendiri di rumah adalah latihan kontrol pernafasan, latihan pernafasan dalam, latihan pernafasan dengan mulut mecucu saat buang nafas, huffing, latihan batuk efektif, latihan mobilisasi kurung dada. Latihan kontrol pernafasan bertujuan untuk mengurangi spasme pada bronkus.

Pernafasan dikontrol seperti pernapasan orang normal dengan inspirasi 3 detik dan ekspirasi 2 detik sehingga udara yang masuk dan keluar paru lebih maksimum. Latihan pernafasan dalam untuk memperbaiki ventilasi dan meningkatkan volume paru. Latihan dilakukan dengan teknik bernapas secara perlahan dan dalam menggunakan otot diagfragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang penuh.

Latihan dengan mulut mecucu untuk membantu mengontrol masuknya oksigen ke dalam tubuh dan ventilasi atau  pertukaran udara. Bernapas melalui hidung dengan mulut tertutup, kemudian mengeluarkan napas melalui bibir yang mengerut (mencucu) seperti meniup balon. Huffing untuk membersihkan cairan pada saluran pernapasan yang letaknya dangkal. Dilakukan seperti latihan nafas dalam, kemudian hembuskan napas secara perlahan namun kuat seperti membuat embun di cermin.

Latihan batuk efektif untuk membersihkan cairan pada saluran pernapasan yang letaknya lebih dalam. Dilakukan seperti latihan nafas dalam, kemudian batukkan secara kuat 2 kali. Latihan mobilisasi kurung dada  adalah kombinasi gerakan aktif pada punggung, bahu, skapula (entong-entong) dan latihan nafas dalam. Tujuannya untuk  mempertahankan  dan memerbaiki mobilitas kurung dada, bahu, dan  punggung agar lebih  mudah dalam pengembangan paru pada pernafasan, sehingga akan meningkatkan kapasitas vital paru.

Latihan jalan selama 6 menit juga dapat dilakukan untuk menilai seberapa kuat kemampuan jantung dan paru survivor Covid -19. Target latihan ini adalah mampu berjalan sejauh jarak 500 meter dalam waktu 6 menit. Lakukan semampunya dan berhenti apabila tungkai mulai terasa lelah, nafas mulai sesak dan saturasi turun yang dapat dilihat dari oxymetri jari.

Latihan lain yang juga dapat menjadi indikator kemajuan dari fungsi bugar jantung paru adalah dengan membaca  lembaran-lembaran Alquran. Berapa halaman mampu membaca lembaran Al-Qur’an tanpa rasa sesak. Atau membaca sholawat dengan suara merdu dan berulang-ulang akan menjadi suatu latihan yang menyenangkan dan menenangkan khususnya bagi survivor yang beragama Islam.

Latihan kognisi pada survivor Covid -19 yang mengalami blocking atau brain fog, merupakan latihan yang lebih spesifik dengan cara mempertajam fungsi fungsi visuospasial/eksekutif, fungsi memori, atensi dan abstraksi. Latihan ini memerlukan bimbingan di awal dan dapat dilanjutkan sendiri di rumah setelah bimbingan dokter.

Adakalanya dokter SpKFR memberikan tambahan modalitas terapi seperti LASER, TENS. IR dan modalitas terapi lainnya sesuai kebutuhan survivor Covid-19.  Layanan rehabilitasi pada survivor Covid -19 yang menimbulkan gejala sisa, khususnya di era pandemi ini dapat pula dilakukan secara daring. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry