Koordinator pengawas MBG Jombang (baju putih), (tengah) Kapolres Jombang dan Kepala Dinas Kesehatan Jombang.

JOMBANG | duta.co – Tabir penyebab keracunan yang menimpa puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, mulai tersibak. Hasil uji laboratorium mengarah pada dua sumber utama: kandungan nitrit dalam telur asin dan tingginya cemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air yang digunakan di lingkungan pondok.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, mengungkapkan bahwa temuan nitrit pada telur asin menjadi perhatian serius. Pasalnya, dalam kondisi normal, makanan tidak seharusnya mengandung zat tersebut.

“Secara umum, nitrit tidak boleh ada dalam makanan. Dampaknya bisa langsung dirasakan, seperti mual dan muntah secara mendadak,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (17/3).

Tak hanya itu, hasil pemeriksaan juga menemukan kadar bakteri E. coli pada sumber air pondok jauh melampaui ambang batas aman yang semestinya nol. Air tersebut diketahui digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memasak hingga konsumsi harian santri.

“Kondisi ini sangat berisiko memicu gangguan pencernaan seperti sakit perut, diare, hingga mual,” tambahnya.

Dinkes juga mendeteksi keberadaan bakteri Bacillus cereus dari sampel muntahan santri. Meski demikian, keterkaitan bakteri ini dengan sumber makanan tertentu masih dalam proses pendalaman lebih lanjut.

Menariknya, tidak semua santri yang mengonsumsi telur asin mengalami gejala serupa. Hal ini diduga berkaitan dengan variasi kualitas makanan yang dikonsumsi, termasuk kemungkinan adanya telur yang telah mengalami penurunan mutu akibat penyimpanan yang tidak optimal.

“Ada kemungkinan sebagian telur sudah tidak layak konsumsi, baik dari segi rasa maupun bau,” jelas Hexawan.

Proses pengujian laboratorium sendiri memakan waktu karena sampel harus dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya.

Telur asin yang beracun saat buat buka puasa para santri.

Sebagai langkah respons cepat, Dinkes Jombang telah melakukan pembinaan terhadap pengelola pondok, terutama dalam hal peningkatan sanitasi lingkungan dan kualitas air. Rekomendasi perbaikan sistem filtrasi juga telah disampaikan guna menekan potensi kontaminasi bakteri.

Di sisi lain, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Jombang, Deny Setiawan, menyebut pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Betek, Mojoagung.

“Untuk sementara kami lakukan suspend sambil menunggu evaluasi menyeluruh,” tegasnya.

Ke depan, BGN memastikan pengawasan akan diperketat, mulai dari kontrol kualitas bahan baku hingga pemenuhan standar kesehatan dan administrasi di seluruh SPPG. Dari total puluhan SPPG di Jombang, saat ini baru satu yang berstatus dihentikan sementara.

Pemerintah daerah bersama lintas instansi kini tengah melakukan evaluasi komprehensif. Langkah ini diharapkan tidak hanya menuntaskan kasus, tetapi juga menjadi pijakan untuk memperkuat sistem keamanan pangan, khususnya di lingkungan pendidikan berbasis asrama. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry