Oleh: Syarif Thayib, Wong Cirebon, Tinggal di Surabaya

ADA nasihat bagus dari Sayyid Ahmad bin Muhammad bin ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani supaya kita tidak menjadi hamba Ramadhan, tetapi tetap menjadi hamba Allah. “Lanjutkanlah kebaikan yang telah kita mulai di bulan Ramadhan.” Demikian flyer yang beredar viral bergambar foto ulama ternama Ahlussunnah wal Jama’ah dari Makkah itu.

Salah satu kebaikan yang dimulai oleh mayoritas umat Islam selama Ramadhan adalah shalat berjamah di Masjid. Pada bulan penuh barokah itu volume Jemaahnya meningkat dibandingkan sebelas bulan lainnya. Maghrib, Isya’ plus Tarawih, Qiyamullail, hingga shalat Shubuh, para Jemaah begitu menikmati kekhusyu’annya di Masjid.

Maka sebelum Ramadhan tiba, seluruh Masjid dimanapun pasti menyiapkan diri untuk menyambut bakal (panen) datangnya banyak Jemaah. Bedanya, ada yang benar-benar all out persiapannya, sebagian lain mempersiapkan ala kadarnya.

Sebagai pemerhati Masjid, tentu penulis mengamati – membandingkan, terutama pada layanan Jemaah, antara Masjid Bersejarah dengan Masjid Modern.

Istilah Masjid bersejarah merujuk pada kategori yang ditetapkan Kemenag, yaitu masjid yang usianya lebih dari 100 tahun dan bernilai sejarah. Sedangkan masjid modern adalah istilah penulis untuk masjid yang menjadikan Medsos sebagai alat primadona penggalangaan Jemaah.

Banyaknya Jemaah shalat adalah indikator utama kemakmuran Masjid. Mereka akan berbondong-bondong shalat berjamaan di Masjid yang memberi pelayanan terbaik (service excellent). Seperti layanan kebersihannya, keamanannya, kenyamanan (sejuk, harum, dll), termasuk kualitas bacaan imam, inovasi kegiatan dakwahnya, dan seterusnya.

Masjid Modern Lebih Nyaman

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penulis memanfaatkan waktu mudik di Cirebon untuk juga menikmati i’tikaf di Masjid (bersejarah) Djumeneng Gunung Djati dan Cipta Rasa Kesepuhan. Kedua Masjid ini usianya sudah >500 tahun, karena dibangun oleh Sunan Gunung Djati (1448-1568). Sedangkan Masjid Modern yang tak luput dari tempat i’tikaf penulis adalah Masjid Raya Attaqwa – Kejaksaan.

Posisi Masjid Attaqwa persis di alun-alun Kota Cirebon, sedangkan posisi Masjid Djumeneng Gunung Djati sekitar 5 km ke arah utara Attaqwa dan Masjid Cipta Rasa Kesepuhan juga sekitar 5 km ke arah selatan.

Nasib dua Masjid Bersejarah di atas menurut subyektifitas penulis nasibnya makin terpuruk. Sementara Masjid modern Attaqwa terus berkibar. Jemaahnya selalu membludak, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Masjid Bersejarah terpuruk karena jumlah jemaahnya menyusut, kok bisa?

Pertama, keamanannya buruk. Jemaah di Masjid Djumeneng Gunung Djati misalnya, sudah tak terhingga berapa Jemaah yang kehilangan sandal/ sepatu disana. CCTV ada, yang jaga juga ada, tetapi (entah kenapa) penulis sendiri sudah lebih dari 7x hilang sandal di tempat sandal yang tersedia. Mulai dari sandal kulit sampai sandal jepit.

Kedua, Jemaah kalau mau buang air besar di dua Masjid Bersejarah itu jalannya lumayan jauh. Kalau di Gunung Djati harus blusukan ke rumah warga yang buka jasa WC umum, dan bayar. Itupun tidak buka 24 jam. Penjaga toilet di Masjid Gunung Djati kurang bersahabat, dijaga 24 jam. Semua yang pipis “wajib” bayar.

Ketiga, parkir mobil di dua masjid bersejarah di atas pun fantastis, bisa 2 – 3x lipat dari tarif parkir di Mall Surabaya. Belum lagi pengemis anak dan Lansianya kompak. Satu dikasih, lainnya langsung berkerumun mendekati Jemaah seperti minta jatah. Mungkin karena sudah sangat meresahkan, kini di sekitaran makam atau jalan menuju Masjid Djumeneng ada polisi berjaga 24 jam.

Berbeda dengan Masjid Raya (Modern) Attaqwa. Disana Jemaah bebas leluasa menikmati fasilitas kamar mandi bersih – wangi gratis tanpa antri. Ruang utama pun cukup nyaman/ sejuk, padahal Masjidnya tidak ber-AC, tetapi kipas angin dan sirkulasi udara bangunan tingginya cukup efektif.

Tarif Parkirnya bisa ngisi kotak amal seikhlasnya di pintu masuk Masjid. Kalau mau di Basement, tarifnya hanya 5 ribu, tarif normal seperti parkiran umum di Surabaya.

Satu lagi, se-ingat penulis, sejak kecil penulis shalat di Masjid Attaqwa, belum pernah sekalipun kehilangan sandal disana. Bahkan, sandal tiap Jemaah ditata rapih oleh petugas khusus (gratis) tanpa ekspresi wajah memelas berharap dikasihani.

Tentu semua Jemaah yang merasakan service excellent dari Masjid akan dengan senang hati mengisi kotak Masjid yang tidak diedarkan keliling melewati shaf – shaf shalat yang bisa mengganggu Jemaah. Mereka akan tergerak mencari sendiri dimana kotak infak yang harus diisi. Jemaah ibarat konsumen, menangkan dulu mereka, maka Masjid akan dimanjakan Jemaah.

Itulah penerapan berpikir menang – menang (think win – win) yang dimaksud Stephen R Covey dalam bukunya 7 Habbits of Highly Effective People. Dimana kerangka pikiran dan hati yang senantiasa memberi keuntungan bersama dalam setiap interaksi manusia.

Jadi, yang benar itu give and take, memberi dulu – baru menerima, jangan dibalik, Jemaah disuruh sedekah dulu, setelah itu Masjid akan memberi. Sukses panen para petani diawali dengan pengorbanan bercocok tanam, merawat, kasih pupuk, dan seterusnya.

Walhasil, kata kunci menuai panen Jemaah, plus donasi berlimpah bagi semua Masjid adalah: “manjakan Jemaah”, karena mereka adalah “raja”, tamu-tamuNya di Baitullah, Rumah Allah SWT. Wallahu a’lam.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry