
SURABAYA | duta.co – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) akan memiliki guru bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia adalah Prof Dr Syamsul Ghufron MSi, dan akan resmi dikukuhkan pada Kamis, 22 Mei 2025.
Pengukuhan itu akan menjadi momentum penting bagi Unusa dalam memperkuat kapasitas akademiknya, khususnya di bidang pendidikan dan kebahasaan.
Rektor, Prof Dr Ir Achmad Jazidie MEng mengungkapkan rasa syukur atas bertambahnya jumlah guru besar ini. Menurutnya, pengukuhan ini sebagai capaian strategis, mengingat guru besar masih menjadi aset langka di perguruan tinggi muda seperti Unusa, yang baru menginjak usia 12 tahun pada 2025 ini.
“Kami menyambut dengan bahagia dan rasa syukur. Kali ini, Bapak Ghufron dipercaya menjabat sebagai profesor di bidang Pendidikan Bahasa Indonesia. Peran bahasa adalah alat pendidikan karakter,” ujar Prof Jazidie.
Prof Jazidie menjelaskan, saat ini Unusa memiliki total tujuh guru besar dengan Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) dan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). Dua di antaranya berstatus guru besar NIDN, termasuk Prof Syamsul Ghufron.
Prof Jazidie mengakui capaian ini sangat berarti dalam penguatan sumber daya manusia kampus. “Untuk menghasilkan guru besar, prosesnya sangat panjang. Bayangkan, dari tenaga pendidik sampai ke guru besar, itu butuh puluhan tahun. Maka, ini adalah langkah besar dalam menambah kemandirian keilmuan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Prof Jazidie menegaskan, Unusa sedang berupaya memperbanyak jumlah guru besar. Langkah ini diyakini akan memperkuat posisi Unusa sebagai perguruan tinggi yang independen secara keilmuan. Selain aspek akademik, kemandirian finansial bagi perguruan tinggi juga sangat penting.
“Kami ingin menjadikan Unusa sebagai institusi yang kokoh berdiri dengan pendanaan berbasis wakaf. Keseimbangan adalah kunci kemandirian perguruan tinggi,” tegasnya.
Prof Syamsul Ghufron mengungkapkan, banyak jalan terjal yang dilaluinya untuk meraih jabatan tertinggi akademik ini. Namun, berkat dukungan dan motivasi kampus, ia berhasil menyelesaikan berbagai tantangan untuk menjadi guru besar.
“Alhamdulillah, Unusa menjadi motivasi saya menggapai impian sebagai guru besar. Karena Unusa memberikan fasilitas dan dukungan luar biasa,” ungkapnya.
Dalam waktu dekat, Unusa juga akan kembali menambah tiga guru besar. Dua di antaranya berasal dari program studi (Prodi) Manajemen dan Sistem Informasi Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital (FEBTD). Kemudian, satu calon guru besar berasal dari Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Unusa untuk terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang unggul, khususnya dalam ke-Islaman. ril








































