
Oleh Achmad Murtafi Haris Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya
BELAKANGAN terjadi eksodus besar-besaran warga Maroko ke Spanyol tepatnya ke Ceuta (Sabtah) dan Malilla. Kedua kota ini berada di daratan utara Maroko dan bukan pulau atau seberang laut di wilayah Spanyol. Meski bersambung dengan Maroko mengapa kebanyakan orang berenang menuju kota tersebut dan mengapa pula satu kawasan dengan Maroko tapi kok ikut wilayah administratif Spanyol?
Lantaran perbatasan Ceuta dan Maroko dikelilingi pagar berdiri yang tidak memungkinkan imigran memasukinya lewat darat. Untuk menembusnya warga berenang dari pantai terdekat sekitar 3-5 kilo meter. Kondisi cuaca yang ramah membuat para imigran nekat berenang sepanjang pinggir pantai. Bagi yang beruntung mereka bisa sampai meski tidak pasti apakah akan bisa menetap di Ceuta atau akan dikembalikan ke negara asal, Maroko. Melilla juga demikian halnya berasa di daratan Maroko yang karena dibatasi pagar berduri mereka tidak bisa menerobos kecuali berenang dan masuk dari tepian pantai. Ceuta dan Melilla dipertahankan oleh Spanyol sebagai wilayahnya sebagai pelabuhan jangkar Spanyol ke Afrika Utara. Keduanya mirip Timor Leste yang berada dalam daratan Indonesia dan merupakan jangkar Portugis di kawasan. Ceuta dan Melilla Keduanya satu-satunya wilayah Eropa yang berada di Afrika.
Besarnya gelombang eksodus kali ini, 50 ribu orang, benar-benar mencengangkan dan merupakan eksodus terbesar sepanjang sejarah. Yang tewas di perjalanan dikabarkan 67 orang. Sebagian tenggelam dan sebagian akibat dihantam ombak yang membenturkan mereka dengan beton pemecah ombak. Uni Eropa bersikap keras dengan kejadian ini. Eksodus itu dianggap menciderai kedaulatan wilayah negara lain yang melarang warga asing memasuki wilayah tanpa seizin pemerintah setempat. Uni Eropa juga mempertimbangkan untuk menghapus Spanyol dari area Schengen (29 negara Eropa) yang membebaskan penerima visa ke salah satunya untuk bebas ke negara Schengen lainnya.
Ramainya penyusup nekat menyeberang laut adalah akibat postingan medsos yang mengabarkan bahwa pengadilan tinggi Spanyol memutuskan melarang pemerintah Spanyol untuk mendeportasi mereka ke negara asal jika tertangkap di laut. Hal ini memicu spekulasi untuk berenang menyeberangi laut demi masuk Spanyol. Kebenaran berita ini ternyata tidak berlaku umum. Bagaimanapun para penyusup tetap diadili dan kemungkinan dideportasi sangat besar. Dan semua yang ramai eksodus belakangan sudah dipulangkan ke Maroko. Kabar medsos tak ayal menimbulkan demonstrative effect sangat besar. Dalam kondisi tertentu ia mampu menimbulkan gelombang massal yang luar biasa yang bisa berdampak hilangnya nyawa dalam jumlah besar.
Secara ekonomi sebenarnya Maroko tidaklah buruk. Namun, pemuda Maroko dan umumnya seluruh pemuda Arab Afrika Utara (al-Maghrib al-‘Araby: Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mauritania) memimpikan untuk bisa hijrah ke Eropa. Penulis yang kebetulan pernah nggelandang ke negara kecil di laut Mediterania pada 1994 dan serumah dengan imigran pemuda Arab, mereka rata-rata memimpikan hidup di Eropa. Maklum secara geografis memang dekat, pantai mereka menghadap ke pantai Eropa. Ketika penulis nongkrong di pantai Alexandria Mesir, terbayang di seberang sana Yunani dan alhamdulillah kesampaian juga. Apalagi dengan Maroko dan Spanyol yang hanya dipisahkan selat Gibraltar, 14km plus sejarah panjang masa lalu di mana umat Islam pernah berkuasa di sana 7 abad (781-1492M). Baca https://nu.or.id/opini/maroko-moro-morisco-Kr5Ej
Banyaknya imigran Arab yang sukses di dunia olahraga dan seni juga mendorong impian itu terus ada. Bahkan timnas Prancis pada era Zinedine Zidane didominasi keturunan Arab. Juga yang moncer di timnas Spanyol Lamin Yamal yang keturunan Maroko menambah besar mimpi pemuda Arab untuk sampai ke negeri yang dahulu nenek moyang mereka pernah dominan di sana. Meski tidak ada yang menyebut, atau barangkali sudah ada tapi penulis tidak tahu, eksodus besar-besaran ini mungkin terinspirasi Lamin Yamal yang sukses mengantarkan timnas Spanyol menjadi juara dunia dan menjadi pemuda Arab kaya raya di negeri seberang.(*)






































