
Oleh Fahmi Arif El Muniry*
SERTIAPĀ pergantian kepemimpinan selalu menyisakan dua hal, penghargaan kepada yang telah menyelesaikan masa khidmahnya dan harapan kepada mereka yang menerima amanah berikutnya. Dalam organisasi sebesar Nahdlatul Ulama, pergantian kepemimpinan tidak pernah sederhana. Ia membawa sejarah, tradisi, kepentingan, perbedaan pandangan, sekaligus harapan jutaan warga.
Karena itu, setelah Muktamar NU ke-35 selesai, barangkali kita tidak perlu terlalu lama terjebak pada siapa menang dan siapa kalah. Muktamar telah memilih. Mandat telah diberikan. Gus Kikin kini menerima tongkat estafet dari Gus Yahya. Yang lebih penting adalah memastikan perjalanan NU tidak berhenti hanya karena pelari berganti.
Gus Yahya layak diapresiasi karena telah membawa sejumlah gagasan yang membuat NU berani melihat keluar dari pagar kebiasaannya. Fikih Peradaban, Humanitarian Islam, internasionalisasi NU, Digdaya NU, dan Road Map NU 2050 menunjukkan usaha untuk menempatkan NU dalam percakapan yang lebih luas.
Tidak semua gagasan itu harus dianggap sempurna. Bahkan gagasan yang besar justru membutuhkan kritik agar tidak berubah menjadi slogan. Sebagian agenda mungkin belum sepenuhnya terasa manfaatnya bagi warga di tingkat akar rumput. Bahasa peradaban yang terlalu tinggi juga berisiko menciptakan jarak dengan warga NU yang sehari-hari masih berhadapan dengan persoalan pendidikan, ekonomi, pekerjaan, kesehatan sosial, dan kehidupan pesantren.
Tetapi kritik terhadap sebuah gagasan tidak boleh membuat kita kehilangan penghargaan terhadap keberanian untuk menggagas. Gus Yahya setidaknya telah mengingatkan bahwa NU tidak cukup hanya bangga dengan sejarahnya. Organisasi sebesar NU harus memiliki keberanian membayangkan dirinya beberapa puluh tahun ke depan.
Di tengah perubahan teknologi, kecerdasan buatan, geopolitik, krisis lingkungan, dan perubahan karakter generasi muda, pertanyaan tentang masa depan bukan kemewahan. Ia kebutuhan.
Namun di sinilah pekerjaan berikutnya bermula. Gagasan besar harus turun dari langit pemikiran ke tanah kehidupan. Road Map harus menjadi jalan yang benar-benar bisa dilalui. Internasionalisasi harus berujung pada penguatan, bukan sekadar perluasan nama. Fikih Peradaban harus terasa relevan dengan persoalan manusia, bukan berhenti sebagai istilah yang hanya dipahami kalangan tertentu. Barangkali itulah salah satu pelajaran penting dari periode Gus Yahya: NU membutuhkan visi besar, tetapi visi besar harus memiliki kaki.
Gus Kikin dan Tantangan Membumikan NU
Gus Kikin menerima NU bukan dalam keadaan kosong. Ia menerima organisasi dengan kekuatan yang sangat besar sekaligus pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Karena itu, kepemimpinannya tidak perlu dimulai dengan keinginan menghapus jejak pendahulu. Yang diperlukan adalah kemampuan membaca mana yang harus dilanjutkan, mana yang perlu dikoreksi, dan mana yang harus berani ditinggalkan.
Jika Gus Yahya banyak membuka jendela NU kepada dunia, Gus Kikin menghadapi tantangan untuk memastikan rumah itu tetap nyaman bagi penghuninya. Di sinilah ukuran keberhasilan kepemimpinan baru akan diuji.
NU memiliki jutaan warga, ribuan pesantren, lembaga pendidikan, jaringan sosial, sumber daya intelektual, dan kekuatan ekonomi yang besar. Tetapi kebesaran itu belum selalu terkonsolidasi menjadi kekuatan yang terasa nyata. Ada jarak antara potensi dan manfaat, antara gagasan dan pelaksanaan, antara struktur dan kebutuhan warga. Gus Kikin perlu menjembatani jarak tersebut.
