Tim pengabdian masyarakat dosen FKK Unusa bersama dengan para perawat di RSI Ahmad Yani Surabaya pada Februari 2020 lalu. DUTA/ist

Penderita diabetes mellitus biasanya baru memeriksakan kondisinya setelah ada keluhan. Dan sebagian besar mereka datang ke rumah sakit sudah dalam komdisi terlambat. Karena itu, edukasi awal pada masyarakar agar mengetahui penyakit ini pentinb dilakukan. Namun jika sudah terlanjurterkena, mengelola penyakit yang dideritanya agar tidak semakin parah.

—-

Tiga dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yakni Difran Nobel Bistara, Erika Martining Wardani dan Nur Hidaayah merasa prihatin dengan kondisi penderita diabetes mellitus (DM). Penderita banyak yang tidak menyadari menderita penyakit ini. Dan panderita banyak yang sudah mengalami komplikasi ketika datang ke rumah sakit.

Karenanya, ketiga dosen itu melakukan pengabdian masyarakat di Rumah Sakit Islam Surabaya Ahmad Yani pada Februari hingga Maret 2020 lalu.

Selama sebulan ketiganya melakukan pengamatan terhadap pasien DM tipe 2, istilah untuk penderita diabetes mellitus. Dan dikatakan Ketua Tim Pengmas, Difran Nobel Bistara, jumlah penderita DM ini semakin lama  semakin meningkat.

Konsultasi dilakukan untuk penderita diabetes mellitus yang berobat ke RSI A Yani. DUTA/ist

Penyakit yang konon disebabkan karena gaya hidup itu pada Januari 2020 di RSI Surabaya A.Yani jumlah yang dirawat inap sebesar 173 pasien dan yang rawat jalan sebesar 536 pasien. Meningkat 20% dari Desember 2019. Dan sebagian besar pasien yang berobat di RSI A Yani sudah mengalami komplikasi.

“Komplikasi pada penderita DM tipe 2 bisa disebabkan berbagai faktor misalnya ketidakpatuhan diet, kontrol yang tidak rutin ke tempat pelayanan kesehatan dan perawatan DM yang tidak adekuat di rumah,” ujar Difran.

Komplikasi yang dialami penderita DM tipe 2 dikarenakan kegagalan dalam mengelola penyakitnya. Sehingga penderita DM tipe 2 harus selalu menjaga pola hidup sehat untuk mempertahankan hidupnya.

Hal-hal yang harus diperhatikan diantaranya menjaga pola makan, selalu melakukan perawatan kaki, mencegah terjadinya hipoglikemi atau hiperglikemi dan sebagainya. “Dan hal tersebut berlangsung secara terus-menerus sepanjang hidupnya,” tandas Difran.

Karenanya, ini yang seringkali menjadi kendala bagi penderita DM tipe 2. Apalagi, perubahan kesehatan ini dapat menimbulkan perubahan kondisi fisik dan psikologis bagi penderita.

Perubahan kondisi fisik pada pasien DM tipe 2 akan mengakibatkan perubahan kondisi psikologis. Perubahan psikologis yang terjadi pada pasien DM tipe 2 seperti gangguan harga diri. Hal ini akan membuat pasien DM tipe 2 mengalami ketidakpercayaan diri sehingga dapat menimbulkan perasaan bersalah atau menyalahkan, perilaku menyendiri atau menghindar dari orang.

Karena itu, ketiganya menawarkan solusi dengan melaksanakan Acceptance And Commitment Therapy (ACT). ACT merupakan salah satu bentuk Cognitive Behavior Therapy (CBT) yang cukup efektif dalam meningkatkan aspek psikologis yang lebih fleksibel atau kemampuan untuk menjalani perubahan yang dialami agar kadar gula darah dapat dikendalikan.

“Pemberian ACT dapat mempengaruhi perilaku penderita DM tipe 2 untuk melakukan pengelolaan penyakit DM sesuai dengan hal-hal yang sudah disarankan oleh petugas kesehatan. Sehingga pemderita bisa lebih meningkatkan kualitas hidupnya walau menderita DM,” kata Difran.

Intervensi ACT mampu membangun respon yang lebih positif pada aspek komunikasi dengan pasangan atau keluarga, meningkatkan pemahaman hubungan melalui aspek spiritual dan dukungan pasangan/keluarga yang menjadi dasar dan motivasi utama agar mencapai penerimaan kondisi sakitnya dan berkomitmen untuk melakukan terapi.

Proses program ACT membantu responden menstabilkan kadar gula darahnya. Pada sesi pertama hingga sesi ketiga responden diajak untuk mengidentifikasi masalah, memahami bagaimana masalah timbul, mengidentifikasi potensi diri untuk menangani masalah tersebut dan responden diajari beberapa teknik baik dengan metode distraksi maupun relaksasi untuk meringankan beban pikiran maupun fisik.

Metode distraksi dengan berdzikir atau melakukan diskusi problem solving, sedangkan metode relaksasi dengan olahraga ringan, meditasi dan latihan nafas dalam sehingga perasaan rileks, segar, bugar dan sehat muncul pada individu. Seluruh perasaan tersebut dapat muncul secara instan dan relatif cepat dan dapat diulang.

“Di RSI A Yani, kami membuat peer group dan dilakukan penerapan ACT selama 4 sesi dengan 1 sesi tiap minggu dan setiap pertemuan selama 30 sampai 45 menit. Permasalahan yang ditemukan kamintawarkan solusinya,” tandas Difran.

Tim Pengmas juga memberikan pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus sebagai salah satu upaya promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang diabetes melitus. Juga melakukan pemeriksaan screening tentang kadar gula darah secara gratis sebagai salah satu cara untuk mengetahui / deteksi dini penyakit DM baik tipe 1 maupun tipe 2. “Bahkan kami ajari pasien senam kaki diabetes sebagai salah satu upaya rehabilitatif untuk menurunkan kadar gula darah dalam tubuh,” ungkapnya.

Ke depan, para dosen ini ingin memberikan pelatihan ACT ini kepada para perawat di RSI A Yani, karena pasien DM di rumah sakit milik Yarsis itu banyak menerima pasien DM.

Dikatakan Difran, materi pelatihan ACT akan diberikan secara serentak kepada perawat RSI Surabaya A Yani. Dengan mengetahui teori tentang ACT diharapkan peserta pelatihan akan dapat memahami tahapan-tahapan dalam pencegahan dan penatalaksaan diabetes mellitus, sehingga diharapkan penerapannya dapat sesuai dengan teori.

Setelah itu baru diberikan Simulasi ACT. Simulasi akan dilaksanakan setelah peserta memahami teori. Dengan adanya simulasi ini diharapkan peserta dapat mengaplikasikan teori ACT secara maksimal.”Nantinya kami akan berikan pendampingan penerapan Acceptance And Commitment Therapy pada kegiatan di RSI Surabaya A Yani,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry