BWM KRAPYAK: Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logisktik OJK Anto Prabowo menyaksikan kegiatan BWM yang sudah berdiri sejak Oktober 2017 di Pesantren Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (5/5). (merdeka)

YOGYAKARTA | duta.co – Tingkat kredit macet atas pinjaman usaha yang disalurkan Bank Wakaf Mikro (BWM), lembaga keuangan mikro syariah besutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai saat ini tercatat nihil. Sejauh ini, angsuran pembayaran pinjaman di 20 BWM yang telah beroperasi, termasuk di Pesantren Lirboyo Kediri, berjalan lancar.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan, hingga 15 April 2018, total pinjaman yang disalurkan 20 BWM kepada pelaku usaha mikro di lingkungan pondok pesantren mencapai Rp 4,18 miliar. Pinjaman tersebut diberikan kepada 4.152 nasabah.

BWM menyalurkan pembiayaan yang berasal dari donasi individu dan perusahaan kepada pelaku usaha mikro dengan nominal berkisar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta per nasabah. Imbal hasil yang dipatok terbilang mini yaitu setara 3%.

Jangka waktu angsuran pinjaman rata-rata setahun, namun bisa pula disesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing BWM. Saat ini, nasabah mengangsur pengembalian pinjaman setiap minggu.

Menurut Anto, angsuran bisa berjalan lancar, lantaran BWM menerapkan sejumlah strategi. Pertama, angsuran dilakukan mingguan. Dengan cara ini teridentifikasi kemampuan nasabah dalam melunasi pinjaman.

Kedua, ada pertemuan kelompok yang berlangsung mingguan atau halaqoh mingguan (Halmi). Di situ mereka bisa cerita kondisi keuangan mereka. “Kalau ada nasabah yang usahanya membutuhkan dukungan, bisa dibantu dengan mencari pihak-pihak yang bisa mendukung usaha mereka. Misalnya terkait pemasaran produk,” papar Anto dalam acara Press Tour OJK – Bank Wakaf Mikro di Yogyakarta, Sabtu (5/5).

Ketiga, ada unsur tanggung renteng. Satu kelompok terdiri dari lima nasabah. Sehingga, kalau ada yang kesulitan mengangsur pinjaman, akan ditanggung bersama anggota kelompok. “Kelompok saling membantu, sehingga memastikan uang yang dipinjam bisa dikembalikan,” imbuhnya.

Direktur Penelitian, Pengembangan, Pengaturan, dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah mengatakan, siklus nilai pinjaman yang diberikan kepada nasabah bisa berubah. Siklus pinjaman pertama senilai Rp 1 juta per nasabah. Selanjutnya, bisa naik menjadi Rp 2 juta pada pinjaman tahap berikutnya, apabila angsuran pinjaman pertama berjalan lancar.

 

Nasabah Terlayani Bertambah

Anto Prabowo mengatakan, dibandingkan dengan capaian pada akhir 2017, jumlah nasabah terlayani bertambah 402,1% atau 3.325 nasabah dari sebelumnya hanya 827 nasabah. Adapun dari sisi nilai pinjaman, angkanya bertambah 525,3% atau Rp3,52 miliar dari sebelumnya hanya Rp658 juta.

Berikut ini daftar 20 Bank Wakaf Mikro berbasis pesantren yang telah beroperasi:

  1. BWM Bankwakaf Alpansa
  2. BWM Denanyar Sumber Barokah
  3. BWM Amanah Berkah Nusantara
  4. BWM Almuna Berkah Mandiri
  5. BWM Berkah Bersama Baiturrahman
  6. BWM Berkah Rizqi Lirboyo
  7. BWM Buntet Pesantren
  8. BWM KHAS Kempek
  9. BWM Ranah Indah Darussalam
  10. BWM An Nawawi Tanara
  11. BWM Tebuireng Mitra Sejahtera
  12. BWM Amanah Makmur Sejahtera
  13. BWM Bankwakaf Al Manshur
  14. BWM Lan Taburo
  15. BWM Nahdlatul Wathon Cijantung
  16. BWM Al Fithrah Wava Mandiri
  17. BWM Al Ihya Baitul Auqof
  18. BWM Bahrul Ulum Barokah Sehatera
  19. BWM Assa Berkah Sejahtera
  20. BWM El-Manhaji.

 

 

BWM di Ponpes Krapyak

Salah satu BWM yang telah beroperasi sejak Oktober 2017 adalah Bank Wakaf Mikro Almuna Berkah Mandiri di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Ketua Pengurus BWM Almuna Berkah Mandiri, Eni Kartika Sari menuturkan, sampai saat ini telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 290 juta. Besaran pinjaman masing-masing Rp 1 juta per nasabah.

Nasabah tersebut menjalankan aneka usaha, mulai dari katering, laundry, usaha kelontong, penjahit hingga pedagang pulsa.

Menurut Eni, keberadaan BWM membantu perekonomian warga yang membuka usaha kecil di sekitar lokasi pesantren tertua di Yogyakarta ini. Dengan pinjaman tersebut, warga bisa meningkatkan usahanya.

“Jumlah santri sekitar 3.500 di pesantren ini, merupakan aset besar yang berdampak pada perekonomian. Santri dibebaskan jajan, laundry dan sebagainya di luar pondok, sehingga menghidupkan bisnis warga sekitar,” papar Eni di kantor BWM Almuna di Krapyak.

Ia mengakui, sejauh ini angsuran nasabah berjalan lancar. Nasabah membayar angsuran mingguan bersamaan dengan kegiatan rutin Halmi. “Selain bayar angsuran, momen itu juga untuk memberikan pendampingan, bagaimana meningkatkan produktivitas usaha mereka dan strategi marketing, seperti memperkenalkan penjualan online,” imbuh Eni.

Muryani, salah seorang nasabah BWM Almuna Berkah Mandiri bilang, ia mendapatkan pinjaman senilai Rp 1 juta pada akhir tahun lalu. Pinjaman itu dengan jangka waktu angsuran sekitar enam bulan.

Perempuan 52 tahun ini menggunakan pinjaman untuk memperluas warung makan. “Tadinya cuma kecil ruangannya, sekarang bisa nambah, bisa nampung lebih banyak pembeli. Omzet sekarang rata-rata bisa Rp 2 juta sehari,” tuturnya, Sabtu.

Kata Muryani, ia tidak merasa berat membayar angsuran mingguan. Saat ini ia sudah masuk angsuran ke-26. “Kalau sudah lunas, saya mau ajukan pinjaman lagi, untuk perbaiki bagian atap, supaya pembeli tidak kepanasan lagi,” ucapnya. hud, kon, def

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.