Pesantren tidak cukup hanya menjadi objek program. Ia harus menjadi pusat pengetahuan, kaderisasi, pemberdayaan, dan inovasi. Anak muda NU tidak cukup diundang ketika organisasi membutuhkan massa. Mereka harus diberi ruang untuk ikut menentukan arah. Digitalisasi tidak cukup dengan memperbanyak konten. NU perlu memikirkan bagaimana teknologi mengubah cara belajar, bekerja, berdakwah, dan berorganisasi.
Demikian pula ekonomi umat. Ia tidak boleh berhenti pada seminar, forum, dan jargon kemandirian. Warga membutuhkan akses, pendampingan, pasar, modal, pengetahuan, dan ekosistem yang nyata. Namun ada pekerjaan yang mungkin lebih sulit daripada semuanya: menjaga NU agar tidak terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Setiap organisasi besar memiliki kecenderungan untuk menikmati struktur. Jabatan bisa menjadi tujuan. Perebutan pengaruh bisa mengalahkan perdebatan gagasan. Energi yang seharusnya digunakan untuk membaca perubahan zaman habis untuk menyelesaikan konflik internal.mDi sinilah Gus Kikin akan diuji.
Ia tidak mungkin menghilangkan perbedaan. NU justru tumbuh dari tradisi perbedaan. Tetapi perbedaan harus memiliki adab. Kritik harus tetap mendapatkan tempat. Berbeda pendapat tidak boleh dianggap sebagai pengkhianatan. Loyalitas kepada organisasi tidak boleh diterjemahkan sebagai kewajiban untuk selalu setuju kepada pemimpin.
NU membutuhkan kepemimpinan yang kuat, tetapi bukan kepemimpinan yang alergi terhadap kritik. Sebab pemimpin yang hanya mendengar pujian akan mudah kehilangan arah. Sebaliknya, organisasi yang hanya berisi kritik juga tidak akan pernah bergerak. Maka Gus Kikin memiliki kesempatan untuk membangun budaya yang lebih dewasa: kritik tanpa permusuhan, loyalitas tanpa kultus, tradisi tanpa anti-perubahan, dan modernitas tanpa kehilangan akar.
Barangkali inilah arti sebenarnya dari estafet. Gus Kikin tidak harus menjadi Gus Yahya. Ia juga tidak perlu membuktikan kepemimpinannya dengan membatalkan semua yang telah dikerjakan pendahulunya. Yang baik diteruskan. Yang kurang diperbaiki. Yang keliru dihentikan. Yang belum terpikirkan dilahirkan.
Sebab NU bukan milik ketua umum. Bukan pula milik satu generasi. NU adalah rumah panjang yang dibangun oleh para pendahulu, dihuni oleh generasi hari ini, dan akan diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir. Terima kasih Gus Yahya karena telah membuka jendela dan mengajak NU melihat cakrawala yang lebih luas. Selamat datang Gus Kikin.
Kini tantangannya adalah memastikan rumah itu tetap kokoh, hangat, dan terbuka bagi siapa pun yang ingin pulang. Kelak sejarah tidak hanya bertanya apa yang berhasil dilakukan oleh Gus Kikin. Sejarah juga akan bertanya apakah di bawah kepemimpinannya, generasi muda masih menemukan alasan untuk percaya kepada NU.
Sebab jabatan akan berakhir. Muktamar akan berlalu. Spanduk akan diturunkan. Panggung akan dibongkar. Foto-foto akan masuk arsip. Tetapi NU harus terus hidup. Tongkat estafet telah berpindah tangan. Kini bukan waktunya membakar tongkat itu untuk merayakan kemenangan atau membuangnya untuk menolak masa lalu. Kini waktunya berlari. Ke mana NU akan berlari?
*Fahmi Arif El Muniry adalah Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak





































