JOMBANG | duta.co – Keliru! Kalau anggapan warga NU di desa tidak paham khitthah, itu keliru. Mayoritas warga NU mengerti bahwa NU tidak boleh terlibat urusan politik praktis.

‘Kecerdasan’ nahdliyin ini terlihat dalam acara bedah buku ‘NU Jadi Tumbal Politik, Siapa Bertanggungjawab?’ karya Drs Choirul Anam (Cak Anam) di YPP Roudlatus Shofiyah Almanshuriyah Jogoroto, Jom bang, Rabu (20/3/2019).

“Mau pilih partai apa saja, terserah. Mau pilih capres-cawapres siapa, monggo. Warga NU bebas, ada di mana-mana. Hampir semua partai ada warga NU-nya. Tetapi organisasinya tidak ke mana-mana,” demikian disampaikan salah seorang peserta bedah buku kepada duta.co.

Hebatnya lagi, para pengurus NU di Desa juga lebih kuat memegang komitmen khitthah 1926 ketimbang menjadi ‘pelayan’ parpol atas pilpres. Dengan demikian, tidak akan ada benturan sesama NU (di desa) meski beda pilihan. Warga NU paham apa yang harus dikerjakan untuk organisasi.

“Bulan Rojab ini bulan mulia, bulan Rojab banyak berkahnya. Seperti Cak Anam ini, meski badan terasa rapuh, tetap saja berjalan. Ke mana mana tandang (kerja red.) demi NU. Saya sendiri Ketua MWC NU Perak sejak tahun 1996 sampai sekarang Ketua WCNU. Sebagai Ketua MWC NU, saya pernah tanya ke Kiai Hasyim Muzadi, soal NU. Beliau menjelaskan, bahwa NU itu menata umat, untuk menata kehidupan umat,” demikian Kiai Haris Munawir yang akrab dipanggil Gus Haris ini.

Sekitar 150 nahdliyin antusias mengikuti paparan penegakan khitthah NU melalui buku tersebut. Mayoritas memahami, bahwa, NU harus berada di tengah, mengayomi semua nahdliyin yang, kini secara pilihan politik bisa jadi beda, karena nahdliyin ada di mana-mana.

Cak Anam menjelaskan, di tahun politik ini, NU tengah diuji untuk menegakkan khitthah-nya. Sementara, faktanya, banyak oknum pengurus NU yang secara terang-terangan melakukan penyimpangan, menjadikan NU sebagai tumbal politik kekuasaan. Itulah sebabnya, mengapa ia membuat buku tersebut.

“Ini harus diluruskan. Hari ini NU benar-benar menjadi tumbal politik kekuasaan. Sementara kekuasaan sekarang masih jauh dari kejujuran. Maka, pilpres 2019 warga NU harus mencari figur yang jujur,” tegas Cak Anam.

Persiden, tegasnya, harus orang jujur, kalau tidak rakyatnya jadi kurban. Lihat saja, Pak Novel (Novel Baswedan – Penyidik KPK) disiram air keras sampai matanya hilang satu. Tetapi kekuasaan tidak bisa melindungi.

“Apakah yang begini ini dibiarkan, belum lagi soal TKI, saya ketemu orang mengatakan negara ini darurat, negera dalam keadaan bahaya,” jelas Cak Anam.

Mantan Ketua GP Ansor Jatim ini juga menjelaskan komunikasinya dengan Mayjen Pol (Purn) Taufiequrachman Ruki, mantan Ketua KPK.

“Pak Ruki juga melihat tatanan pemerintah sekarang ini sedang amburadul. Sudah tidak ada etika berpolitik. Contoh pengambilan Kiai Ma’ruf Amin sebagai Cawapres, ini semua akal-akalan. Tidak ada musyawarah ulama NU, tahu-tahu jabatan Rais Aam PBNU kosong. NU benar-benar jadi tumbal,” tegasnya.

Masih menurut Cak Anam, pihaknya akan terus keliling daerah membahas masalah ini. Dan ini bentuk cintanya terhadap NU. “Saya akan keliling Jawa Timur,  menjelaskan soal NU ini. Kalau ada yang membantah, kita bisa dialog. Sampai sekarang tidak ada keberatan, malah banyak yang mendukung, tetapi, tidak berani menyampaikan,” jelasnya. (muh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.